43. MENGUJI HATI

5 3 0
                                        


    Di ruangan yang serba nuansa putih dengan lampu terang dan tirai hijau menutupi sebagian ruangan membuat Faldiansyah tidak nyaman berlama-lama di dalam ruang itu dan ingin rasanya cepat pulang dan beristirahat di rumah.

     "Fal, gimana kondisi loe?" tanya Safa yang sejak semalam menunggu Faldiansyah karena Faldiansyah mengalami pendarahan dibagian kepala.

     "Safa, loe di sini?" tanya Faldiansyah dan bukan menjawab pertanyan dari Safa malah berbalik tanya.

     Safa mengangguk sambil mengambilkan segelas air putih.

     "Minum dulu." Safa memberikan pada Faldiansyah. "Gue emang nungguin loe tapi buat mengantikan Delna yang katanya semalam sakit perut." Safa menjelaskan.

     "Delna?" gumam Faldiansyah, dia tidak tahu bahwa Delna masih peduli dengan dirinya.

     "Gue tahu kok, Delna sebenarnya masih sayang sama loe tapi dia cuma malu aja buat mengungkapkan hatinya." Safa mengambil alih gelas yang sudah tidak ada isinya lantas menaruhnya di atas meja.

     Faldiansyah mencoba mencerna kata-kata dari Safa. Dia tahu betul sikap Safa meski dia tidak pernah bertanya tentang apa yang Safa inginkan. Namun, dia tahu tentang isi hatinya.

     "Sa, gue minta maaf ..., mungkin loe masuk ke dalam hidup gue awalnya cuma buat pelarian tapi gue sadar, gue sadar kalau hati bukan cuma buat mainan dan gue suka sama loe bukan Delna." Faldiansyah mengutarkan isi hatinya.

    Di samping mereka berbicara, Delna tengah berdiri di ambang pintu yang tertutup sesekali mendengarkan pembicaraan mereka.

     Safa mengedipkan kedua mata karena tidak percaya bahwa Faldiansyah akan berkata seperti itu saat dalam kondisi sakit.

     "Gue ..., gue ...." Dengan merangkai kalimat yang ada di hatinya, Safa tetap tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang tepat selain menyebut dirinya sendiri.

     Faldiansyah memegang tangan Safa. "Gue tahu, dulu emang kita tidak pernah akur dan gue juga tidak pernah peduli dengan loe tapi sekarang gue peduli, gue peduli sama loe." Faldiansyah kini mengenggam erat tangan Safa.

      "Sejujurnya, gue tidak bisa menolak loe tapi gue tidak bisa berada di tengah hubungan loe sama Delna." Safa melepaskan tangan Faldiansyah.

     "Sa, Delna itu masalalu gue dan gue tidak bisa balikkan sama dia. Apalagi sekarang gue tahu bahwa Delna adalah sepupunya Galang. Gue gak bisa menjalin hubungan sama dia," jelas Faldiansyah, wajahnya tertunduk melihat selimut berwarna hijau rumput yang membalut kakinya.

     "Kenapa Fal?" tanya Safa ingin mencari jawabannya.

      "Gue gak bisa menjalin hubungan dengan Delna karena nanti jika gue dan dia berhubungan lagi seperti dulu, Galang akan meminta bermacam-macam hal. Loe tahu kan?" tanya Faldiansyah mencoba memberi pengertian.

     Safa mengangguk, dia sebenarnya ingin bertanya banyak hal tetapi tidak memungkinkan untuk kondisi Faldiansyah saat ini jika dilontarkan banyak pertanyaan.

      Delna membuka pintu setelah tahu mereka sudah diam. Namun, diam-diam dia terluka dengan penjelasan Faldiansyah tetapi dia juga tidak bisa memaksakan hati seseorang. Apalagi masalah asmara, mungkin saja saat ini dia sedang diuji supaya hatinya merelakan Faldiansyah untuk orang lain.

     "Maaf gue ganggu kalian?" tanya Delna, cukup canggung.

     "E ..., enggak kok, kita juga gak lagi apa-apa. Loe udah sembuh?" tanya Safa gugup.

     "Udah, oh ya ..., tadi gue sempat ke kamar Ziya dirawat." Delna meletakan buah-buahan sambil bercerita.

     "Kondisinya parah banget, wajahnya sudah terbalut perban dan luka di tangan dan kakinya juga." Delna melanjutkan seraya mengambil jeruk tetapi dia letakan kembali karena dia tidak ingin melukai hatinya Safa yang jelas-jelas sudah menjadi pilihan hati dari Faldiansyah.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang