38. Raven dan perhatiannya

850 30 0
                                        

Happy Reading
_____________________

Berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak menahan mereka yang pamit dari hidupmu -- Radelia Maheswari

***

Beberapa hari sejak kepergian Mamahnya, Reygi berubah menjadi sosok yang cuek dan lebih banyak diam melamun. Cowok itu seperti sudah kehilangan arah, emosinya kadang tidak stabil membuat teman-temannya hanya bisa mengerti.

Tidak ada Reygi yang jahil dengan wajah tengilnya, cowok itu bahkan kehilangan senyuman yang tak pernah lepas darinya. Yang biasanya banyak menimpali ucapan orang kini dia memilih diam walaupun ada pembahasan random, ia bicara seperlunya saja.

"Kurusan lo Rey, nggak banyak makan ya?" celetuk Marsel.

Reygi mendesis. "Bacot lo, mulut lo di jaga dikit bisa nggak sih? Nggak usah body shaming!"

Marsel menelan ludahnya susah payah padahal ia tidak serius mengatakan hal itu, tapi Reygi membalasnya dengan serius dan emosi. Padahal biasanya Reygi juga lebih parah candaannya.

"Plis lah Rey, dia cuma becanda, bisanya lo juga kalau becanda bawa fisik. Kenapa jadi emosian gini sih?" heran Tomo. Memang benar, Reygi berubah menjadi sangat sensitif sekarang.

Reygi memilih melenggang pergi begitu saja meninggalkan keempatnya di koridor, bahkan Raven sejak tadi mengepalkan kedua tangannya ia memang tidak banyak bicara dan tidak suka dengan Reygi yang berisik dan suka menganggu tapi melihat perubahan Reygi sekarang membuat Raven tidak terima.

"Udahlah, maklumin aja. Yang ada lo pada yang kena mental ngomong sama dia." nasehat Sandy.

"Gue nggak suka Reygi yang sekarang!" geram Raven.

"Kita juga nggak suka Ven, gue juga lebih baik dia ngejek gue pejuang ldr daripada dia banyak diam dan galak sekarang." timpal Sandy, ia menyisir rambutnya yang mulai gondrong dengan mengunakan tangan.

"Gue takut karena Reygi stres bakal ngelakuin yang enggak-enggak!" cemas Tomo.

"Jangan sampai kayak gitu, kita sebagai teman harus bisa ngerangul dia buat nge lewatin semuanya. Reygi cuma belum bisa menerima kenyataan aja." ujar Marsel yang di angguki semuanya.

Saat berjalan menyusuri koridor sekolah, tatapan Reygi fokus kedepan bahkan ia yang biasanya membalas sapaan siswa-siswi yang lainnya kini ia memilih bungkam bahkan tidak menatap mereka satu persatu padahal ia terkenal dengan sosok yang ramah dan asik.

Ia berjalan menuju kantin yang kebetulan melewati kelas XII IPS 1, kebetulan disana ada Delia, Gina, Lisa, dan Finka yang hendak keluar kelas.

Delia melempar senyum pada Reygi namun cowok itu melewatinya begitu saja, bahkan tanpa melirik kearahnya. Rasanya sesak sekali.

"Yaaah!" seru Finka kecewa melihat hal itu.

"Wajar aja, Reygi masih stres Del. Gue denger dari Marsel dia juga agak sensitif sekarang!" timpal Gina, ia menepuk pundak Delia.

"Delia yang sabar ya, nanti juga semuanya baik-baik aja kok! Mau gue bantuin lagi nggak?" Finka memeluk Delia dari samping.

"Nggak perlu Fin, mungkin emang Reygi butuh waktu aja!" Delia menggeleng cepat, ia tidak akan gegabah untuk hal ini.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang