Kringgg
Bel istirahat berbunyi. (Name) menghela napas lega karena akhirnya siksaan ini berakhir.
Doanya gak dikabulin. Bukan cuma pelajaran matematika tiga jam nonstop, tapi yang ngajar adalah Bu Amanda---makhluk dengan aura neraka level menengah. Rasanya (Name) mau resign aja jadi botol kecap. Padahal ini baru hari pertama.
Gadis itu meregangkan badannya. Kebanyakan duduk jadi rada pegal.
Bau-bau remaja jompo begini, nih. Mana kerjaan (Name) di rumah cuman rebahan, olahraga jarang, siap-siap aja buat encok.
"Halo, (Name)!!" suara Nishinoya menyapa.
(Name) menoleh pada cowok jabrik itu. Alisnya terangkat sebelah sebagai respon.
"Yo, (Name)! Kenalin, gue Tanaka yang tampan, gagah, dan berani!" si botak teman sebangku Nishinoya memperkenalkan diri.
Kalau tadi (Name) tidak salah dengar, dari suaranya, si Tanaka ini juga ikutan nyanyi macam jamet seperti yang dilakukan Nishinoya.
(Name) tersenyum geli atas perkenalan Tanaka. Kepalanya mengangguk. "Hai."
"(Name), gue mau nanya boleh?" izin Noya.
"Tanya aja."
"Lo pindahan dari sekolah mana?" tanya Noya, penasaran.
"SMA Sukawaras," jawab (Name).
"Oh, yang letaknya di sebelah rumah sakit jiwa, ya?" tebak Tanaka dan Noya secara bersamaan.
"Iya."
Nama sekolahnya "Sukawaras", biar gak ketularan 'gila' dari tetangganya: RSJ. Tapi ya, kenyataannya? Sukawaras cuman di nama doang. Penghuninya? Waras nyerempet gila, bahkan ada yang udah gila tapi masih sok waras. Termasuk... ya, (Name).
"Keren! Sekolah itu termasuk sekolah favorit tau!" seru Noya menggebu.
"Favorit apanya? Biasa aja tuh." (Name) menjawab santai. Menurutnya, sekolah lamanya itu tidak ada favorit sama sekali.
Padahal kalau dia mikir dikit aja, sekolah yang bisa masuk radar anak-anak Elite School kayak mereka tuh udah pasti punya reputasi. Tapi dasar (Name), emang gak sadar diri.
Ya, gimana ya ... Habisnya, (Name) menilai dari perilaku penghuni SMA-nya juga sih yang menurutnya sangat jauh dari kata waras. Makanya (Name) rada sangsi waktu Noya bilang SMA-nya masuk ke jajaran favorit.
"Biasa aja?! Lo gak tau? Sekolah lo itu terkenal karena ekskul basketnya!" sungut Noya menggebu. "Waktu itu gue sama Tanaka gak sengaja nonton pertandingan basket putri yang diselenggarain di sana. Beneran, keren banget!" lanjutnya dengan mata yang berbinar kagum.
Tanaka mengangguk setuju. "Tahun lalu tim basket cewek dari sana juara tiga kali berturut-turut. Shooting guard-nya gokil banget!"
"Dan CANTIK!" sambung Noya.
Wajah (Name) berubah masam. "Ijo aja mata lo kalo ada yang cantik."
"Btw, ya btw, orang yang lo omongin ada di depan lo sekarang nih. Perlu tanda tangan gak?"
Ia menyeringai bangga. Ternyata dirinya seterkenal itu, bahkan murid dari SMA Elite ini mengakui kehebatannya. Hahaha. Tolong siapapun kasih (Name) pegangan, supaya dia gak terbang saking senangnya.
"Oh, iyakah?" (Name) bertanya, pura-pura kalem.
"Iya lah! Lo kenal orangnya gak?"
"Lumayan deket, sih." (Name) menyahut santai.
"Ya, iyalah, orang itu kan gue sendiri."
"Wah, kapan-kapan boleh lah gue minta tanda tangannya." Tanaka mupeng, tangannya mentoel-toel bahu (Name).
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fiksi Penggemar(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
