Terlihat wajah senang dari siswa-siswi SMA Bintara khususnya bagi anak-anak kelas tiga karena akan melangsungkan wisuda di hari ini. Bukan hanya mereka saja yang terlihat senang tetapi juga orang tua mereka yang juga ikut bangga.
Prosesi wisudawan dan wisudawati akan berlangsung sebentar lagi tetapi Ziya masih menunggu orang tuanya buat hadir ke acara tersebut.
"Ziya, kamu masih di sini?" tanya Kenny.
"Mama belum datang," jawab Ziya menampakkan raut wajah sedih.
Kenny tidak terbiasa melihat wanita menangis, dia mencoba buat menghibur Ziya.
"Kamu jangan sedih gitu, aku selalu ada." Kenny merangkul Ziya.
Ziya pun membalas rangkulannya tidak peduli pada mereka yang menatap iri pada dua pasangan itu yang tampak serasi.
"Ngomong-ngomong, papa kamu akan datangkan?" tanya Kenny.
"Mungkin tidak, dia sibuk dengan bisnisnya." Ziya melihat manik mata Kenny.
Kenny mengerti, tetapi yang dia herankan setiap kali Kenny ke rumah Ziya. Dia tidak pernah bertemu bahkan mengenal papanya.
"Mungkin beliau akan kasih kejutan." Kenny mencoba berpikir positif.
Ziya sempat berpikir kemungkinan besar itu yang akan diberika papanya di saat kelulusan ini. Karena papanya pernah berjanji pada dia waktu itu.
Suara microphone terdengar, Ziya dan Kenny bergegas ke aula dan duduk bersama teman-teman mereka.
"Kemana aja loe, gue cariin gak ada." Galang melihat Kenny yang baru saja duduk di depannya.
"Biasa, gue ketemuan dulu sama Ziya."
Prosesi wisuda akan berlangsung, Kenny melihat mamanya yang datang bersama papanya yang di dorong menggunakan kursi roda.
"Papah," guman Kenny pelan. Rasanya dia ingin memeluk papanya karena atas dukungan dan gemblengan beliau, Kenny berada di aula tempat wisuda akan dilangsungkan.
Suasana ramai dan hiruk piuk tembang kesenian yang di pentaskan oleh adik kelas mereka membuat suasana wisuda meriah. Setelah rangkaian-rangkaian acara selesai kini sambutan bagi anak kelas tiga dan Kenny tidak tahu tentang rencana itu yang dia tahu bahwa saat ini Lita bersama dengan Safa tengah berdiri di atas panggung setelah MC memanggilnya.
Matanya bersinar karena lampu yang menyoroti mereka, Safa membawa biola dan mulai melantunkan melodi sedangkan Lita terlihat sedang menarik napas.
"Lepaskan satu persatu sayapmu." Lita kembali terdiam ketika biola mulai bergesekan.
"Kawan ..., akankah terulang waktu ini ..., dimana saat kita tertawa, berpelukan dan bernyanyi bersama." Lita membayangkan ketika dia sedang dihukum karena melakukan keributan di kelas dan Kenny yang gagal menyanyi karena liriknya tidak hafal.
"Jika saja tiga tahun itu tidaklah sesingkat ini mungkin tidak ada perkelahian diantara kami. Wajar ..., sebagai seorang teman. Ada kalanya kita berbuat gila ..., sesekali berbohong dan membuat bermacam-macam alasan untuk tidak mengikuti pelajaran."
"Hal semacam itu tidak ...." Lita berhenti karena dia lupa dengan tulisan yang dia buat sendiri.
Galang berdiri dan menyambung kalimat itu dan membuat semua mata memandangnya.
"Tidak akan terulang lagi kawan ..., hei, hei, hei. Biarkan jarum-jarum waktu membidik angan kami supaya kami ingat bahwa perkara akan ada cerita yang tertinggal."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI DUA HATI
No FicciónPertengkaran selalu saja terjadi pada seorang siswa bernama Kenny dan juga Rizenalita seorang Gadis. Namun, prihal cerita mereka terjebak oleh dua sisi hati yang menjerumuskan keduanya hingga membuat Kenny beranggapan bahwa dia mencintai Rizenalita...
