51. I admire you so much

963 26 0
                                        

Happy reading
___________________

Seharusnya kamu tidak pernah menawarkan rumah yang sudah berpenghuni, tapi ini bukan tentang rumah.

***

Satu Minggu di rawat dirumah sakit kini Delia di nyatakan bisa kembali kerumah setelah menjalani pemeriksaan dari dokter perihal keadaanya, luka di punggung Delia sudah mulai mengering namun dokter memberi resep obat untuk menyembuhkan luka dalam.

Delia tentunya senang, setelah berhari-hari di rasa cukup suntuk saat menghabiskan waktu di ruangan dengan bau obat yang menyeruak kemana-mana dan brankar rumah sakit tidak se empuk tempat tidurnya dirumah.

Gadis itu sudah duduk dengan tegak di atas brankar, ia sudah bisa menggunakan oversize hijau sage yang tampak leluasa di tubuhnya setelah beberapa hari ini menggunakan pakaian rumah sakit.

Delia tengah menunggu Bundanya yang tengah berkemas barang-barang yang ia gunakan saat disini, lalu Ayahnya yang sejak tadi mengelus rambutnya atas rasa syukur dengan kesembuhan putri semata wayangnya.

"Reygi sama yang lain belum ada ya Bund?" tanya Delia.

Safira menoleh sambil tersenyum tipis. "Reygi sama temen-temennya lagi otw kesini, kalau Gina dan Lisa lagi sarapan di kantin." jawabnya.

"Delia, kalau Ayah larang Delia buat nggak berkomunikasi dengan Reygi lagi gimana?"

Delia dengan cepat mendongak menatap Ayahnya dengan kening berkerut heran. "Emang kenapa Ayah? Reygi kan selama Delia sakit dijagain, lagipula soal tragedi itu bukan kemauannya kan, dia aja nggak tau kalau Delia bakalan datang ke sana."

Delia protes karena menurutnya Ayahnya terus-menerus melempar kesalahan pada Reygi, padahal sejauh ini cowok itu cukup bertanggung jawab dan menyesali perbuatannya.

Wajah Delia yang tadinya ceria berubah masam, ia tertunduk dalam sambil memainkan jari-jari tangannya. Padahal ia sudah cukup jauh dengan Reygi waktu itu, apa sekarang tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

"Delia, dengar Ayah. Sejak kenal Reygi kamu banyak terluka, please ngertiin Ayah, Ayah cuma nggak mau kamu ada dilingkupi oleh orang-orang beracun. Ngerti maksud Ayah kan? Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu, Ayah selama ini selalu menuruti kemauan kamu jadi untuk kali ini turutin kemauan Ayah ya?" Rian memegang kedua pundak Delia, menjelaskannya dengan lembut se berusaha mungkin agar Delia bisa menyerap apa yang dia ucapkan.

"Lagipula kata kamu Reygi punya hubungan dengan psikiater itu kan?" lanjutnya, ucapan Ayahnya yang menohok cukup membuatnya bungkam.

Safira yang selesai mengemas barang-barang, geleng-geleng kepala dengan perubahan Delia karena ulah suaminya. Ia tahu Rian adalah sosok Ayah yang siaga, yang sangat menyayangi Delia namun melihat Delia seperti itu Safira jadi geram sendiri.

Baru juga sembuh, Rian sudah bicara tentang itu lagi. Dengan cepat ia menghampiri Delia untuk bisa menghibur gadis itu kembali.

"Nggak usah dipikirin dulu ya, itu wejangan dari Ayah sebagai sosok yang sangat sayang sama Delia. Ayo turun, kita udah mau kerumah, Delia kangen rumah kan?" ujar Safira untuk membujuk Delia sekaligus memberikan tatapan tajam pada sang suami agar tidak mengucapkan apa-apa dulu.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang