"Makasih makan malamnya." Suna berujar begitu sampai di depan rumahnya.
Setelah makan bersama di rumah, ibu (Name) malah menyuruh anak gadisnya untuk mengantar Suna sampai depan rumah. Padahal (Name) udah capek, pinggang pegal, dan otak pengen rebahan. Tapi, kalau ditolak, ibu negara bakal nyerocos kayak kereta mogok di tanjakan. Daripada dengerin drama audio gratis itu, ya sudah, (Name) pasrah.
"Hmm." (Name) menjawab dengan lesu. Otaknya masih memikirkan tentang sekolah tadi.
Iya sih, dia udah sepakat bakal pindah sekolah. Tapi... kenapa harus ke sekolah si Yakult?! Maksudnya, sekolah Yaku, tapi (Name) udah males banget nyebut nama aslinya. Dari yang awalnya sekolah negeri biasa, sekarang dilempar ke sekolah elite berasrama yang terkenal dengan sistem super ketat dan gengsi langit.
Apa dia gak bakal culture shock?
"Lo bisa ceritain dikit tentang sekolah lo gak?" tanya (Name) tiba-tiba, memecah keheningan.
Suna terdiam sebentar. "Nanti lo juga tau," jawabnya tidak niat.
(Name) berdecak. "Justru karena gue mau tau makanya gue nanya. Biar nanti gue gak shock!"
"Kenapa gak tanya Yaku?"
"Males. Dia kan lagi ngambek gara-gara gue ngatain dia pendek tadi."
Suna tersenyum geli melihat wajah masam (Name). Mata sipitnya menatap gadis itu lamat-lamat.
"Setahu gue, sekolah itu isinya anak-anak orang kaya semua. Gue takut gak bisa nyesuaiin diri." (Name) mengutarakan kerisauannya.
Itu bukan ketakutan tanpa dasar. Dari film dan drama yang pernah dia tonton--dan jumlahnya gak sedikit--sekolah elite selalu menyimpan sisi gelap. Di luar terlihat gemilang, tapi di dalam... siapa tahu?
Suna menatapnya. Wajah gadis itu terlihat khawatir. Tapi Suna hanya menjawab singkat. "Ya gitu."
"Apaan sih? Gak niat banget jawabnya!" (Name) menatapnya kesal.
"Emang."
(Name) mendengus, berbalik, dan melangkah pergi. "Udah lah. Gak guna ngobrol sama lo."
"(Name)," panggil Suna.
"Hm?" (Name) berbalik dan menatapnya bingung.
"Lo tenang aja. Sekolah gue gak seburuk yang lo pikir."
Ucapan itu sederhana, tapi seperti memecah kabut di kepala (Name). Mungkin... dia terlalu banyak mikir. Mungkin juga, dia cuma harus jadi diri sendiri. Sekolah elite? Bodo amat. Mau dianggap aneh juga terserah.
Ia pun tersenyum. Tulus. Dan untuk pertama kalinya, Suna sadar---cewek yang biasanya cemberut itu punya senyum yang bikin adem.
"Oke. Agak gak percaya sih, tapi gapapa." jawabnya sambil mengacungkan jempol. "Gue balik ya!"
Baru saja ia melangkah, suara Suna menyusul lagi.
"Eh, (Name)!"
(Name) berhenti. "APA LAGI?"
Suna menyeringai. "Lo gak jadi minta nomor HP gue?"
(Name) menatapnya tajam. "Buat apa, jir? Emangnya nomor lo sepenting itu?"
"Ya... jarang-jarang loh ada yang punya nomor gue," katanya santai. "Dan lo punya privilege. Siapa tau nanti lo dapet info hot dan terbaru. Oke gak?"
(Name) mengernyit. "Emangnya lo intel?"
"Bukan, gue cuma... yah, anggap aja anak sekolah gabut yang pengen jadi agen FBI."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfiction(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
