35. Aletha Sadar

20 0 0
                                        

Malam ini langit tidak begitu gelap, wajar saja, jarum jam di tangan masih menunjukan jam 7 PM. Ezra melaju pelan menuju rumahnya, ia sempat mampir ke warung minuman dulu, membeli 3 botol kemudian pulang.

Sampai di rumah, ia mandi kemudian menyiapkan makan, tidak aneh-aneh, ia hanya memasak mie pedas samyang, ia ingat pada Aletha yang suka pedas walaupun setelahnya ia sakit perut.

Pakaiannya kini menjadi santai, kemeja over size dan celana pendek saja. Duduk di bawa sofa dan bersandar, menyalakan TV dan menonton film di Netflix kemudian membuka minuman lalu dituang ke gelas kecil.

"Hahaha, anjing, anjing, anjing, lucu banget, what the hell!" teriak Ezra ngakak, ia tak kuasan menahan emosi saking lucunya.

Tangannya menuangkan lagi wine ke gelas kemudian diminum sekali tenggak. "Ah, malam ini mikmat sekali, ah, kalo ada Aletha makin seru ini, hah, sialan tuh bocil, suruh ke rumah gue malah gak ke sini."

**

Aletha pamit pulang ke mama, ia ingin menikmati weekend-nya seorang diri di apartement dengan beberapa wine.

"Hati-hati ya, Sayang." Mama memeluknya.

"Ya, Ma. Mama juga jangan terlalu mikirin aku, aku pasti jaga diri dan baik-baik di sana, yang penting Mama di sini tetap makan dan semangat, jangan mikirin papa ya."

"Tapi Mama juga mikirin kamu, mana mungkin kamu kehilangan papa."

"Walau papa nikah dengan perempuan lain, tapi kan dia tetep papa aku, gak mungkin aku kehilangan papa hanya karena itu, kan? Kecuali kalo mati."

"Hus, jangan ngomong gitu ah, dah sana berangkat, hati-hati." Mama mengacak rambutnya.

"Ih, Mama!"

"Hehehe." Mama hanya ngengeh, Aletha pergi kemudian dengan ojek online.

Tidak begitu jauh dengan stasiun Aletha langsung masuk ke dalam karena ia membeli tiket bolak-balik. Masuk ke dalam sambil menyalakan film di ponselnya.

Di kereta, seseorang memperhatikan Aletha dari jarak yang tak begitu jauh. Ia berhenti di stasiun yang menjadi tujuannya, turun dengan santai sambil tertawa melihat film komedi yang ditontonnya, lelaki bertopi juga mengikutinya.

Ia masih berdiri untuk menunggu angkot. Sudah hampir 30 menit ia menunggu di tepi jalan, tapi angkot belum kunjung muncul. Mungkin malam semakin larut, membuatnya memutuskan untuk berjalan kaki saja, mungkin akan menemukan angkot.

"Asyh, sial, mati lagi HP gue," gerutunya sambil mengepal ponsel kemudian menyimpannya ke dalam tas. Sebuah mobil mengikuti langkah kaki Aletha. Tak lama menyalip kemudian menarik dan memasukkannya ke dalam.

Aletha tidak bergerak, ia dibuat tak sadar oleh lelaki itu. Tiba di kediaman si lelaki, nampak tidak asing. Lekaki itu membuka topi dan maskernya, itu ternyata Hazan, ia sejak pulang kerja langsung mencari lokasi Aletha kemudian menyusulnya.

Aletha terbaring lemah di kasur, sedang Hazan sibuk dengan laptopnya di meja yang satu kamar dengannya. Sebuah gelap bening berisikan wine untuk menemani Hazan malam ini. Ia nampak senang bisa mendapatkan Aletha lagi.

Aletha melihat seorang lelaki tengah menikmatinya, wajah itu benar-benar jelas dan itu adahal Luann, dengan tubuh yang mirip Aletha tidak bisa bergerak sedikitpun. Bagaimana bisa di tempat ini ada Luann.

"Aaaaaaa, pergi kamu!" jerit Aletha yang langsung duduk dari tidurnya.

"Hah, hah, hah, aku ternodai!" raungnya sambil memeluk diri.

Hazan yang tengah asik menoleh padanya. "Kenapa Sayang?" ia menghampiri.

"Hazan, ngapain kamu di sini?" tanya Aletha dengan tatapan yang asing baginya.

"Aletha, kamu nginep di rumah aku."

"Nginep, sejak kapan gue nginep di rumah lo, deket ama lo juga kagak gue, ngadi-ngadi aja lo." Nada bicara Aletha kembali.

"Oh ya, kalo gak salah gue, aaargh! Sakit bat pala gue, ah, bentar-bentar, kalo gak salah tadi gue lagi di stasiun kan, mau balik rumah? Iya-iya, gue tadi mau balik ke rumah. Aaaah, jadi yang nyulik gue elo?" Wajah Aletha tak takut sama sekali.

"Justru aku selametin kamu," elaknya dengan wajah meyakinkan.

"Gak, gue sadar kok, lo yang bawa gue, bajunya juga sama, gue gak bego, ya?"

"Aku gak bohong."

"Oh ya, ponsel gue mana?" tangannya membalik menunjukan telapak tangan.

"Mana aku tau."

"Hah, rese lo." Aletha merogoh semua saku yang ada di pakaiannya. "Oh ini dia, sorry ye." Aletha menyalakan ponsel.

"Eh, mati ponsel gue, minjem casan lo dong." Aletha melangkah ke meja.

"Biar aku aja, Yang." Hazan menahan tangan Aletha.

"Yang?" Aletha membalikkan badan.

"Sejak kapan lo manggil gue, Yang?" sambungnya.

"Kan kita pacaran?"

"Heh, gue tau lo bawahan gue, dan itu gak penting, eh, maksudnya, lo mau bawahan ato atasan gak penting bagi gue, yang penting adalah sejak kapan kita pacaran?!" Aletha menatap tajam padanya.

Hazan terdiam. "Jadi dia udah sembuh?"

"Jawab gue?" desak Aletha.

"Emh, kita udah jadian beberapa bulan lalu," sahut Hazan penuh harap.

"Hazan, gue tau lo ganteng, tapi bukan berarti gue jadian ama lo, kan?"

"Apa salahnya kalo kita pacarana, kan kamu juga jomblo," debat Hazan, berusaha memasukkan kesempatan.

"Ya, gue tau gue emang gak punya pacar, tapi itu pilih-ahhh." Tiba-tiba saja kepalanya sakit sekali.

"Argh, anjing sakit banget pala gue, aaaargh." Aletha semakin menekan kepalanya.

Hazan merebahkannya di kasur lagi. "Gawat ini," batinnya kemudian mencari sesuatu di dalam laci. Hazan menemukan sesuatu yang dicarinya, suntikan yang telah diisi obat cair disuntikkan ke Aletha yang tak sadarkan diri, kemudian Hazan mengirim pesan pada Aggie.

Hazan nampak frustasi dengan kembalinya ingatan Aletha, ini tidak bisa dibiarkan, ia akan menjadi apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Hazan keluar dari kamar, tak lama ia kembali dengan tali di tangannya.

Aletha bangun di pagi hari, ia mendapati dirinya dalam ikatan yang menyiksanya. "Aaaah, lepasin gue, Bangsat!" Bukannya menikmati bangun pagi, ia malah mengumpat.

"Hazan, lepasin gue, Anjing!" teriak Aletha lagi, ia berusaha duduk dengan kedua tangan dan kaki yang seperti ini.

Ceklek.

Hazan masuk dengan makanan di nampan, penampilannya sudah siap untuk berangkat ke kantor. "Selamat pagi, Sayang," sapanya dengan senyuman indah.

"Hahaha, selamat pagi, Psychophat," sahutnya sambil mengejek.

"Kok psycho? Aku kan baik, gak siksa kamu?" Hazan duduk di kasur menghadap Aletha.

"Kalo bukan, ngape lo ngiket gue kek gini, lo pikir gue kalo bangun tidur kaga pen kencing, hah?" Aletha nampak tidak begitu takut dengan adanya ia di kediaman Hazan.

"Oh, kamu mau pipis, boleh." Dengan wajah polosnya ia membuka tali yang mengikat Aletha. "Hahah, anak pintar," sanjungnya sambil mengelus rambut Hazan.

***

Bersambung ....

1002 words.

Makkah, 30 Juli 2023.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang