04. Reygi dan Delia

3.3K 90 0
                                        

Happy Reading
_______________________


Seorang cowok dengan kaos distro hitam mengendong balita yang tertidur nyenyak setelah tangisannya mereda, ia meletakkan kembali balita tersebut ke ranjang tempat tidurnya yang kecil lalu keluar dari kamar itu.

"Om ada apa kesini?" tanyanya menuruni anak tangga.

Seorang pria yang duduk membelakanginya sontak berbalik tersenyum tipis. "Seperti biasa om cuma mau laporan soal perusahaan, kamu sendiri gimana kabarnya Reygi?"

Reygi duduk berhadapan dengan Fras. "Cukup baik, berkas apa yang Om bawa?" tanya Reygi dengan berkerut.

"Laporan keuangan perusahaan." timpalnya dengan melepas jas hitam yang membalut kemeja putihnya.

Reygi menerima berkas tersebut. "Kenapa harus Om yang anter, kenapa bukan manager keuangan?" tanya Reygi dengan manik matanya fokus pada berkas tersebut.

"Om mau ketemu kamu dan Delisa, yaudah sekalian Om bawain aja laporan keuangannya nggak buruk-buruk amat kan?"

Reygi terkekeh kecil. "Nggak, Om tenang aja aku jagain Delisa dengan baik disini." ujar Reygi menangkap ke khawatiran di mata Fras.

Fras mengangguk pelan ia sangat percaya dengan keponakannya yang satu ini, ia sudah kenal Reygi sedari kecil ajaran Ayahnya yang keras mendidik Reygi menjadi sosok yang bertanggung jawab bahkan dalam menjaga Delisa balita berumur dua tahun tersebut. Namun tetap saja ia menaruh kecemasan walau bagaimanapun Reygi masih banyak tanggung jawab ia seorang pelajar yang tidak seharusnya sudah memikul tanggung jawab seperti ini.

"Om belum berubah pikiran, Om bersedia rawat Delisa." ungkap Fras mampu membuat Reygi bungkam.

"Aku nggak mau relain Delisa ke orang sekalipun itu Om Fras sendiri, aku masih sangat sanggup hidupin Delisa dan rawat dia jadi ayah sekaligus ibu buat dia."

"Om tahu itu Rey, tapi Om kasihan sama kamu kamu udah pusing masalah pendidikan di tambah lagi persoalan kantor Om mau bantu ringanin beban kamu." jelas Fras cukup tegas tak mudah untuk meluluhkan hati batu seorang Reygi juka sudah kekeuh pada pendiriannya.

"Dan jangan pikir Om nggak tahu, kamu sering telat ke sekolah yang akhirnya di hukum di cap badboy karena terlalu capek ngurusin Delisa." sambung Fras ia cukup tersulut emosi.

Kedua mata elang Reygi menyorot Frans. "Delisa bukan beban buat aku Om dia tanggung jawab aku, cukup Om sudah bantu aku dalam masalah pekerjaan itu sudah cukup Om nggak perlu repot-repot mikirin Delisa disini aku juga di bantu sama baby sister!"

Fras mengusap wajahnya kasar, sulit sekali meyakinkan Reygi padahal ia berniat sangat baik untuk merawat Delisa walau bagaimanapun Delisa keponakannya.

"Aku mau istirahat Om." gumam Reygi bermaksud sindiran untuk mengusir Fras, Fras yang peka dengan hal itu langsung berdiri dari duduknya.

"Om pamit, kalau butuh apa-apa jangan sungkan minta bantuan sama Om!"

Reygi mengangguk pelan menatap sendu punggung Fras yang mulai menghilang dari pintu utama, terselip rasa bersalah karena beberapa kali membantah Fras dan bahkan tadi dengan sindirannya ia mengusir Fras padahal pria itu sudah cukup berjasa untuknya ia juga tidak ingin lebih merepotkan Fras dalam hal mengurus Delisa, Delisa itu tanggung jawabnya bukan bebannya.

Cukup lama bertengkar dengan pikirannya sendiri, mengingat Delisa ia jadi teringat Delia nama gadis itu persis sekali seperti balita dua tahun kesayangannya bahkan sampai tak sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis ketika mengingat Delia.

"Sialan lo Delia, lo bikin gue gila!" Reygi merogoh saku celana jeans selutut, terdapat handphonenya ia mencari kontak gadis yang akhir-akhir ini merasuki pikirannya.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang