Chapter 35

3.1K 295 21
                                        

{Happy Reading}

Jika kamu mencintainya, biarkan dia pergi,dan jika dia kembali,berarti dia milikmu
-Ali Bin Abi Thalib

3 tahun kemudian

Hari berganti hari,minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Waktu akan berjalan cepat dengan seiiringnya, kedamaian, ketenangan, dirasakan gadis bercadar yang sudah lebih tiga tahun hidup didalam penjara suci, pesantren.

Diusia yang ke-20 tahun sudah membuat sikap dan pola pikir yang dewasa, menghapal ayat ayat al-qur'an sejak dini membuahkan hasil, dirinya telah mengkhatamkan al-qur'an 30 juz.

Hubungannya dengan keluarga ndalem sempat renggang, beruntung pemilik pondok ini selalu meminta gadis bercadar itu mengunjungi rumah sakit, tepat dimana istri pemilik pondok ini dirawat.

Rawat? Iya, dinyatakan koma tiga tahun yang lalu. Tidak ada reaksi apapun dari Alma, tepat dibulan ke tiga, pihak dokter meminta izin untuk mencopot alat alat yang dipakai Alma, tapi dengan tegas Yusuf menolaknya.

Ia sangat yakin, suatu saat nanti Alma akan sadar.

"Mbak Afsya, mbak dipinta yai ke ndalem"

Gadis yang tak lain adalah Afsya, gadis itu menoleh ke arah seorang gadis yang berdiri dengan tangan yang memegang permen, ia mengangguk.

Afsya berjalan menuju ndalem, gadis itu tumbuh dengan baik, dalam waktu tiga tahun ia merubah sifat dan sikapnya,perubahan fisik pun dialami Afsya, gadis itu lebih tinggi.

Afsya sendiri sudah bersikap seperti awal pada Ali, dua tahun yang lalu Ali mengajaknya kembali menikah.

Flasback on.

Ali menatap dalam mata coklat milik Afsya, lelaki itu meminta Afsya untuk datang di gezebo santriwati, Afsya awalnya menolak, tapi paksaan Ali yang mendatangkannya disini.

"Kenapa kamu meminta saya kesini gus? "

Bukannya menjawab, Ali merogoh saku kokonya, sebuah kotak berwarna biru, dibukanya secara perlahan dan diperlihatkan kepada Afsya.

Afsya menatap sebuah cincin yang cukup indah didalam kotak biru ini, alisnya mengernyit bingung "Cincin? "

Ali mengangguk "Maksudnya apa? "

"Aku ingin kamu menikah denganku Afsya"

Afsya tertegun, matanya berkaca kaca, hatinya terasa sesak, ingatannya kembali pada ungkapan Alvi yang ingin dirinya menikah dengan adiknya, Ali.

Kepalanya menggeleng pelan "M-maaf, saya tidak bisa"

Ali menutup kembali kotak itu, raut wajahnya terlihat sedih "Kenapa? Apa kamu tidak ingin menikah denganku? "

"Menikah bukan untuk main main gus"

"Saya tidak bermain, saya serius"

Lidah Afsya terasa kelu, kakinya melemas bagaikan jelly, sebisa mungkin ia menyeimbangkan bobot tubuhnya "Kenapa gus tidak mengerti? Saya sudah pernah bilang waktu itu bukan? Saya tidak ingin menikah"

AFSYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang