Sudah 2 minggu saat diketahui hamilnya Olive di rumah sakit pada waktu itu, selama dua minggu ini juga sikap Toni sangatlah dingin dan juga acuh kepada Olive.
Dan selama dua minggu ini juga Olive masih bekerja sebagai sekretaris Toni, bahkan wanita itu berangkat dan pulang sendirian dalam kondisi hamil muda.
Namun Olive tidak mempersalahkan semua itu. Karena dirinya juga tidak ingin merepotkan Toni karena kehadirannya dan juga calon anaknya. Seperti halnya saat ini Olive memang sudah pulang dari jam 5 sore tadi. Namun sudah hampir satu jam ia menunggu di depan gedung perusahaan milik suaminya itu.
Bukannya Olive tidak ingin pulang namun sejak tadi pesanan taksi online ataupun ojek online selalu ditolak, bahkan saat Olive berada di pinggir jalan yang berada di depan perusahaan milik Toni tidak ada satupun taksi yang ingin berhenti saat Olive melambaikan tangannya.
Sampai hujan turun begitu deras membasahi kota batu, Olive masih berdiri sambil memegang ponselnya di depan gedung perusahaan milik Toni itu.
Bahkan sudah tidak ada para karyawan yang masih berada di kantor itu, "Gimana ini pulangnya." Gumam Olive sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"Mbak belum pulang?" Tanya seorang security yang bertugas menjaga di depan pintu kantor tempat dimana Olive bekerja. Olive hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum ramah di bibirnya.
"Nunggu taksi pak." Jawab Olive setelah beberapa saat tersenyum. Security itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan pertanda bahwa ia mengerti kenapa Olive belum juga pulang saat ini.
"Mbak nya tinggal dimana?" Tanya security itu kembali kepada Olive. "Saya tinggal di apartemen Royal Diamond Pak." Security itu membulatkan kedua bola matanya karena ia tahu apartemen Royal diamond adalah apartemen-apartemen milik pengusaha-pengusaha kaya.
"Ya sudah mbak saya permisi dulu." Olive hanya menganggukkan kepalanya pelan saat melihat security itu yang berpamitan kepadanya. Olive menatap ke arah parkiran bahkan di parkiran itu sudah tidak ada mobil ataupun motor yang biasanya terparkir di sana.
"Apa Toni juga udah pulang?" Tanya Olive yang tidak melihat Toni sejak mereka selesai meeting pukul tiga sore tadi.
Sedangkan di tempat lain seorang laki-laki baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melaksanakan sholat Maghrib sendirian, setelah sholat magrib laki-laki itu baru menyadari ada yang hilang dari apartemennya.
"Dimana dia?" Tanya laki-laki itu saat tidak mendapati sang istri berada di dalam apartemennya sejak tadi ia pulang.
"Kemana wanita itu?" Kini Toni mulai melangkahkan kakinya keluar dari apartemen. Toni nampak mencari Olive dari dapur, kamar mandi luar, hingga ke ruang tamu namun yang ia cari tidak ditemukan.
Dengan langkah lebar Toni kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di atas meja rias, Toni segera keluar dari gedung apartemennya menuju kearah mobilnya yang sudah terparkir rapi di parkiran apartemen.
Selama perjalanan mencari Olive laki-laki itu terus menghubungi nomor sang istri, namun tidak ada jawaban dari nomor yang ia panggil.
"Apa dia masih dikantor?" Tanya Toni pada dirinya sendiri. Karena memang sehabis meeting tadi Toni keluar dari kantornya karena ada urusan penting dan baru saja pulang pukul 17.30 sore tadi.
"Apa jangan jangan dia ketemuan sama kak Elvan." Kini pikiran Toni sudah tidak bisa berfikir positif lagi. Namun Toni masih melajukan mobilnya menuju ke arah kantor karena di dalam hati paling kecilnya ia yakin bahwa Olive masih berada di kantornya.
Dan benar apa dugaan Toni bahwa ada seorang wanita yang tengah berdiri di depan kantornya sambil memeluk tubuhnya sendiri, setelah memberhentikan mobilnya tepat di depan wanita itu Toni segera keluar dari dalam mobil tanpa payung sehingga membuat baju yang ia kenakan basah.
"Lo kenapa belum pulang?" Olive yang mendengar pertanyaan tiba-tiba dari seorang laki-laki yang berada di hadapannya itu segera mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok laki-laki yang menjadi suaminya itu tengah berdiri di hadapannya.
"Eh, kok lo kesini?" Tanya Olive yang masih bisa menampilkan senyum di bibirnya. Sampai-sampai Toni tidak percaya lagi bagaimana sebenarnya isi hati dari sosok wanita yang berada di hadapannya ini.
"Gue tanya kenapa lo masih disini?" Olive kembali menampilkan senyum tipisnya setelah itu mengusap wajahnya yang basah terkena oleh air hujan.
"Tadinya gue mau pulang, gue udah pesen taksi online udah pesan ojek online tapi selalu aja di cancel, terus gue juga udah cari taksi yang lewat di sini tapi nggak ada yang mau berhenti." Jawab Olive yang membuat Toni mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa lo nggak telfon gue?" Tanya Toni dengan suara penuh penekanan an. Olive yang mendengar itu hanya tersenyum sambil memeluk tubuhnya sendiri karena dingin.
"Sebenernya gue mau minta tolong sama lo buat jemput gue, tapi gue takut lo nggak mau akhir-akhir ini lo selalu ngehindarin gue bahkan kelihatannya lo marah banget sama gue. Dua minggu ini juga nggak mau tidur sama gue kan." Saat mengatakan itu semua airmata Olive kembali turun membasahi pipinya yang hal itu bisa dilihat dengan jelas.
Toni menghembuskan nafasnya kasar setelah itu menggendong istrinya, namun sebelum menggendong Olive terlebih dahulu Toni melepaskan jaket yang ia pakai dan memakaikannya ke tubuh Olive yang terlihat menggigil.
Toni segera memasukkan Olive ke dalam mobil setelah itu dirinya ikut masuk dan segera melajukan mobilnya menuju ke arah pulang, di sepanjang perjalanan Olive sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun bahkan wanita itu hanya menatap ke arah jendela yang terkena oleh air hujan.
Air matanya sejak tadi sudah turun membasahi kedua pipinya namun tak ada niatan untuk dirinya menghapus airmata itu, karena ia yakin Toni tidak akan melihat air mata yang keluar dari kedua matanya karena ia yang memalingkan wajah.
Namun Olive salah Toni melihat air mata itu dengan jelas, bahkan Toni dapat melihat tubuh Olive yang bergetar di sampingnya entah itu karena kedinginan ataupun karena menangis Toni sendiri tidak tahu.
Mobil Toni berhenti di parkiran apartemen yang ia tinggali bersama dengan sang istri, setelah membukakan pintu untuk Olive Toni segera menggendong tubuh kecil itu kembali untuk masuk ke dalam apartemen.
Sesampainya di dalam kamar Toni mendudukkan tubuh Olive di atas ranjang setelah itu melepaskan high heel yang masih melekat di kaki Olive, tidak lupa Toni juga melepas jaket yang sejak tadi berada di tubuh Olive.
"Sekarang lo ganti baju terus lo istirahat." Kata Toni dengan cepat namun Olive wanita itu tidak bergeming dari duduknya. Wanita itu malah semakin meneteskan air matanya saat mendapat perhatian dari Toni.
Tapi Olive segera menghapus air matanya saat mengingat mungkin Toni perhatian dengannya karena kasihan, Toni hanya menatap punggung Olive yang menjauh darinya gadis itu nampak membuka lemari kemudian mengambil piyama panjang dari dalam lemari dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Toni lebih memilih untuk keluar dari kamar untuk membuatkan 1 teh hangat untuk sang istri, bahkan Toni tidak mempedulikan keadaan tubuhnya yang saat ini basah.
Olive keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama panjang yang sudah melekat di tubuhnya, tidak lama Toni juga masuk ke dalam kamar dengan 1 gelas teh hangat yang ia berikan kepada Olive. Olive tidak membantah wanita itu segera mengambil teh hangat yang sudah dibuatkan sang suami untuknya dan segera meminumnya sampai habis.
--------------
Hay bestiee, part 34 udah update ya jangan lupa vote dan komen!!!!!!!
follow dulu ya kalau belum pada follow🙂

KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Wedding (ON GOING)
RomanceSQUEL dari Sahabatku suamiku, kisah tentang kedua sahabat Alana dan juga Arga. Satu tahun menjalin hubungan bersama dengan Elvan akhirnya Olive dan Elvan memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka, yaitu dengan ikatan pernikahan. Namun siapa sangka...