43. Cokelat dari Raven

769 25 0
                                        

Happy Reading
_____________________

Singkat, namun kenangannya cukup melekat –– Radelia Maheswari

***

Hari ini tepat hari pertama untuk seluruh kelas XII menjalani ujian kelulusan, setelah banyak melewati tahap pembelajaran akhirnya mereka ada di posisi ini untuk mengikuti syarat untuk lulus. Mereka mulai berjalan menunju bilik masing-masing yang sudah di bagikan secara acak, dengan kelas IPS yang berjalan kearah barat tempat dimana bilik mereka masing-masing.

Reygi membaca deretan nama yang tertera di bilik dua yang di bilik itu juga ada namanya, ia se bilik dengan Marsel dan Sandy. Raven dan Tomo rupanya terpisah dengannya. Beberapa hari ini Reygi belajar dengan Rayna, ya Reygi akui Rayna cukup pintar.

Cukup lama menatap deretan nama-nama yang se bilik dengannya, cowok itu melirik kesamping jenjang kaki seorang gadis yang menggunakan sneakers putih itu berdiri di samping depan bilik tiga yang berdampingan dengan biliknya. Yang juga di susul oleh kedua temannya.

Itu Delia, yang juga sesekali melirik kearahnya. Tak mau berlama-lama disitu Reygi memutuskan masuk kedalam kelas bersama yang lainnya saat sudah mendapat arahan.

Delia menghela napas gusar, ia menunduk dalam-dalam. Reygi begitu dingin padanya, rasa sesal kembali muncul di diri Delia. Kalau saja ia lebih mengerti Reygi, mungkin ia tidak akan kehilangan Reygi seperti ini.

"Delia, ayo masuk!" Gina menepuk pundak Delia, guna untuk menyadarkan gadis itu untuk tidak berlarut-larut dalam suatu masalah apalagi mereka harus ekstra fokus untuk menjalani ujian kelulusan.

Saat di dalam kelas Reygi sudah duduk di bangku sesuai abjad yang sudah diatur, seperti biasa semua ransel dan handphone mereka pun sudah di kumpul di depan untuk pencegahan yang tidak-tidak walaupun ada-ada saja yang melanggar. Hanya pulpen saja yang terletak diatas meja.

Marsel terlihat menghampiri Reygi dengan wajah riang. "Lo udah belajar belum nyet?"

"Udah, gue belajar sama pacar gue." jawab Reygi dengan asal.

Marsel yang menganggapnya hanya candaan tertawa pelan. "Emangnya siapa pacar lo?"

"Rayna." ujarnya.

"Ngaco lo!" Sandy yang baru saja melewati keduanya, berucap sedemikian rupa.

Marsel memilih tidak ambil pusing, ia langsung kembali ketempat duduknya saat guru pengawas sudah ada dan membagikan soal. Mapel pertama ujian kelulusan hari ini untuk kelas XII IPS adalah Ekonomi, tidak begitu sulit dan tidak begitu gampang.

Mereka terlihat sudah mulai fokus dengan lembar soal masing-masing. Ada yang berusaha memberi kode pada teman-temannya untuk menanyakan jawaban, ada yang melamun entah menunggu jawaban dari langit, dan ada juga yang belajar giat yang sedari tadi mulai mengisi jawaban.

"Ada soal yang kurang jelas?!"

Reygi sontak mengangkat tangan, ia menatap lembar soalnya. "Ini Pak, nomer sepuluh jawabannya kurang jelas!"

Guru yang mengawas hanya menghela napas berat. "Itu otak kamu yang kurang jelas."

Sontak sekelas ricuh menertawakan aksi cowok dengan kalung titanium itu, padahal mereka sudah sangat serius menunggu ucapan yang keluar dari mulut Reygi padahal itu hanya sekedar candaan.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang