Hai! Miss me? :D
>><<
(Name) melipir dari para cowok gila yang sialnya—kaya raya itu. Sudah cukup dirinya ikut terseret ke pesta ini. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, apalagi sampai menarik minat orang lain—seperti si "pisang ijo" yang tadi sempat menggoda tanpa malu.
"Mending gue mojok aja," gumamnya.
Ia mengambil sepotong kue dari meja saji dan mulai menyantapnya. Demi apa pun, kuenya enak banget. Manisnya pas, teksturnya lembut—benar-benar memberi sensasi tersendiri saat masuk ke mulut.
Saking asiknya menikmati rasa kue, (Name) tak sadar ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya. Sosok itu mengamati sejak ia mengambil kue, sampai ekspresi puas di wajahnya saat menggigit suapan pertama.
"Lo laper banget, ya? Kayak gak makan setahun."
(Name) sontak menoleh dengan cepat. Ia langsung mendapati seorang cowok berdiri tak jauh darinya. Rambutnya ikal, masker menutupi sebagian wajah, dan tangan kirinya mengenakan sarung tangan putih—mirip pesulap.
Awalnya (Name) terkejut, tapi juga heran. Bukannya bergabung bersama yang lain, kenapa cowok ini malah mojok sendirian di sudut ruangan?
"Bukan urusan lo. Kalo gak suka, jangan dilihat." (Name) membalas dengan nada ketus, tak ingin acara makan damainya diganggu.
"Setidaknya makan yang bener," sahut cowok itu, lalu menyodorkan selembar tisu sambil memberi isyarat ke pipi (Name). Rupanya ada krim menempel di sana.
"Kok tiba-tiba baik? Tadi mulutnya nyinyir banget," batin (Name), namun tetap mengambil tisu itu. "Makasih," ucapnya singkat.
"Nah, kalo gini kan lo jadi tau etika makan."
(Name) sontak melotot mendengar perkataannya yang terang-terangan begitu.
"Maksud?! Berarti tadi dia mikir gue gak punya etika kah?! Lagian orang di pojok, siapa juga yang mau lihat?" (Name) membatin sambil misuh-misuh sendiri. "Gue tarik kata-kata gue yang tadi kalo dia itu baik!"
"Lo (Fullname), kan?"
(Name) langsung mengernyit. Dia kenal? Padahal, rasanya belum pernah ketemu sebelumnya. Atau… jangan-jangan…
"Gue pernah liat lo. Di lapangan basket."
Kalimat itu langsung memotong alur pikiran buruk (Name). Oke, jadi bukan cenayang. Tapi... kok bisa tahu dia lagi mikir?
"Ekspresi lo kelihatan jelas," katanya santai seolah menjawab pertanyaan tak terlontar yang berseliweran di kepala (Name).
"Iya, kah? Tapi gue gak kenal lo." (Name) jujur. Jangankan kenal, melihatnya saja pun tidak pernah.
Tunggu sebentar... berarti kalau dia kenal (Name) gara-gara lihat di lapangan basket, berarti dia anak HQ dong?
"Lo anak HQ?"
Alih-alih menjawab langsung, cowok itu melempar pandangan sinis seolah berkata: pertanyaan bodoh macam apa itu?
"Menurut lo?" sarkasnya.
"Nih orang ngajak ribut, ya? Dari tadi sarkas mulu. Pengen gue comot mulutnya!" batin (Name) kesal, menahan diri untuk tidak melayangkan sesuatu ke wajah menyebalkan itu.
"Menurut gue, lo harusnya pake saringan di mulut. Biar bisa difilter tuh kata-kata," (Name) membalas ketus, lalu segera beranjak pergi dengan langkah sebal.
Ia baru berjalan beberapa meter saat tiba-tiba—
"(Name)!!!"
(Name) celingak-celinguk saat mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya terdengar familiar.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfiction(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
