Berawal dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja, hingga tanpa sadar membawa keduanya terjebak dalam perasaan yang sama.
"Sekali lagi, terima kasih?"
Mengerti tatapannya, Flo langsung menyerukan namanya. "Flo, Florenza Qiandra."
"Yaa, terima kasih...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari brankar-nya, Ravi menatap Denzel yang sudah beberapa hari ini terlihat kacau. Sepertinya sedang banyak pikiran. Kehadirannya bahkan seolah tidak dianggap, karena lelaki itu begitu fokus pada i-Pad ditangannya.
"Persetan, dengan orang-orang yang sudah tertangkap oleh polisi. Yang terpenting, Denzel belum bisa mendapatkan bukti bahwa saya ikut terlibat."
"Lihat saja, mereka semua tidak akan berani membuka mulut!"
"Kurang ajar! Saya akan lenyapkan mereka semua! Tidak ada yang bisa menghalangi saya, siapa pun itu orangnya."
"Jangan ceroboh, jangan sampai Denzel dan juga orang-orangnya tau rencana kita sekarang!"
Denzel tersenyum sinis. Memangnya dia akan takut? Selama ini Denzel tidak pernah mengenal takut apapun dengan berbagai ancaman dari Om-nya. Yang ia takutkan, justru membuat orang-orang terdekatnya terluka, karenanya.
"Cari tahu siapa gadis yang bersama Denzel. Kita akan pakai gadis itu untuk membuat Denzel bertekuk lutut."
"Sudah dapat alamat apartemennya? Bagus, karena mulai sekarang kita akan mengincar dia."
"Rupanya ancaman kemarin hanya dianggap angin lalu. Berani sekali gadis itu!"
"Kalau gadis itu masih terlihat bersama Denzel, kita pakai rencana B."
"Dan kalau memang sudah tidak bisa dengan cara baik-baik. Lukai saja gadis itu, saya tidak peduli. Karena yang sesungguhnya saya incar adalah perusahaan dan harta milik Denzel!"
Denzel benar-benar tersulut emosinya, mendengar rekaman demi rekaman yang selalu membawa nama Florenza. Lebih marah lagi, karena sebelumnya dia sendiri tidak tahu-menahu mengenai hal tersebut.
Denzel sungguh merasa bersalah. Ya Tuhan, bagaimana respon Flo saat menerima ancaman tersebut? Arghhh, bodoh! Denzel tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri.
"Tuan, baik-baik saja?"
Mengenai kondisi Ravi saat ini, ia sudah merasa jauh lebih baik. Kemungkinan, dalam waktu dekat ini ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Sebenarnya, tanpa bertanya pun Ravi sudah bisa mengenali arti dari ekspresi Denzel. Namun untuk penyebabnya, Ravi sendiri memang belum tahu.
"Kenapa? Emangnya saya keliatan lagi ga baik-baik aja?" Denzel menaikkan sebelah alisnya saat mengatakannya.
Mendapati anggukan dari Ravi, sukses membuat Denzel tersenyum tipis. Apakah itu sangat jelas? Tetapi disaat-saat seperti ini, bisa dipastikan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membaca kondisi Denzel.