23. PENYELIDIKAN

9 4 0
                                        

    Faldiansyah dan Lita sudah sampai rumah sejak lima belas menit lalu tetapi Faldiansyah masih terdiam di depan gerbang rumah Lita membuat Lita kebingungan karena tidak enak untuk menyuruhnya pulang.

    "Loe mau mampir?" tanya Lita sembari mempersilakan.

      "Enggak, rumah gue deket sama rumah loe ..., gue cuma mau tanya soal dompet gue yang ada di atas meja ruang tamu loe." Faldiansyah merasa tidak enak hati buat menanyakan hal kecil itu tetapi tetap saja Faldiansyah merasa kehilangan.

       "Ohh, itu dompet loe ..., kenapa gak bilang pas di sekolah tadi," ucap Lita.

       "Gue lupa, soalnya semalam Kenny bilang mau ke rumah loe buat ngambil dompet gue tapi ternyata dia ada urusan lain," terang Faldiansyah sembari turun dari motor.

       "Lagian kenapa sih loe, malam-malam teriak-teriak histeris gitu ..., apa lagi nonton film horor?" tanya Faldiansyah mulai kepo.

      Terdengar embusan napas kesal dari Lita."Huft ..., Gara-gara ponakan gue, masa muka gue dibaluri cabe yang ada di dalam mangkuk, dikira masker maminya kali ..., lah, muka gue jadi korban." Lita menjelaskan.

     Faldiansyah tertawa mendengar penjelasan dari Lita. "Pantes aja, waktu gue panggil-panggil yang keluar kakak loe sama suaminya." Faldiansyah menutup mulut setelah tahu bahwa Lita sedang melototinya.

       "Tapi ..., enakkan, masker gratis," ledek Faldiansyah.

       "Enak dengkul loe, muka gue panas, merah hampir aja melepuh gara-gara ulah usil ponakan gue!" kesal Lita. "Ya udah, loe mau masuk atau nunggu di sini?" tanya Lita memastikan.

      "Gue di sini aja, ambilin gih." Faldiansyah pun menunggu Lita masuk dan keluar membawa dompetnya.

       Hanya berselang beberapa menit, setelah Faldiansyah membalas pesan dari Kenny. Lita terlihat dari balik gerbang.

      "Ini dompet loe, tapi maaf ni ..., kayaknya uang loe diambil ponakan gue soalnya tadi maminya ngira itu dompet gue." Lita menjelaskan sembari menyodorkan dompet berwarna hitam pada Faldiansyah.

      "Gak masalah, gue iklas." Faldiansyah mengambil alih dompetnya dan bergegas pulang karena memang rumahnya hanya berjarak lima langkah dari rumah Lita.

       Dengan rasa capek, Faldiansyah memarkirkan motornya dan duduk sejenak di depan untuk membuka dompetnya karena dia merasa punya utang pada Kenny dan ingin mengembalikannya. Namun, begitu melihat isi dompet, Faldiansyah menutup matanya pake tangan kiri.

     "Uang gue ..., tinggal seratus ribu?" gumam Faldiansyah sesekali menutup mulut yang mengaga terkejut.

       Lita yang membuntuti Faldianyah menahan tawa tapi dia hanya bisa menahannya karena dia juga merasa bersalah.

      "Fal, besok gue ganti!!!" teriakkan itu justru membuat Faldiansyah malu karena ketawan Lita.

      "Ponakan gue emang nakal, sekali jajan habis dua ratus ribu!!!" Lita masih teriak-teriak di depan gerbang dan karena merasa malu, Faldiansyah pun turun tangan untuk mencegah Lita buat meneriakinya.

      "Hust!!!" sambil menempelkan ibu jari di mulutnya.

      "Gak usah berisik, dikira jualan ember." Faldiansyah membuka gerbang dan melihat Lita sudah terkekeh.

     "Gue gak masalah, yang masalah gue harus ke atm buat ngambil uang, M-banking gue lagi eror," jelas Faldiansyah tanpa diminta oleh Lita.

     "Ya, ya, ya, gue paham kok ..., ini uangnya gue kembalikan." Lita menyodorkan dua ratus ribu."Gak tega gue, lagian nanti malah jadi utang gue," lanjut Lita.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang