Chapter 14

3.5K 301 12
                                        

{Happy Reading}

Tinggalkan jejak kalian disini.

Kepulan asap rokok memenuhi balkon,seorang lelaki dengan bandana hitam dikeningnya menghisap rokok dengan khidmat malam ini.

Memandang lurus ke depan dengan kaki yang menyilang di atas meja, mematikan putung rokok dan membuang serta mengambil yang baru untuk ia hisap.

Kegiatan ini telah berlangsung selama dua bulan belakangan ini, ia hanya akan merokok ketika memiliki beban pikiran yang berat serta mood yang tida baik.

Menaruh rokoknya di asbak dan meminum susu yang telah dibuatkan untuknya,lelaki ini sangat menyukai susu.

"Haahh"

Menghela napas panjang dan menyugar rambutnya kebelakang,tangan kanannya mengambil sebuah gitar yang tak jauh dari tempatnya.

Menimmati hembusan angin malam dan ditemani ratusan bintang yang berada dilangit dan bisingnya suara kendaraan, Akhtar memulai memetik gitarnya.

Tak tau bagaimana aku tanpa dirimu..

Tak pernah terbayangkan..

Hanya dua lirik yang ia nyanyikan, sudah dipastikan yang mendengar suaranya akan bersipu merah karena baper mendengar suara berat dan candu itu bernyanyi.

Menyunggingkan senyum aneh "Hah, kenapa gue malah mikirin tu cewe teroris? "

Akhtar menggelengkan kepalanya "Arkhh! Gue kenapa sih?! Masa iya gue suka sama Afsya? "

Menghela napas berat dan kembali menghisap rokoknya, Akhtar mengetuk ngetukan jarinya di atas gitar.

"Afsya, lo cewe yang pertama kalinya buat gue uring uringan gak jelas kaya orang bego, lo harus tanggung jawab"

Akhtar melepas bandana hitamnya "Siapa Afsya sebenarnya? "

Akhtar mengambil ponselnya di saku dan mulai mencari identitas Afsya, lelaki itu sangat lihai mengotak atik ponselnya sesuai keinginannya.

Akhtar menganggukan kepalanya paham "Afsya Aelayah Az-Zahra putri kandung Afnan Al-Farizi"

"Nama yang cantik"

Akhtar membuang semua rokok yang berada didekatnya, ia kembali menaruh gitar dan berdiri untuk masuk ke dalam kamar.

...

Pagi hari.

Menatap kain hitam yang berada ditangannya, Afsya menghela napas pelan dan mulai memakainya di wajahnya. Cadar, benda yang selalu bersamanya sampai saat ini.

Afsya mengambil bukunya untuk ia bawa ke sekolah hari ini, tak lupa ia akan membawa dua novel religi untuk ia baca dikelas nanti.

Afsya menggendong tas sebelah bahunya ,tangannya ia gunakan untuk membawa sepatu sedangkan tangan satunya untuk membawa ponsel.

Di meja makan sudah ada Afiqoh dan Arga, ia menaruh sepatunya di depan terlebih dahulu dan berlalu duduk disamping Arga, ia meletakan ponselnya di sebelah Arga.

"Kamu mau bawa handpone? "

Afsya menggeleng "Enggak, ayah tolong ajarkan bagaimana menggunakan ponsel ini dengan benar,maaf Afsya belum paham"

Arga mengangguk, ia mengambil ponsel Afsya dan mulai mengotak atiknya, Afsya memperhatikan Arga dari samping, alisnya mengernyit melihat leher Arga yang terdapat bekas merah.

Ia menyentuhnya "Ayah, leher ayah kenapa? Kenapa pada merah begini, apa semalam banyak nyamuk? "

Arga terkejut, ia menepis pelan tangan Afsya yang menyentuh lehernya, ia melirik Afiqoh yang menahan malunya "Iya, semalam ayah digigit nyamuk besar, sakit tapi nikmat"ucapnya seraya melirik Afiqoh

AFSYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang