38. PILIHAN HATI

4 1 0
                                        

     Setelah kericuhan yang terjadi mulai mereda kini mereka memutuskan buat masuk ke aula musik tetapi seakan mendapatkan kejutan yang tidak pernah disangka bagi Kenny membuat Kenny menahan emosinya yang mulai membara.

    "ZIYA!!!" teriak Kenny lantas menarik tangan Ziya untuk menjauh dari peralatan musik.

     "Gitar gue, loe apa kan gitar gue?" tanya Kenny melihat gitarnya yang sudah berseripah di ubin.

     "Gue benci sama loe karena loe udah mempermalukan gue di depan umum. Mungkin dengan ini, loe gak akan melupakan kejadian ini." Ziya mulai panas dingin.

      "Kalau loe benci sama gue gak perlu loe rusak gitar gue, memangnya apa hubungannya gitar sama kebencian loe?" tanya Kenny.

      "Biar loe gak lagi berani jahat sama gue!" pekik Ziya dengan menekan kalimantnya.

      "Tega banget ya loe bilang gitu, gak nyangka gue ..., ternyata gue sudah salah buat milih loe. Loe tega buat mematahkan gitar milik almarhum abang gue, loe gak tahu itu sangat berarti bagi gue." Kenny memeluk gitarnya yang kini sudah menjadi dua bagian.

      Galang dan Faldiansyah tidak menyangka akan berakhir seperti ini dan mereka tidak tahu akan berbuat apa lagi.

      "Loe tahu itu berarti, tapi kenapa loe gak pertahankan hubungan ini." Ziya masih memohon.

     "Loe gak salah ngomong, pertahankan? Apalagi yang harus dipertahankan, jelas-jelas loe yang udah merusak keyakinan gue." Kenny berdiri dan menghadap Ziya.

     "Awalnya gue yakin kalau loe jodoh gue tapi ternyata gue salah menempatkan loe di hati gue. Gue kira loe itu baik, manis, cantik luar dan dalam tetapi faktanya loe gak jauh berbeda sama pejabat yang menggelapkan uang rakyat." Kenny menusuk Ziya dengan caciannya.

     Ziya menampar lagi pipi Kenny. Namun, kali ini Kenny berhasil buat menghalanginya.

     "Loe itu gak seberartinya dengan gitar gue, memang awalnya gue janji buat ngejagain loe tapi loe gak sama seperti gitar gue yang patut dijaga karena loe gak layak dapatkan itu semua." Kenny masih menggeman tangan Ziya yang terangkat.

     "Loe kok gitu, loe gak tahu gue udah susah payah buat dapatkan hati loe." Kali ini Ziya menepis lengan Kenny dan menunduk dihadapan Kenny.

      "Mau apapun cara loe sekarang itu percuma karena tidak akan merubah niat hati gue karena hati gue telah memilih satu wanita yang telah lama gue suka." Suara Kenny mereda meski dia masih dongkol melihat gitar kesayangannya dirusak oleh Ziya.

     "Jangan bilang kalau cewek yang loe maksud itu, dia!" Ziya menunjuk ke arah Lita.

      "Memangnya kalau iya kenapa?" tanya Kenny sesaat terdiam."Dia lebih layak buat dicintai karena gue juga sudah suka sama dia sejak lama, dulu gue mencintai loe sama Lita tapi sekarang gue mengerti bahwa Lita lah yang berhak gue cintai." Kenny mengandeng tangan Lita.

      Delna dan Faldiansyah pun saling tersenyum mereka diam-diam mencuri pandang karena sebuah skenario dari Ziya. faldiansyah dan Delna tidak bisa lagi melanjutkan hubungan mereka.

      "Eh, Ziya ..., loe kalau mau pergi silakan atau pindah dari kampus ini karena nama loe udah tercoreng dan mungkin bentar lagi Dosen bakal manggil loe dan mengeluarkan loe," cibir Galang.

     Safa mengangkat alis dan mengeser tubuhnya untuk memberi cela untuk Ziya keluar dari aula musik.

      Fika dan Safa yang masih terdiam kemudian ikut menggoda Kenny dan Lita.

      "Cie, yang dulu berantem sekarang baikkan." Safa kembali menjaili Lita supaya pipinya merah semu.

       "Ken, nyanyiin dong Litanya." Fika memberikan gitar yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Sedangkan dia, Galang dan Faldiansyah sudah duduk di karpet untuk melihat momen romantis mereka.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang