"Hah... Anjrit, memalukan." (Name) mengeluh sambil membasuh peluh yang mengalir di pelipisnya. Anak-anak rambut di dahinya ikut basah oleh keringat.
"Gue butuh air," gumamnya, menatap mesin minuman di depannya. "Minum apa, ya? Kopi enak kali, ya?"
Ia menyusuri vending machine dengan jemarinya, mengamati satu per satu pilihan minuman.
"Lah, gak ada kopi," keluhnya kecewa.
Saat kakinya hendak melangkah pergi, tiba-tiba sebuah tangan muncul dari samping—menyodorkan kaleng kopi. Netra (Name) membulat.
"Wah, keben—" perkataannya terpotong begitu melihat siapa yang ada di depannya.
Kuroo, selaku si pemilik tangan yang menyerahkan kopi tersebut menyeringai. "Udah gue duga."
(Name) langsung melotot. "Anj—" Refleks, dia mau kabur, tapi kalah cepat. Kuroo sudah lebih dulu mencengkram kerah seragamnya.
"Eits, mau ke mana lo?" cegah Kuroo.
"Apaan sih?! Gak usah pegang-pegang! Kita gak kenal!"
"Masa?" Kuroo menaikkan alis. "Mbak Hantu, penghuni kamar kosong 221."
"Asu," maki (Name) pelan.
"Udah puas nyamar, sekarang? Gue baru tau kalo Yaku punya sepupu. Dan lo— sepupunya," ujar Kuroo, masih tak percaya.
Pantas aja wajah cewek itu keliatan familiar. Dan semua kejanggalan yang Kuroo rasain selama ini akhirnya terjawab. Dia, Kuroo Tetsurou, bisa-bisanya kena tipu.
"Emangnya penting buat lo? Sekarang dah tau, kan? Sana pergi, hush!" (Name) melepas tangan Kuroo dari kerahnya dengan kasar.
"Gak semudah itu. Lo yakin gak keberatan kalo gue bocorin penyamaran lo ini ke semua orang?" ancam Kuroo santai.
(Name) mendengus, memutar bola matanya. "Ya udah, bocorin aja. Toh udah terlanjur juga."
"Yakin? Kira-kira ekspresi Yaku bakalan gimana?" Kuroo memasang wajah berpikir.
(Name) terdiam. Mukanya berubah, seperti sedang menghitung risiko yang siap menghantamnya.
"Eh, bentar!" ucapnya panik, menarik lengan Kuroo. "Jangan dibocorin!"
Kuroo hanya mengangkat bahu. "Telat."
"Mana bisa gitu?!" seru (Name), menarik lengan cowok itu lebih kencang. "Jangan dong, plis!"
Dalam hati, Kuroo tertawa. Ekspresi panik (Name) terlalu lucu. Apalagi dia nyeret-nyeret almamater kayak bocah TK narik baju ibunya.
Kemudian, Kuroo menyeringai licik kala mendapati suatu ide yang tiba-tiba terlintas di otaknya.
"Ada syaratnya," kata Kuroo, menyeringai licik.
"Hah?" (Name) melongo.
"Lo harus masuk ekskul basket."
(Name) langsung nyolot. "Gue juga emang pengen masuk!"
"Lah, terus kenapa gak daftar?"
"Karena ada lo!" jawab (Name) dengan jujur, tanpa beban.
Kuroo melongo. "Orang lain pengen masuk basket karena gue. Lo? Malah mundur karena gue?"
(Name) mengangguk mantap. "Yep."
Kuroo menghela napas. "Syarat satu: lo masuk ekskul basket. Syarat dua: lo harus nonton pertandingan basket besok."
"Buset, banyak amat!" potong (Name) kesal.
Ia melongo dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya si jambul ayam kurang ajar ini mengajukan banyak syarat.
"Cuma tiga," kata Kuroo santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfiction(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
