9. Mangsa Mutilasi

80 4 2
                                        

Annyeonghaseyo.
Selamat datang, jangan lupa vote sebelum
membaca, biar gak lupa.
Kamsahamnida.

ㅗㅗㅗㅗㅗㅗㅗ

"Dih, gak jelas banget tuh cowo." Ia menatap jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukan waktunya pulang, ia pun pergi ke tempat Ezra bekerja.

Kebetulan sekali Manager Tara datang untuk memberinya sebuah map. "Tolong ini diperbaiki, setelah itu berikan ke saya,, ini sangat penting, dan besok pagi akan segera dibahas," kata Manager Tara yang tiba-tiba datang.

"Ta-tapi udah-"

"Ya, udah waktunya pulang, kan? Saya juga tau, saya juga pengen pulang, kok. Tapi, emang kamu bisa nyelesein ini untuk besok pagi?"

"Dari pada kamu cape-cape di rumah ngerjain ini, terus pekerjaan di luar kantor terbengkalai?" sambungnya.

"Hm, baiklah, Pak, saya kerjakan sekarang." Tangannnya mengambil map lalu kembali duduk dan mengerjakannya.

"Sial, sial, sial, padahalkan gue ada janji ama besteh, ah elah gue mah," dumalnya dalam hati.

7 PM.

"Huh, akhirnya kelar juga, kenapa sih gue harus overtime mulu, kan gaji gue tetep aja segitu, ditambah cuma overtime doang, naik gaji kek, ah elah," gerutunya sambil berjalan menuju ruang Manager Tara.

Tuk, tuk, tuk, punggung jemarinya mengetuk pintu.

"Masuk."

Aletha masuk. " Sudah selesai, Pak."

"Bagus sekali kerja kamu, terima kasih."

"Oh ya, sebagai gantinya, saya sudah kirim berita ke grup kantor untuk tidak berurusan dengan perusahaan Yaz Magdala,"

"Hah, itu kan tugas saya?"

"Iya, kan saya bilang, sebagai gantinya karena kamu nyelesin ini, saya bantu kamu aja," ujarnya sedikit menyombongkan diri.

"Iya deh, Pak, makasih banyak, saya pamit ya." Aletha segera keluar, takut disuruh lagi.

Berjalan santai dengan ponsel yang menunjukkan banyaknya pesan dan panggilan dari Ezra. Tanpa sengaja ia terkecoh dengan plang yang ada di depan pintu ruangan Luann. Tertulis dengan jelas ada nama Luann di sana.

Ada sebuah kaca bergaris di dindingnya, siapa pun bisa mengintip ke dalam, tapi mereka tak berani, karena ada CCTV yang jelas mengarah ke pintu, tapi yang namanya Aletha, ia tak takut dan lebih ke bodo amat.

Deg!

"Emp, jadi dia juga mepet Luann ya? Kalo dibandingkan dia, gue kalah sih, secara dia cantiknya kebangetan, mana asisten si Luann lagi, hah, tidak ada harapan sudah," batinnya yang mengintip, menyaksikan kedekatan Aggie dan Luann.

Ia menghela napas lalu melangkah pergi.

**

"Lo ke mana aja sih, ini udah mau beres, Kintil!" bentak Ezra kesal karena ia harus menyelesaikan bahan untuk dekor seorang diri.

"Maaf, gue lembur. Kayanya gue harus ganti jam masuk kerja deh," sahutnya lemah.

"Kok muka lo begitu, kerjaannya banyak bat ya?"

"Bukan banyak lagi, tapi ...."

"Kenapa?"

"Kok ngeliat Luann ama cewe lain gue sakit ya?" Wajah Aletha tak kunjung berubah, masih saja murung.

"Hah, gue bilang juga apa, dia gak baik, kan? Jadi gak usah ada urusan ama dia. Apa lo gak denger pas dia bilang suka ama gue? Terang-terangan dia bilang kaya gitu tapi lo malah kepincut," celoteh Ezra mengingatkan Aletha.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang