{Happy Reading}
Saat ini, Afsya berada di ndalem atas perintah kyai Yusuf yang lewat santriwati ndalem. Afsya sendiri tidak tau apa kesalahannya sehingga dirinya akhir akhir ini sering dipanggil, walaupun hanya masalah sepele dan masalah tentang hapalannya.
Keadaan hanya ada kecanggungan,Afsya menatap satu persatu keluarga ndalem yang berkumpul pada saat ini, dan jangan lupakan, disini pun ada kyai Khazem.
Afsya melirik Alya, gadis itu seolah meminta penjelasan tentang keadaan saat ini, Alya menggelengkan kepalanya tak tahu, gadis itu pun sama sekali tidak tau masalah apa yang terjadi saat ini.
Selepas pulang sekolah pun, abah dan kedua kakak laki lakinya sudah duduk dengan gus Alvi dan gus Ali menunduk,karena rasa penasaran yang tinggi, Alya memutuskan untuk mengganti pakaian dan sholat lalu makan, dan berakhir ikut duduk disini.
"Ekhem! "
Semua pasang mata menatap kyai Yusif yang berdehem, pria paruh baya itu menatap satu persatu putranya lalu menatap Afsya,Afsya yang ditatap seperti itu pun terasa sangat canggung.
"Zem, kamu tau kenapa saya meminta kamu datang kemari? "kyai Khazem menggeleng
"Baik, Ali silahkan kamu berbicara"
Ali mendongak "Kenapa Ali? Kenapa tidak mas Alvi? "
Gus Alvi meremas sarungnya kuat kuat, dirinya sangat kesal bercampur marah dengan sikap gus Ali yang masih labil "Maju lo Ali!"batinnya
Afsya yang melihat gus Alvi meremas sarungnya mengernyit bingung "Ini ada apa ya? Kalo tidak apa apa, saya izin kembali ke asrama"
"Jangan dulu nduk"
Afsya mengatup kedua bibirnya, ia menunduk karena merasa malu dan canggung. Tangannya menyentuh tangan kyai Khazem, gadis itu menatap kyai Khazem.
Kyai Khazem menggelengkan kepalanya tidak tahu, jujur saja dirinya pun sama sekali tidak tau ada apa saat ini, ia hanya dipinta teman karibnya untuk datang kemari.
"Alvi? "
Gus Alvi menggeram kesal, tapi ia tetap mendongak "Siapa yang tadi ngotot mau ngomong? Bukan saya, tapi Ali"
"Ish, mas Ali cepat dong, kita penasaran lho, mas Ali! "desak Alya
Gus Ali berdehem, sebelum berbicara ia menatap Afsya terlebih dahulu "Saya Ali Assegaf ingin mengatakan hal penting menyangkut masa depan saya"
Gus Ali menarik napas nya dalam dalam dan menghembuskan nya secara pelan "Saya ingin menjadikan Afsya Aelayah Az-Zahra menjadi istri saya"
Hening.
Sedangkan Afsya terkejut, matanya sudah berkaca kaca, bibirnya bergetar menahan isakan, ia menatap gus Ali "G-gus Ali? "
Gus Ali mengangguk "Aku serius sama kamu sya, aku ingin menjadikan kamu sebagai istri ku dan bidadari syurgaku, in syaa Allah"
Afsya menunduk, tangannya saling bertautan,ia mendongak menatap gus Alvi yang diam dengan tatapan yang sulit diartikan,Afsya menatap kyai Yusuf yang tersenyum padanya, dan beralih pada Alya yang nampak kecewa dan sedih dengan ucapan gus Ali "Kenapa gus Ali ingin menjadikan saya istri? "
"Karena aku mencintai mu, aku tidak bisa menahan rasa cinta ini, aku ingin memilikimu Afsya"
Afsya memejamkan matanya, ia terus melirik gus Alvi,dilubuk hatinya berharap gus Alvi mengucapkan sepatah katapun.entah apa yang ia harapkan.
Gus Alvi mendongak, ia menatap mata yang menahan air mata itu, ia menggelengkan kepalanya, meminta gadis itu tidak menangis "Jangan menangis sya"batin gus Alvi
KAMU SEDANG MEMBACA
AFSYA
Action"Ibu lo gak pernah kah ngajarin sopan santun? " "Apa kamu bilang? " "Lo! Ibu lo gak pernah kah ngajarin lo sopan santun?! " "Berhenti bertanya hal yang tidak seharusnya saya jawab,saya tanya kamu balik, apakah ibu kamu tidak pernah mengajari kamu ak...
