Setelah sampai di kantin, Zara dan teman-temannya segera duduk dan tak lupa memesan makanan. Karena kejadian tadi, makanan Zara bahkan tidak habis dan masih tersisa cukup banyak.
"Eh, Zar, btw tadi lo berantem, ya?" tanya Raya yang membuat Zara heran. Dari mana Raya tahu?
"Bukan gue, tapi Rena," jawab Zara.
"Loh, kok bisa? Gara-gara apa?" tanya Vio penasaran.
"Jadi gini..." Zara pun menceritakan kejadian tadi dari awal sampai akhir. Mendengar ceritanya, teman-temannya ikut kesal.
"Ih, gila, ya, emang mereka. So-soan banget, tau nggak sih? Mereka pikir ini kantin punya mereka apa?" kesal Raya. Ia memang sudah bosan mendengar berita tentang anggota inti RAVENDRAS, seolah-olah semua yang ada di sekolah ini adalah milik mereka.
"Gue juga kesel lihatnya," sahut Zara yang sama-sama kesal dengan kelakuan para badboy sekaligus most wanted di SMA MANGGALA itu.
"Tapi gapapa sih, mereka kan ganteng," ujar Vio.
Vio memang salah satu sahabat Zara yang tergila-gila dengan pesona kaum adam. Berbeda dengan Zara, Raya, dan Rena yang sama sekali tidak terlalu peduli soal itu.
"Dih, percuma ganteng kalau kelakuannya gitu," sahut Raya kesal.
"Yaudah sih, ngapain juga ngurusin hidup orang? Nggak guna tau," ucap Zara sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Iya juga sih," jawab mereka bersamaan.
Setelah selesai makan, Zara, Vio, dan Raya pergi untuk menemui Rena di taman belakang sekolah.
"Eh, kok ngilang?" heran Zara ketika melihat Rena sudah tidak ada di tempatnya tadi.
"Mungkin udah ke kelas kali, Zar," ucap Vio.
Zara mengangguk. "Yaudah, ayo ke kelas. Sekalian nyimpen tas."
Mereka pun segera pergi menuju kelas. Pasalnya, Zara sedari tadi belum sempat menyimpan tasnya.
"Eh, aduh, Zar. Lo berdua duluan aja. Gue mau ke toilet dulu, kebelet," ucap Vio.
Zara dan Raya mengangguk.
"Yaudah sana."
Di sepanjang koridor, Zara dan Raya mengobrol tentang hal-hal receh sampai akhirnya mereka tertawa tidak jelas.
"Hahaha, udah, Zar. Udah nggak kuat gue," ucap Raya sambil menghapus air matanya karena terlalu asyik tertawa.
"Hahaha, ngakak banget lo, Ray."
Melihat Raya sampai mengeluarkan air mata karena tertawa, Zara malah ikut tertawa semakin keras.
"Udah ah, gue jadi mau pipis, njir," ucap Raya sambil menahan tawanya.
"Yaudah, sono," jawab Zara sambil mendorong tubuh Raya agar segera pergi ke toilet. Takutnya Raya benar-benar nggak kuat menahan pipis dan malah ngompol di sini. Kan nggak lucu.
Kini Zara berjalan di koridor seorang diri. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya langsung menoleh. Ada yang memandang kagum, ada juga yang sekadar berbisik di belakangnya.
"Wah, itu Zara cantik banget, gila."
"Andai dia mau jadi pacar gue."
"Susah banget, ya, dapetin hati Zara."
"Zara mah tampilnya apa adanya, ya."
"Cantik apaan? Cantikan juga gue."
"So banget sih."
Zara hanya mengabaikan berbagai tanggapan itu. Ia lebih memilih tersenyum kepada orang-orang yang memujinya dan membalas sapaan siswa yang mengenalnya.
"Hai, Zara," sapa salah satu siswa.
"Hai," jawab Zara sambil tersenyum.
Senyum sederhana itu berhasil membuat siswa tadi langsung salah tingkah. Mungkin karena jarang sekali melihat Zara tersenyum kepadanya.
Di sisi lain, tepat di depan Zara, terlihat lima orang lelaki berjalan bersama. Kehadiran mereka sontak membuat beberapa siswi di sekitar koridor berteriak histeris.
"Oh, ini cewek yang tadi lo bilang cantik?" tanya Reza ketika mereka berpapasan dengan Zara.
"Iya, ini orangnya," jawab Dean santai.
"Emang cantik sih. Lebih cantik lagi kalau mau jadi pacar gue," ujar Reza dengan santainya.
Ucapan itu langsung mendapat tatapan tajam dari Bian.
"Yaudah sih, Bi. Lagian gue cuma bercanda. Tapi kalau dia yang mau, mah ayo," ucap Reza sambil cengengesan.
Berbeda dengan yang lain, Alzar sedari tadi tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya justru terus mengikuti Zara yang berjalan melewati mereka.
Rasya yang menyadari hal itu langsung menyenggol lengan Alzar.
"Jangan diliatin terus, Zar. Nanti sayang," bisik Rasya menggoda.
Alzar langsung mengalihkan pandangannya.
Namun, beberapa detik kemudian, ia malah berjalan mengejar Zara.
"Ikut gue."
Tanpa menunggu persetujuan Zara, Alzar langsung menarik tangannya dan membawanya menuju kantin belakang sekolah, tempat yang biasa dijadikan basecamp RAVENDRAS ketika berada di sekolah.
"Ih, apaan sih? Lepasin!" kesal Zara karena Alzar seenaknya menarik tangannya dan membawanya ke tempat itu.
"Gue mau ngomong," ucap Alzar dingin.
"Ya ngomong!" Zara semakin kesal dengan sikap Alzar yang menurutnya aneh.
"Gue serius."
Nada bicara Alzar terdengar semakin dingin dan membuat suasana mendadak terasa berbeda. Zara bahkan sempat merinding.
"Y-yaudah, ngomong," jawab Zara sedikit gugup.
Kalau boleh jujur, Zara memang sedikit takut dengan nada bicara Alzar. Sedikit. Garis bawahi: sedikit.
Namun, bukannya mengatakan sesuatu, Alzar justru terdiam beberapa saat.
"Gak jadi. Dah, gak mood."
Alzar langsung pergi begitu saja, meninggalkan Zara yang masih berdiri dengan wajah penuh kebingungan.
"Dih, dasar cowok aneh," gumam Zara kesal.
Ia pun segera pergi meninggalkan tempat itu karena bel masuk sudah berbunyi.
.....
To be continued
HAI GUYS GIMANA PENDAPAT KALIAN
TENTANG PART INI? JANGAN LUPA
KOMEN AND VOTE YA
BIAR BISA LANJUT KE PART BERIKUT NYA
~ANNYEONG~
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZAR
RomanceAlzar Gheo Majahesa,seorang lelaki berparas tampan dengan rahang yang kokoh,postur tubuh yang tinggi,gagah,dan jangan tinggalkan sifat dinginnya yang membuat kaum hawa terpana.Dan satu lagi Alzar adalah ketua dari geng motor bernama RAVENDRAS. Azara...
