"Osamu?"
(Name) memanggil ketika mendengar ada pergerakan di sekitar. Tangannya meraba area ranjang sambil menegakkan tubuhnya yang bersandar di dipan UKS.
"Minum dulu."
Keningnya berkerut. Suara itu… beda. Bukan Osamu. Ia baru sadar ketika tangan seseorang menuntunnya memegang segelas air.
"Masih sakit?" tanyanya.
(Name) menggeleng. "Udah gak terlalu."
Shirabu mengangguk tipis, meletakkan gelas di meja. "Abis ini gue bakalan tetesin obatnya lagi."
"Bukannya nanti malah perih lagi?" tanya (Name) ragu.
"Enggak. Biar cepet sembuh," jawabnya santai, meski matanya diam-diam meneliti wajah (Name), penasaran bagaimana gadis itu bisa kena bubuk merica.
Keheningan sesaat akibat bungkamnya Shirabu membuat (Name) bingung apakah Shirabu masih ada di sana atau tidak.
"Gue penasaran," ucap Shirabu akhirnya, memecah hening. "Lo ngapain sampe disemprot pepper spray?"
"Hah?!" (Name) melongo. "Papper spray?! Sumpah?!" Pantas matanya perih kayak kebakar. "Orang gila mana yang— Ya ampun… tapi mata gue gak kenapa-kenapa kan?"
"Gak tau. Menurut gue aman, tapi lo tetep harus periksa ke dokter."
(Name) menghela napas lega. Dalam hati ia bersyukur Shirabu nolongin, juga Osamu yang langsung bawa dia ke sini.
"Btw, Osamu ke mana?"
"Gak tau. Katanya ada urusan." Shirabu meliriknya sekilas. "Lo mau di sini atau balik ke kelas? Atau gue panggil—"
"Gak usah," potong (Name) cepat. "Eh, gue belum tau nama lo."
"Shirabu."
(Name) mengangguk kecil. "Makasih ya, Shirabu."
"Itu udah dua kali lo bilang makasih," komentar Shirabu datar, meski sebenarnya canggung. Untung mata (Name) masih tertutup, jadi gadis itu gak lihat pipinya yang nyaris merona.
(Name) nyengir. "Kan lo udah bantuin gue. Masa gak gue ucapin makasih? Gak sopan dong?"
Shirabu hanya mendengus sambil membuka laci. "Sini, gue tetesin obatnya lagi."
Ia melepas perban di mata (Name) dengan hati-hati. "Kalo sakit bilang."
(Name) mengangguk, lalu mendengakkan kepala sesuai instruksi.
"Perih!" pekiknya sambil berkedip cepat dan mengibas-ngibaskan tangan di depan muka.
"Nanti juga sembuh. Mau dipakein perban lagi gak?"
"Emang harus?"
"Enggak juga."
"Gak usah kalo gitu."
Shirabu mengangguk. "Tapi mata lo masih sakit?"
"Udah gak sesakit tadi."
Shirabu membereskan obat-obatan ketika—
Brak!
Tiba-tiba pintu UKS dibuka dengan keras. Si pelaku langsung menerobos masuk dengan tergesa-gesa. (Name) dan Shirabu menoleh pada cowok pendek yang suka marah-marah itu.
"(Name) Lo gapapa?! Gue dikasih tau Osamu tadi—"
"Kalem kenapa sih? Lo ngagetin." (Name) memotong ucapan Yaku yang asal nyerocos.
Yaku langsung duduk di pinggir ranjang, memeriksa wajah (Name) seperti dokter dadakan. "Parah gak?"
"Sejauh ini enggak, tapi mending dicek ke dokter."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfiction(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
