Dokter membantu mengantikan perban di kepala Faldiansyah yang sudah lima jam belum sempat diganti dan dibantu oleh suster yang mendampingi dirinya.
Di luar ruangan, Fika, Lita dan Delna memutuskan untuk melihat keadaan Ziya karena Ziya saat ini tidak memiliki siapapun selain mereka.
"Fik, loe gak gerah memakai kerudung?" tanya Lita disela perjalanan mereka menuju ruang UGD.
Fika menautkan alis dan bertanya-tanya dengan maksud ucapan Lita.
"Enggak, memang dalam agama gue diajarkan memakai kerudung guna menutup aurat." Fika menjelaskan seraya membuka pintu karena mereka sudah sampai di UGD.
Lita pun tersenyum. Entah kenapa dirinya begitu antusias mendengarkan penjelasan dari Fika.
"Memangnya kenapa kalau memakai pakaian seperti gue?" tanya Lita sembari menunjukkan pakaian yang dia pakai sebuah sweeter pink dengan celana panjang dan rambut tergerai.
Fika duduk seraya menyeret satu kursi lagi buat Lita singgahi dan mereka melanjutkan cerita di samping Ziya yang lagi tidak sadarkan diri.
"Tidak masalah sih, pakaian apapun jika tidak mengumbar aurat itu tidak masalah tapi dalam agama gue emang dianjurkan memakai kerudung." Fika mencoba menjelaskan hati-hati supaya Lita tidak merasa tersinggung.
Delna yang baru saja dari kantin pun menyusul mereka sambil membawa tiga air mineral dan biskuit.
"Kalian pasti lapar, gue bawain cemilan." Delna memberikan pada Lita dan Fika.
"Baik banget sih loe, pantes aja Galang gak pernah marahin loe," puji Lita sambil membuka biskuit.
Delna mengaruk tengkuk sesekali menyeruput minumannya karena merasa dehidrasi.
"Galang pernah sih marahin gue, gara-gara gue pernah merusak laptopnya." Delna menjawab setelah meneguh minuman.
Di sela percakapan mereka, Fika terus merapalkan doa untuk Ziya supaya Ziya tersadar dari koma.
"Ohh, jangan bilang pas Galang marah-marah di kelas gak jelas itu gara-gara loe," selidik Lita.
Delna terkekeh. "Dia marah di kelas juga?" tanya Delna.
Lita mengangguk sambil membuka tutup botol.
"Ho,o. Dia marah-marah soalnya semua file presentasinya belum dipindah ke flasdisk terus nyalahin kelompok gue, katanya gue gak becus buat ngerjain tugas sama Safa juga kena imbasnya." Lita mencari-cari sosok Safa tetapi dia tidak ada di sana.
"Eh, Safa kemana?" tanya Lita masih menoleh ke kanan dan kiri.
"Dia lagi nungguin Faldiansyah, Galang juga di sana." Delna menjelaskan.
Fika yang sejak tadi merapalkan doa sambil mengenggam tangan Ziya merasakan ada gerakan tangan dan membuat Fika terkejut.
"Eh, eh, Ziya sadar loh ..., sadar dia." Fika memastikan sambil memegangi lagi tangan Ziya sedangkan Delna dan yang lainnya menyudahi obrolan mereka.
"Syukur kalau gitu, jadi dia biar cepat tanggung jawab." Delna menimpali ucapan Fika.
"Astagfiruallah, Delna. Ziya kan teman kita juga," bela Fika.
Lita mengangguk tetapi tidak dengan Delna yang sudah cukup sakit hati dengan perlakuan Ziya. Delna terdiam sejenak lantas pikirannya seakan kembali ke masa dimana Ziya memperlakukan dirinya tidak manusiawi.
"Gubrak!!!"
Sebuah kursi terjungkir di lantai akibat tendangan dari Ziya. Meskipun Ziya dikenal sebagai cewek feminim tetapi kelakuannya diluar cewek pada umumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI DUA HATI
Non-FictionPertengkaran selalu saja terjadi pada seorang siswa bernama Kenny dan juga Rizenalita seorang Gadis. Namun, prihal cerita mereka terjebak oleh dua sisi hati yang menjerumuskan keduanya hingga membuat Kenny beranggapan bahwa dia mencintai Rizenalita...
