27. Raven kenapa?

861 33 1
                                        

Happy Reading
___________________

Kita nggak bisa maksa seseorang buat suka hal yang sama dengan yang kita sukai, semua orang punya pilihannya masing-masing cobalah untuk menghargai, jangan selalu egois untuk selalu minta di ikuti semua kemauan kamu --- Radelia Maheswari

***

Setelah selesai dengan esktra kurikuler kesenian, Delia keluar dari ruangan tersebut sambil menenteng ransel hijau miliknya ia mendudukkan dirinya kursi panjang depan ruangan eskul. Gsdis itu tengah menunggu Reygi yang katanya lagi ke toilet sebentar.

"Mah aku udah bilang nggak mau ikut-ikutan audisi musik gitu, kenapa Mamah kekeuh banget sih?!"

Delia menolehkan kepalanya pada sumber suara yang membuatnya penasaran, tak jauh darinya ada Dafa dan Mamahnya yang terlihat berdebat.

"Kenapa sih Daf? Mamah mau kamu tuh jadi musisi kayak Papah suara kamu juga bagus ini kesempatan emas buat kamu."

Dafa memutar bola matanya malas. "Terus ninggalin Mamah gitu? Aku udah nurutin kemauan Mamah buat ikut eskul kesenian yang berhubungan dengan musik bukan berarti aku mau jadi musisi kayak Papah yang ujung-ujungnya milih karirnya daripada kita."

"Daf, Mamah salah ya kalau mau lihat sosok Papah di kamu."

Dafa terdiam sejenak tidak ada yang salah dengan keinginan Mamahnya hanya saja ia benci hal-hal tentang Papahnya termasuk musik, kata orang-orang musik itu menyenangkan tapi bagi Dafa musik itu malapetaka untuknya.

"Mamah kesini cuma mau kasih liat audisi musik pop ini ke aku? Mending Mamah pulang deh aku masih mau temuin Pak Dewa."

Delia melihat perdebatan ibu dan anak itu, ia tidak menyangka Mamahnya Dafa mempunyai tekat untuk menjadikan Dafa seperti Papahnya yang merupakan musisi padahal Dafa tidak menyukai itu. Ia bangkit dari duduknya menghampiri keduanya.

"Permisi Dafa, Tante." Delia tersenyum tipis menyapa Mamahnya Dafa.

"Delia, lo belum pulang?" tanya Dafa, Delia menggeleng pelan.

Linda selalu Mamahnya Dafa mengernyit heran ia memperhatikan Delia dari ujung rambut hingga ujung kaki paras cantik yang dimiliki gadis itu memang tiada lawan, jadi ini gadis yang sering Dafa ceritakan padanya.

"Ini Delia?" tanya Linda pada Dafa, cowok itu mengangguk.

"Maaf Tante, bukannya Delia mau ikut campur urusan Tante sama Dafa tapi saran Delia Dafanya jangsn terlalu di paksa buat ngikutin permintaan Tante, Dafa selama ini udah berusaha ikuti kemauan Tante dengan masuk eskul kesenian bahkan Dafa jadi ketuanya yang sebenarnya dia nggak suka itu tapi dia usahakan buat Tante." ujar Delia panjang lebar.

Linda tertawa pelan. "Delia, kamu nggak perlu ngajarin saya mana yang benar mana yang salah emang salah kalau Dafa mau turutin permintaan saya? Kamu seharusnya bujuk Dafa untuk bisa nurutin kemauan saya kamu juga suka musik kan? Seharusnya kamu kasih tau ke Dafa dunia musisi itu nggak se buruk yang dia pikir."

Delia terdiam sejenak, benar kata Linda dunia musisi itu tidak seburuk yang Dafa pikir tapi untuk Dafa yang sudah terlanjur mempunyai sudut pandang yang buruk tentang musik ataupun tentang dunia entertainment sulit untuk Dafa mengerti hal itu.

HEI, REYGI! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang