Di kelas IPA-3 keributan terjadi sejak dua puluh menit lalu karena Delna terus mencibir Ziya yang entah bagaimana ceritanya mereka bertengkar hanya karena persoalan spele.
"Loe gak usah muna deh, awalnya loe deketin Vino terus Kenny terus Vino terus siapa lagi yang akan jadi korban selanjutnya?" tanya Delna yang masih bersunggut-sunggut membuat kegaduhan di kelas.
"Loe kenapa sih gitu aja di permasalahkan, bukannya loe yang minta gue buat deketin Kenny!" bantah Ziya sambil melempar buku tepat di wajah Delna.
Sorak-sorai terdengar rusuh tetapi karena jam pertama kosong dan kelas terlalu jauh dari ruang kantor sehingga semua siswa menikmati adegan itu layaknya menonton serial televisi.
"Loe gak usah lempar-lempar, emang nyatanya loe itu suka nempolnanri," cercah Delna yang sudah muak melihat perilaku Ziya selama ini."Nepol kanan nepol kiri pun jadi." Delna melanjutkan perkatannya sambil memoyongkan bibirnya.
"Jaga ya mulut loe, loe lupa ..., loe yang udah deketin gue sama Kenny terus loe juga yang bikin gue sama Kenny berantem gara-gara Vino," imbuh Ziya tak mau kalah.
"Heh, kalau gue suruh loe manjat gunung evers, loe mau lakuin?" tanya Delna sambil duduk seraya mengangkat alis satu."Ingat, loe itu bukan korban di sini tapi gue, gue yang udah relain Vino jalan berdua sama loe lalu waktu gue deket sama Kenny, loe langsung datang bikin Kenny luluh dengan omongan berbisa loe." Delna terus berbicara tak lagi peduli sama sorak sorai semua siswa dan siswi.
"Ya ..., mungkin semua cowok suka yang cantik kayak gue jadi loe harus terima kalau loe itu cuma bayangan gue," jawab Ziya santai lantas duduk di meja paling depan.
"Oh, gila bener loe ngomong gitu, kalau loe gak kebantu skrincare wajah loe itu gak beda sama gue, gue emang hitam tapi gue masih punya urat malu yang gue sembuyikan." Delna membuka tasnya untuk mencari kesibukannya sendiri disela mulutnya ngoceh kayak jalak kurang makan.
"Terus ..., mau loe apa? Kalau Kenny milih gue wajar, gue cantik, modis, bergaya, care, cute dan gue juga up to date." Ziya menyilakkan rambutnya.
"Ingat loe itu bukan aplikasi jadi gak perlu di update," seloroh Delna."Gue mau kita bersaing buat buktikan bahwa gak semua cowok itu suka sama yang cantik." Delna lantas berjalan ke depan dan menantang Ziya.
"Oh, jadi ..., persahabatan kita hancur gara-gara loe jeoules ke gue karena gue lebih banyak yang suka dibandingkan loe?" tanya Ziya dan menyalami tangan Delna untuk menyetujui persaingan mereka meluluhkan seorang pria.
Lita yang sejak tadi diam di ambang pintu mendengar semua percakapan mereka. Namun, dia tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka yang jelas-jelas kelas mereka berbeda.
"Loe ngapain di sini?" tanya seseorang mengagetkan Lita.
Lita yang termangu pun menyadari kedatangan seseorang yang tidak asing baginya.
"Lah, loe ngapain di sini?" tanya Lita balik karena melihat Faldiansyah yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Gue di suruh Bu Milla buat ngambil bukunya yang ketinggalan di sini lagian loe di suruh ngambil aja lama banget," jelas Faldiansyah seraya masuk begitu saja karena memang tidak ada guru.
Ziya melihat Faldiansyah yang berjalan ke arah meja guru.
"Del, mantan loe tu, tiba-tiba datang gak pake salam, gak pake sapa pula, sadis ternyata." Ziya dengan angkuhnya melontarkan kalimat yang paling dibenci sama Faldiansyah.
Setelah mengambil buku, Faldiansyah berjalan ke arah meja Ziya yang berada di depan papan tulis.
"Eh, gue udah salam kali, kalian aja yang gak denger, berisik sih, makanya punya telinga gak usah ditutup sama gibah." Faldiansyah menjawab dengan sombong karena dia merasa tidak bersalah.
"Wah, songong ..., eh, Del ..., loe kok bisa sih pacaran sama orang hutan kayak dia," sindir Ziya, mulutnya tak jauh berbeda dengan Galang.
"Loe perlu asupan bawang kayaknya biar mulut loe bisa terkendali, gue gak songong jelas-jelas yang songong itu loe dan Delna." Faldiansyah menunjuk Delna yang tengah duduk bersantai.
"Ngapain loe nyebut nama gue!" sinis Delna."Loe itu gak ada apa-apanya sama Vino, jadi gak usah berlagak." Delna pergi keluar dan diikuti oleh Faldiansyah.
"Main loe kasar Del, gue salut sama loe. Moga Vino cepat sadar bahwa loe itu cewek matre yang bisanya gesek-gesek dompet orang lain, nyesel gue kenal loe." Kali ini Faldiansyah mengeluarkan semua unek-uneknya setelah berhasil melewati masa amarahnya dia kembali ke kelas karena tidak ingin lagi mendengar suara Delna.
***
Di dalam kelas Lita tidak bisa konstrasi, pikirannya masih terniang-niang ucapan Delna dan Ziya bahkan dia takut untuk membicarakan hal itu pada Kenny yang jelas-jelas pria itu memiliki karakter yang main meski tidak jarang juga Kenny membuat dia kesal tetapi Lita tidak tega untuk menyembunyikan kenyataan itu. Walaupun dia tidak mendengar dari awal pembicaraan Delna dan Ziya tetapi intinya semua yang di dengar oleh Lita adalah fakta.
"Lita ..., Lita!!!" panggilan berulang kali itu tidak terdengar oleh Lita sampai saat Bu Milla menaikkan beberapa nada tinggi untuk memanggil nama Lita.
"Eh, iya bu ..., tadi ya, Delta sama ..., sama apa ya?" Lita sempat berpikir tetapi Kenny lebih dulu menyaut ucapannya.
"Sama Ghani nikah di KUA." Kenny menyamber omongan Lita membuat semua tidak tahan melihat kelakuan mereka yanhmg kadang akur, kadang jutek, kadang jail, kadang saling sewot namun itulah nikmatnya masa-masa sekolah.
"Kenny, apa kamu sudah pahan yang ibu jelaskan?" tanya Bu Milla seraya berjalan ke depan whiteboard. "Makanya Lit, kamu jangan ngalamun terus," saran Bu Milla masih memiliki batas kesabaran.
"Baiklah, ibu akan beri tugas sepuluh soal dan kumpulkan tiga hari ke depan." Bu Milla memberi keputusan yang akurat sebab beliau tidak ingin anak didiknya menghabiskan waktu buat bermain.
***
Tempat nongkrong yang biasa buat manggkal Kenny dan dua temannya kini sudah di tempati Delna yang yang sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan kota.
"Eh, Ken ..., gue mau minta maaf atas kejadian waktu di car free day." Delna menyadari kedatangan Kenny dan teman-temannya sehingga dia berdiri dan berpaling berlawanan arah.
"Minta maaf, seorang yang egois dan dicap sebagai anak mami, minta maaf sama orang? Gak salah dengar gue?" sahutan itu bukan dari Kenny melainkan Ziya yang baru saja datang karena dia tidak ingin tersaingi walau dia tahu bahwa Delna tidak lah cantik sepertinya.
"Apaan sih loe, gue lagi ngomong sama Kenny, kenapa loe tiba-tiba nyrobot aja kayak kereta gak ada palang." Delna kesal dan berjalan ke arah Kenny.
"Ken, gue mau minta maaf sama loe, emang gue salah, gue salah karena menganggu hubungan kalian tapi loe harus tahu bahwa gue gak bermaksud buat menghancurkan hubungan kalian." Sudah cukup lebar Delna berbicara, Kenny memegang kedua bahu Delna dan menatapnya sekilas.
"Gue tahu loe itu baik, loe gak bakal bermaksud buat merusak hubungan teman loe sendiri tapi gue mohon, mohon dengan sangat ..., loe jangan menginjak kaki gue, sakit." Kenny menatap ke bawah diikuti oleh Delna yang sejak tadi sudah memasang wajah sedih dan terharu.
Faldiansyah dan Galang hanya bisa menunjukan gigi mereka yang putih dan tertata rapi.
"Eh, maaf, gak sengaja," ucap Delna sambil mengangkat kaki kanannya buat menjauh beberapa ceti dari kaki Kenny.
Ziya yang tak ingin kalah saing pun langsung melakukan aksinya.
"Sayang, aku lapar ..., ayo makan," ajak Ziya supaya menjauh dari Delna.
Sedangkan di jarak yang tidak terlalu jauh ada dua pasang mata yang mengintai mereka, dia bimbang dan tidak tahu untuk berbuat sesuatu supaya Kenny tidak terlalu berharap lebih dengan Ziya.
"Kasian loe Ken, loe itu gak salah tapi kenapa banyak banget masalah yang loe gak pernah sadari."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI DUA HATI
Não FicçãoPertengkaran selalu saja terjadi pada seorang siswa bernama Kenny dan juga Rizenalita seorang Gadis. Namun, prihal cerita mereka terjebak oleh dua sisi hati yang menjerumuskan keduanya hingga membuat Kenny beranggapan bahwa dia mencintai Rizenalita...
