37. DUA RASA

6 2 4
                                        

      Setelah Semalaman melakukan jerit malam membuat Lita kurang tidur dan pagi ini dia terlentang begitu saja di koridor tanpa memedulikan orang sekitar yang melihatnya.

       "Kasian banget," gumam Kenny Ya baru saja dari toilet dan melihat Lita tengah tidur.

       "Pingsan dia?" tanya Faldiansyah sesekali menguap karena kurang tidur.

       "Gak tahu, tidur paling." Kenny masih bersikap bodoh amat. Dia merasa gugup ketika berada di sebelah Lita apalagi ketika Lita sedang tersenyum seakan senyuman itu tidak bisa dihilangkan dari matanya.

        "Sebaiknya loe gendong dia dan bawa pulang, soalnya gue mau ngater Safa dulu. Kasian dia," pinta Faldiansyah.

       "Yayaya, ini harusnya tanggungan loe, kan?" selidik Kenny.

       Faldiansyah mengangguk tetapi dia tetap memprioritaskan Safa.

        "Gue gak mau ninggalin Safa, ternyata dia orangnya baik, lucu meski dikit ngomong." Faldiansyah berbisik.

       Galang berdehem,"yaealah, yang semalam romantis gitu sekarang baper." Galang mencibir Faldiansyah.

       "Hust, apaan sih loe, emang bener yang Lita bilang, mulut loe kayak cewek," sloroh Faldiansyah.

      Galang menapok tubuh Faldiansyah sehingga dia hampir jatuh karena merasa badannya tidak ada daya buat menompang.

      "Loe apaan sih, gue jatuh ni. Gak tahu kalau mata gue ngantuk berat," celutuk Faldiansyah seraya pergi menemui Safa yang katanya tadi ingin mencuci muka dan Faldiansyah menunggu di depan pintu toilet.

      Di koridor kini hanya ada Kenny, Lita yang sedang tidur dan Galang yang sekarang lagi memainkan hp.

        "Bro, gue duluan ya ..., ada urusan." Galang berpamitan pada Kenny.

        "Terus ini siapa yang bawa pulang? Woy!!" teriak Kenny melihat Galang sudah jauh.

       "Cek, haruskah kejadian masalalu terulang lagi?" decak Kenny seraya mengendong tubuh Lita menuju mobilnya yang terparkir.

       Dengan susah payah, Kenny meletakan tubuh Lita di samping kemudi lalu dia memasangkan slim bet pada Lita. Namun, tiba-tiba detakkan itu seakan memberi isyarat bahwa perang akan segera dimulai.

      "Gue kenapa sih," gumam Kenny dalam hati sesekali melihat wajah Lita yang kini dekat sekali dari wajahnya hanya berjarak dua centi.

      Lita yang merasakan embusan napas lantas mendorong tubuh Kenny.

       "GUBRRAK!!!"
 
       "Aduh!!!" pekik Kenny merasakan sakit di punggungnya karena terbentur kaca mobil.

       "Loe mau macam-macam sama gue?" tanya Lita seraya menutup tubuhnya yang kini terbalut jaket milik Kenny.

      "Apa-apaan sih loe, gue mau ngater loe pulang. Loe gak mau kan tidur di kampus." Kenny mengibas-ibas bajunya dan kemudian memasang slim bet untuk segera pulang.

      "Lagian loe kenapa mendegus-degus gue? Kayak kucing tahu gak!" bentak Lita.

      "Idih, siapa juga yang ndenggusin loe, jangan PD." Kenny masih fokus dengan jalanan dan melihat banyak aktivitas orang yang sudah dimulai.

   Lita melipat kedua tangannya sambil memanyunkan bibir karena kesal sedangkan Kenny tidak lagi berbicara sampai mobilnya berhenti di rumah Lita.

      "Nah, udah sampai rumah ..., mau turun atau gue bawa pulang," ucap Kenny membuat Lita membulatkan mata.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang