46. TRAGEDI AIRLINE

7 3 0
                                        

      Di hutan yang luas tidak memungkinkan orang selamat dalam insiden tersebut karena banyak orang yang tertimbun badan pesawat dan meninggalkan cercahan darah.

     Dalam berita yang beredar dan Tim SAR yang dikerahkan untuk membantu penyelamantan dan mencari korban yang mungkin saja selamat dari jatuhnya pesawat itu tidak mudah menemukan satu persatu korban jiwa karena cuaca esktrim meskipun hanya beberapa penumpang saja tetapi tetap tidak mudah untuk pencarian.

     Di tempat lain, Galang bagi syok mendengar berita itu karena yang dia ketahui bahwa Kenny juga berada di dalam pesawat yang kini sudah menjadi kepingan besi.

    "Fal, Fal, pesawat yang ditumpangi Kenny jatuh." Galang menunjukkan layar ponselnya karena dia melihat melalui live berita di media sosial.

    Faldiansyah mengucek mata dan memastikan bahwa pesawat yang dia lihat bukanlah pesawat yang mengantar Kenny pulang.

    "Apa bener kalau Kenny naik pesawat ini?" tanya Faldiansyah memastikan.

     "Iya, karena gue sempat teleponan sama dia dan katanya dia sudah dalam perjalanan." Galang kini sudah kehabisan kata-kata.

    Lita, Delna dan Fika mendengar berita jatuhnya pesawat R-0067 dari Safa karena kebetulan Safa habis dari musola dan pergi ke kantin dan disanalah Safa melihat tragedi jatuhnya pesawat itu.

     Mengenaskan, semua seakan menjadi helai-helai daun yang jatuh dari tangkai dan tidak mampu menyelamatkan diri bahkan banyak anak yang meringkuk saat ditemukan oleh Tim SAR.

     Suara-suara hewan liar pun menambah kecengraman suasana di hutan Kalimantan.  Sekitar lima puluh tim SAR dikerahkan untuk mengevakuasi korban yang meninggal dan mencari sisanya di reruntuhan pestawat.

     Lita menelan saliva, Pak Halim yang baru saja memasuki ruangan ICU pun bergetar mendengar kabar yang beliau lihat dan dengar.

     "Ya Allah, cobaan apa lagi ini ..., bagaimana bisa satu keluarga ditimpa masalah, Ya Allah, hamba yakin ..., Engkau sedang menguji dengan peristiwa ini." Pak Halim mencoba menenangkan dirinya.

    Lita yang sudah mualaf pun ikut berdoa bersama untuk keselamatan Kenny. Meski baru semalam dia berpindah agama tetapi hatinya kini begitu terasa tenang.

    "Pah, gimana nasib Kenny?" tanya Lita. Dia ingat betul ketika Kenny mengajaknya untuk menjalin hubungan yang serius, dia malah seakan mengabaikannya tetapi sekarang dia merasa kehilangan sosok Kenny.

    "Papa gak tahu, Lit. Kita berdoa aja." Pak Halim masih mencoba tenang. Dia bingung ingin menghubungi siapa saat ini karena Kenny sudah tidak memiliki siapapun selain mereka.

     Dalam hitungan menit, berita itu telah tersebar ke penjuru dunia karena memang perkembangan teknologi yang semakin cepat dan akeses informasi yang sudah serba digital.

     Siang ini, seakan meng-klim bahwa tragedi jatuhnya pesawat menjadi momen yang tidak terlupakan dimasa pandemi seperti ini. Pak Nasrul yang kala itu melihat berita diacara televisi dan membaca nama-nama korban yang sudah di temukan itu tidak mampu berkomentar selain menunjukkan linangan air mata karena melihat peristiwa yang sudah lama tidak terjadi tahun ini.

      ***

     Siang berganti sore dan  Faldiansyah telah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah cukup membaik begitu juga dengan Lita. Meski dia masih merasa sesak napas tetapi tidak dia hirukan karena saat ini yang perlu dia pikirkan hanyalah sosok Kenny.

      Di rumah Kenny semua orang sudah berdatangam untuk melakukan pemakaman almarhum Pak Galih dan almarhumah Bu Mike sedangkan yang mengurus pemakanan itu adalah Pak Halim karena beliau merasa bahwa Pak Galih sudah  beliau anggap keluarga sendiri sejak mereka duduk dibangku sekolah.

     "Del, tolong ambilkan yasin." Fika meminta tolong pada Delna yang tidak jauh dari tumpukkan ya'sin.

     Delna memberikan pada Fika, Galang dan Faldiansyah pun duduk di tengah-tengah jenazah Pak Galih dan Bu Mike begitu juga dengan Faldiansyah dan tanpa mereka minta. Mereka menangisi kepergian suami-istri itu.

     "Ya Allah, satukanlah mereka. Cinta mereka abadi sampai usia menutup perjalanan mereka di dunia." Faldiansyah bermonolong dalam hati. Dia masih ingat ketika Pak Galih mengajaknya bergurau dan Bu Mike selalu menyalahkan Galang dan membelanya lalu Kenny pasti akan merajuk karena orangtuanya selalu mengedepankan Faldiansyah.

     Lita terdiam dan terisak, jika dirinya saja merasa kehilangan bagaimana dengan Kenny. Kini dia sedang berjuang demi mempertahankan nyawanya sedangkan disini orangtuanya akan dimakamkan.

     "Ashalualla'ilahila'allah wa'asshaduanna muhammadan rossuluallah." Lita merapalkan syahadat yang diajarkan oleh Pak Kyai semalam. Pak Kyai yang rela datang demi menuntun dirinya dan Bu Jeslyn disamping itu Pak Halim merasa senang karena istrinya tidak lagi melarang Lita mengikuti jejak beliau.

      Suara merdu yang dilantunkan oleh semua warga yang datang menggema disetiap sudut rumah Kenny. Bu Ias begitu terpukul melihat nasib na'as majikannya yang meninggal beberapa hari tanpa diberitahu oleh Pak Dandang.

    "Pak, bapak kok tidak bilang sebelumnya kalau Pak Galih sama Bu Mike sudah meninggal?" tanya Bi Ias, airmatanya sudah deras mengalir.

    "Bapak juga tahu baru kemarin malam dan sekarang mereka sudah meninggal. Bapak juga menyesal, Bu." Pak Dandang mengusap ujung mata karena mengingat kebaikan dari Pak Galih sewaktu hidupnya.

    Safa menatap haru pada dua asisten rumah tangga yang sedang ikut membacakan surat yasin untuk almarhum majikannya.

    "Bi, Pak, maafkan kami karena tidak mengabari sebelumnya." Safa menjelaskan setelah pembacaan surat telah selesai.

     "Tapi kenapa kami tidak diberitau?" tanya Bi Ias sangat menyesal.

     "Bukan tidak ingin memberitahu tetapi waktu itu kondisinya sangat tidak memungkinkan. Ketika Pak Galih sama Bu Mike di bawa ke rumah sakit, Faldiansyah juga dirawat karena kekerasan yang dilakukan sama Ziya lalu Galang juga lupa untuk menelpon kalian." Safa menjelaskan secara rinci.

     "Tapi, kalau seperti ini saya yang sakit karena tidak bisa melihat majikan saya, saya berasa berdosa." Bu Ias kembali menangis sampai sesengguan.

    Safa memeluk Bi Ias dan mencoba menenangkannya supaya tenang dan ikut dalam pemakanan yang akan dilaksanakan sebentar lagi.

     Jam menunjukkan pukul 13:50 WIB semua persiapan sudah selesai dan mereka langsung pergi ke tempat pemakaman yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Kenny. Bi Ias dan Pak Dandang menatap sayu sepanjang jalan sambil terus menabur bunga di perjalanan mereka.

      "Semoga Kenny lekas ditemukan," ujar Delna pada Lita yang sejak berangkat hanya diam.

     Lita mengangguk dan kembali menabur bunga seperti yang dilakukan oleh Bi Ias dan Pak Dandang. Cukup membutuhkan waktu, mereka sampai ke pemakanan dengan cuaca yang mendung dan sedikit turun hujan sesekali kilatan menyambar.

     Ketika mereka masuk ke dalam pemakanan, mereka disambut oleh bau-bsu bunga kamboja dan deretan gundukan tanah yang terawat.

     Fika melihat gundukan tanah dekat lubangan yang akan ditempati oleh alhamrhum Pak Galih. Dia memabaca sekilas nama yang tertulis di batu nisan dan setelah pemakanan selesai dan membacakan doa terakhir. Dia membaca ulang tulisan di depannya itu bergantian dengan nama yang tertulis di batu nisan Pak Galih.

     "Andrea Pragalih?" gumam Fika dan hanya membaca depan dan belakangnya saja.

     Bi Ias mengangguk ketika Fika menatapnya sekilas.

    "Dia adalah kakak dari Kenny, Mas Andre kecelakan waktu mengantar Kenny ke acara ulangtahun temannya." Pak Dandang menjelaskan karena beliau telah bekerja lama di rumah Pak Galih.

    Lita menautkan kening, bibirnya bungkam dan hatinya teriiris mendengar penuturan dari Pak Dandang.

     "Astagfiruallah, suaratan takdir memang tidak ada yang tahu lantas bagaimana dengan Kenny sendiri, apa dia akan selamat?" tanya Safa pada dirinya sendiri.

    Peristiwa dan tragedi itu tidak pernah mereka lupakan, banyak hal yang terjadi dan banyak momen pahit yang mereka alami mungkin saja selesai atau malah sebaliknya.

****

  

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang