22. Won't let go

942 28 1
                                        

Happy Reading
_______________________

Marsel, Sandy, Raven, dan Tomo sore ini menemani Reygi untuk menjenguk Mamahnya ke rumah sakit jiwa, sebenarnya Reygi melarang keras mereka untuk ikut karena pasti hanya akan berbuat rusuh tetapi keempatnya tetap memaksa alhasil mereka semua tetap ikut kesini dengan syarat tidak boleh rusuh. Mereka hanya menunggu Reygi dari luar ruangan Vina keempatnya itu mengintip dari balik celah jendela kaca karena jumlah orang yang masuk kedalam sana tidak boleh lebih hanya satu dua sampai tiga orang saja selebihnya hanya petugas RSJ.

"Nggak niat jadi salah satu pasien disini Tom?" celetuk Marsel melihat salah satu pasien rumah sakit jiwa yang nampak berbicara sendiri diikuti salah satu petugas RSJ.

Tomo mendelik sinis. "Lo lebih cocok Sel."

Sandy menyorot tajam keduanya. "Lo berdua emang nggak bisa diem ya, lama-lama gue kurung bareng pasien lain disini lo pada!" omel Sandy keduanya langsung bungkam.

"Kasihan Reygi." gumam Raven dengan raut wajah datar sambil bersedekap dada.

"Bener, Reygi itu berharap banget Tante Vina cepet sembuh dari penyakit mentalnya tapi sampai sekarang Tante Vina nggak ada perubahannya." Marsel menimpali.

Tak lama setelah itu pintu ruangan terbuka tempat Vina di rawat terbuka, Rayna dan Reygi sama-sama keluar dari ruangan tersebut. Ketiganya melempar senyum tipis pada Rayna yang di balas oleh gadis itu terkecuali Raven cowok yang pelit senyum itu hanya menatap Rayna dengan tatapan datar membuat psikiater itu gelagapan sendiri.

"Senyum napa Ven senyum, lo manyun mulu kayak monyet." Reygi menghampiri Raven dengan menepuk pundak cowok itu dengan pelan.

"Nggak usah ngatain diri sendiri." cibir Raven.

"Nggak kangen sama Raven Ray?" tanya Marsel.

"Ha?" Rayna refleks di buat melongo dengan pertanyaan Marsel.

"Si anjir malah di ingetin lagi, Raven udah mupon kan Ven? Nggak ngarepin Rayna lagi kan Ven?" ledek Tomo.

Raven memutar bola matanya malas menjadi bahan ledekan teman-temannya, seharusnya ia tidak ikut saja kesini daripada berakhir seperti ini. Mengingat hal memalukan saat menyatakan perasaan pada psikiater cantik ini dan berakhir naas di tolak membuatnya malu sendiri entah apa yang merasukinya waktu itu padahal ia hanya iseng saja tapi itu tetap berbekas di ingatan teman-temannya yang jahil ini.

"Gue laper anjir, lo pada ledek-ledekan mulu!" keluh Sandy sambil memegangi perutnya yang terasa keroncongan.

"Bisa ke kantin aja." saran Rayna, mengalihkan perhatian daripada terus-terusan menjadi bahan ejekan mereka.

Mereka mengangguk langsung berjalan kearah kantin RSJ, beberapa orang yang menjenguk keluarga mereka menyapa Rayna sepanjang koridor rumah sakit Rayna sangat di kenal di RSJ karena satu-satunya psikiater termuda dan juga sikapnya yang ramah.

"Di kantin RSJ jualan apa Ray?" pertanyaan random dari Tomo hanya mendapat kekehan kecil dari Rayna.

"Biasanya sih tikus mati." timpal Raven kelewat kesal.

"Udah pernah cobain ya Ven?"

"Udah, lo juga harus cobain." balas Raven.

"Lo sering kesini ya Ven, ngintilin Rayna?" lagi-lagi Tomo melemparkan celetukan.

Raven melirik sinis. "Kuker banget gue." Mereka refkeks menertawakan Raven saat sudah sampai di kantin RSJ, membuat Raven tertekan itu adalah kesenangan tersendiri yang tak boleh terlewatkan.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang