A T T G| 29. Surat?

11.3K 898 32
                                        

Typo? Tandai.
Happy Reading!
_________________

Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam sebuah kamar melalui celahan gorden yang sedikit terbuka tapi, tida membuat seorang pemuda manis itu terbangun.

Posisi tidurnya meringkuk bak bayi dibawah selimut dengan mulut yang aktif menyesap pacifier.

Pintu terbuka menampilkan seorang pemuda seumuran gibson. Alen memasuki kamar sang adik berniat membangunkan.

Ia meloncat ke atas kasur membuat kasur itu bergoyang tetapi tidak membuat kembarannya bangun dari alam bawah sadar.

Alen memperhatikan wajah adiknya lekat, ia mencabut pacifier yang tertempel di bibir mungil kembarannya.

Gibson sedikit melenguh dalam tidurnya ketika benda yang tertempel dari mulutnya terlepas, ia memasukan jarinya jempolnya ke dalam mulut.

Membuat alen menarik jempol itu dan memasukan pacifier kembali, tapi tidak bertahan lama. Alen menariknya kembali, sengaja menjahili adiknya.

Alen terkekeh melihatnya, ia menarik masukan pacifier itu membuat gibson benar-benar merasa terganggu dari tidurnya.

Perlahan kelopak mata pemuda manis itu terbuka, mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.

Gibson menukikkan kedua alisnga heran, kedua netra bulatnya berkaca-kaca siap menumpahkan sebuah air terjun serta bibirnya berkedut melengkung ke bawah.

"Hiks."

Alen gelagapan saat satu isakan berhasil lolos keluar dari bilah mulut kembarannya, ia menempelkan kembali pacifier itu bermaksud agar isakan tangisnya terhenti.

Namun, dugaannya salah. Justru gibson malah semakin menjadi-jadi membuat alen kelimpungan.

Alen turun dari kasur kingsize milik adiknya, ia ngacir pergi keluar kamar sang kembaran sebelum buna atau ayahnya datang untuk membangunkan anak itu.

Berani berbuat, tidak berani bertanggung jawab!

"Hiks, huhu."

Tidak lama setelah alen pergi dari kamar gibson, pintu kamar kembali terbuka menampilkan seorang pria paruh baya dengan jas formal yang sudah melekat di tubuh atletisnya.

Xavier melangkahkan kakinya sedikit cepat kala telinganya mendengar sebuah isakan dari putra bungsunya, apa putranya bermimpi buruk?

"Hei ge." Panggil xavier sembari menepuk pelan pipi berisi sebelah kanan.

Gibson menatap xavier dengan kedua mata yang masih mengeluarkan air mata. Ia merentangkan kedua tangannya meminta di gendong.

Xavier menurutinya, ia membawa badan putranya ke dalam gendongan koala. Gibson menaruh kepalanya di pundak xavier.

"Hiks lelen ganggu." Adunya.

Xavier menautkan kedua alisnya heran. Lelen? Ia merasa tidak asing dengan panggilan itu, merasa sebelumnya pernah mendengar panggilan itu tapi lupa siapa.

"Lelen? Siapa? Ayah lupa." Ucap xavier dengan wajah bingung.

"Huhu hiks, panggilan anak sendiri di lupain hiks." Balas gibson lalu mencabut pacifier di mulutnya dan ia lempar ke sembarang arah.

"Alen hiks." Sambungnya.

Xavier menganggukan kepala paham, pantes ngerasa tidak asing.

"Sekarang gege mandi." Titah xavier pada putra bungsu kemudian melangkah kan kakinya berjalan menuju kamar mandi.

Ia menurunkan gibson dari gendongannya dan menyuruhnya agar segera mandi. Xavier keluar kamar mandi membiarkan anak itu melakukan rutinitas mandinya sendiri.

About The Twins G [ Terbit ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang