"Mules beneran anjrit abis liat muka si nenek lampir itu!" gerutu (Name).
Baru saja kabur dari kantin akibat 'polusi berjalan' yang tiba-tiba ngajak gabung di mejanya, kini (Name) berjalan tak tentu arah. Sekalian cari tahu isi sekolah, pikirnya. Tapi... sepertinya dia malah nyasar.
"Ini di mana, ya?" gumamnya sambil celingak-celinguk. Sepi. Nggak ada satu pun siswa yang terlihat. Mungkin semua lagi di kantin?
Lalu matanya menangkap sosok familiar.
"Eh, bentar—itu kan..."
Ia memicingkan mata, mencoba mengenali sosok cowok dengan tumpukan buku menggunung yang hampir menutupi wajahnya. Tapi rambut hitam gradasi putih dan posturnya bikin (Name) langsung sadar.
"Gak jadi sial gue," senyumnya menyeringai. "Sekalian nanya jalan sambil modus ah~"
Ia segera menghampiri sosok itu.
"Halo, Kak Kita!" sapa (Name) ceria, langsung berdiri menghadang layaknya begal. Shinsuke pun berhenti dan melongok sedikit ke depan untuk melihat siapa yang manggil.
"Oh? Kamu?" balasnya, setelah melihat wajah (Name).
"(Fullname). Anak baru yang waktu itu Kakak anterin ke auditorium. Makasih banget ya waktu itu," kata (Name) sambil tersenyum memperkenalkan diri lagi.
"Bukan apa-apa kok. Emang tugas saya," sahut Shinsuke sopan. Meskipun wajahnya masih ketutup buku, tapi kelihatan dari gerakan kepalanya kalau dia mengangguk.
"Kayaknya Kak Kita lagi repot, ya? Mau aku bantu bawain?" tawar (Name). Sekalian modus, eh bercanda. Sebenarnya dia mau nawarin bantuan biar bisa nanya jalan balik. Gak enak juga udah ditolong, masa gak ngebantu balik?
"Gapapa? Nggak repotin?"
"Gak lah, aku juga lagi nganggur. Hitung-hitung balas budi," balasnya.
Ia segera mengambil setengah dari tumpukan buku itu. Barulah wajah Shinsuke terlihat. (Name) sempat heran, kenapa Kak Shinsuke repot-repot ngangkut buku sebanyak ini sendiri?
"Makasih ya," ucap Shinsuke sambil tersenyum kecil.
"Santai aja."
"Ini mau ditaruh di mana?"
"Perpustakaan."
Mereka pun berjalan ke arah lift. Perpustakaan ada di lantai lima, jadi mereka harus naik dulu.
"Kamu gak makan siang?" tanya Shinsuke, karena jam istirahat dan anehnya cuma (Name) yang keluyuran.
"Udah. Kakak gak makan?"
"Niatnya abis ini."
"Masa makan pakai niat dulu sih, Kak? Kakak kan ketos, pasti sibuk. Harus jaga kesehatan dong. Makan jangan sampai telat!" (Name) mulai ngomel refleks.
Ya, meskipun dirinya juga sering menunda makan, tapi kalau dia ingin melakukan aktivitas yang berat seperti olahraga atau mengerjakan tugas, (Name) akan makan terlebih dahulu. Soalnya kalo gak makan, (Name) gak akan ada tenaga untuk menjalani hari-harinya.
Shinsuke terkekeh. "Iya, ini cuma mau naruh buku doang kok."
Lift sampai, mereka masuk, dan Shinsuke menekan tombol lantai lima.
"Ngomong-ngomong, menurut kamu sekolah ini gimana?" tanya Shinsuke.
"Hmm... kayak sekolah biasa sih. Cuma ya... elitenya kerasa banget." (Name) menerawang.
Shinsuke mengernyit. "Elitenya?"
"I-itu... mahal," jawab (Name) pelan.
"Pfftt..."
(Name) langsung menoleh horor pada Shinsuke yang tiba-tiba mengalihkan wajahnya dengan bahu gemetar. Ketahuan banget kalo dia ketawa. Entah kenapa (Name) bukannya kesal tapi malah ngeri. Jangan-jangan kesambet?
"Lho kok ketawa? Emang lucu?" tanya (Name) heran. Mukanya super duper bingung.
"Muka kamu kayak bingung gitu." Shinsuke menjawab setelah menetralkan ekspresinya.
"Ya bingung, Kak... soalnya tadi makan wagyu empat belas juta..." (Name) nyengir.
"Udah biasa di sini mah."
"Udah biasa? Terus abis ini aku bakalan makan apa lagi? Kaviar gitu?"gumam (Name).
"Bisa jadi," celetuk Shinsuke.
"HAH?!"
"Pftt.."
"Ih ngeledek, ya?" kesal (Name).
"Ketos dingin apanya? Nyebelin iya." batin (Name).
Ting!
Lift terbuka. Mereka melangkah ke perpustakaan yang terletak di samping ruang kepala sekolah. (Name) sempat ke sini waktu baru masuk bareng Yaku.
"Taruh di mana, Kak?"
"Di sini aja."
Mereka meletakkan tumpukan buku di atas meja.
"Makasih ya, (Name)," ucap Shinsuke.
"Sama-sam—"
"Shinsuke?! Lo ke mana aja sih? Gue nungguin sampe lumutan!"
Suara itu membuat mereka menoleh. (Name) terdiam saat melihat sosok yang muncul.
"Lah?"
Semi Eita. Tatapannya langsung menohok begitu melihat (Name).
"Sorry, Sem. Tadi saya bantuin Ushijima dulu," jelas Shinsuke.
"Hah? Oh." Semi yang semula menatap (Name) beralih pada Shinsuke.
"Oh iya, ini kenalin." Shinsuke menunjuk (Name). "Namanya (Fullname). Dia yang udah bantuin bawa buku ke sini."
(Name) tersenyum paksa sambil mengulurkan tangannya. "(Fullname)."
"Semi Eita." Semi membalas jabatan tangannya dengan cepat.
"Cewek gila," batin Semi.
"Cowok prik," batin (name).
"Kalo gak ada lagi, aku mau per—"
"Karena lo udah di sini, kenapa gak bantuin naro buku-buku ini ke rak?" sela Semi dengan cepat. Entah kenapa terlintas ide itu di pikirannya. Ia merasa dengan menyuruh (Name) membantunya untuk menyusun buku-buku itu adalah cara yang tepat untuk balas dendam karena sudah sembarangan mendobrak pintu ruang musiknya menggunakan kaki.
(Name) menoleh horor. "Hah?!"
"Jangan, Sem. Takutnya (Name) ada urusan," bela Shinsuke.
Semi melipat tangannya di depan dada. Ia menatap (Name) dengan alis terangkat. "Masa? Lo gak keberatan kan kalo ngebantuin?" tanyanya dengan tersenyum penuh arti. Yang di maksudkan lo harus mau dan gak boleh nolak.
"Keberatan lah anjing lo gila?!"
Sayangnya (Name) hanya bisa mengatakan kalimat itu dalam hati.
"Gak kok. Gak sama sekali." (Name) tersenyum palsu.
"See?" Semi menoleh ke Shinsuke dengan senyum puas.
"Beneran gak apa-apa?" tanya Shinsuke sekali lagi.
"Gapapa, Kak." Senyum (Name) masih terpasang. Sebenarnya sih ia dengan sukarela membantu kalo Shinsuke yang minta. Sayangnya yang menyuruhnya sekarang adalah jelmaan demit menyebalkan satu itu. Jadi (Name) sangat tidak rela.
"Nah, ayo ikut gue," perintah Semi, melangkah lebih dulu sambil mengibas tangan menyuruh (Name) mengikuti.
"Semi anjing," umpatan (Name) tertahan di tenggorokan.
>><<
Jangan lupa vote dan komennya supaya aku semangat nulisnya🥳
Terima kasih yang sudah vote, komen, dan nunggu cerita aku!🤍🫂
Awal: 22/05/22
Revisi: 28/07/25
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
أدب الهواة(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
