Mata Nora mengedar, mengamati rak di hadapannya. Mulai dari bentuk kuas yang normal sampai unik. Mulai dari tebal sampai tipis. Juga berbagai macam warna cat air. Yang harganya murah rendah hingga yang paling mahal.
Nora memasukkan perlengkapan melukis yang ia butuhkan ke dalam keranjang yang ia pegang. Kemudian celingukan mencari dua keponakannya yang menemaninya ke sini.
Membawa langkahnya hingga mencapai ke tempat berbagai macam bentuk dan juga ukuran kanvas. Ia menemukan Archer dan Alula yang sedang berdebat kecil.
"Tapi ini gede banget lho, Lula. Emang kamu mau gambar apa sih?"
"Ya ... mau gambaw pemandangan," balas Alula dengan suaranya yang cadel.
"Ya bisa gambar di buku gambar, kan?" Archer masih kukuh agar Alula tak membeli kanvas berukuran besar tersebut.
"Ih! Aku mau melukis di sini."
"Tapi kamu belum jago-jago amat lho La! Sayang lho kalau kanvas ini berakhir cuma dicoret-coret aja."
"Namanya juga belajaw." Alula cemberut dan mulai merengek.
"Tetep gak boleh!"
"Kan aku belinya pake uangku sendiri. Kamu kenapa sih ngelawang aku?"
"Ya tetep gak boleh!" Archer yang membawa keranjang belanja di lengan tangan kirinya segera menarik lengan Alula menggunakan lengan kanannya. Membuat Alula semakin merengek, tapi tidak memberontak sama sekali.
Nora tersenyum geli melihat keduanya. Meski Alula lebih tua dari Archer beberapa bulan, tapi Archer lebih seperti kakak bagi Alula yang super manja. Mengingatkan Nora pada masa remaja. Gadis yang manja dan tidak akan berhenti merengek jika keinginannya tidak di penuhi.
Nora menghampiri keduanya hingga mereka berhadapan. Segera saja Alula merengek ingin membeli kanvas berukuran besar tersebut dan mengadu jika Archer melarangnya.
"Ya udah beli aja," ujar Nora. Alula langsung berbinar. Archer sendiri merengut. "Kok ngelarang Alula beli kanvas yang gede?"
Alula sendiri kini bersama pegawai toko memilih kanvas berukuran besar tersebut.
Archer menatap Alula, lalu menatap Nora. "Pasti nantinya cuma jadi dicoret-coret doang."
"Lho emang itu tujuannya."
Archer mengerutkan kening. Nora tersenyum lembut, ia mengusap kepala keponakannya itu. "Walaupun Alula masih proses belajar, tapi harus tetap menghadapi tantangan, bukan?" Kening Archer semakin merengut. "Asal kamu tau, Aunty dulu waktu pertama ngelukis langsung di kanvas besar. Sama sekali gak pernah di buku gambar. Yang Aunty lakuin ya, cuma coret-coret doang karena Aunty belum pandai melukis. Belum tau tekniknya, bahkan mewarnai aja pakai teknik. Aunty benar-benar buta waktu itu. Tapi, Aunty merasa harus menghadapi tantangan, kalau bisa melukis di kanvas besar, berarti Aunty bisa melukis di kanvas kecil dong?"
Tidak sepenuhnya benar apa yang Nora katakan.
Menjadikan melukis sebagai hobinya hanya untuk mengalihkan rasa sakit yang dideritanya. Ingin fokus mempelajari hal yang tak pernah ia pelajari sebelumnya, agar ia tak sempat mengingat apa yang membuatnya kesakitan. Pilihan yang tepat hingga secara perlahan, juga didampingi psikiater, ia dapat melalui semuanya meski bertahun-tahun lamanya, meski belum bisa sembuh total. Tapi sekarang jauh lebih baik, daripada beberapa tahun yang lalu.
"Kenapa lihat-lihat?!" Nora tersentak saat Archer setengah membentak. Tatapan pemuda itu tertuju ke arah belakang tubuhnya. Ia menoleh dan hanya melihat siluet seseorang yang pergi ke balik rak. Kemudian ia kembali menatap Archer.
KAMU SEDANG MEMBACA
I HATE MEN
ChickLit|OHMYSERIES-5| Apa yang membuatnya membenci sosok pria? Alasannya karena yang terjadi masa lalu. Membuatnya selama bertahun-tahun terus menerus bermimpi buruk. Membuatnya ketakutan setengah mati hingga menimbulkan perasaan takut terhadap lawan jeni...
