Aletha melihat ke belakang, mobil yang ditumpangi Hazan mengeluarkan asap dan bensinnya bercucuran. Entah apa yang Aletha pikirkan saat ini, ia merasa sakit meninggalkan Hazan.
Kilasan kebersamaan dengannya terlihat dimatanya, Aletha meneteskan air mata, saat ia hilang ingatan, ia merasaan cinta pada Sikopet Hazan.
*sikopet = psychopath.
“Berhentiin mobilnya,” titah Aletha yang melirik kaca spion.
“Lo mau ke mana?”
“Biar gue bantu dia sebelum bener-bener pergi,” ucapnya, kemudian berlari ke arah mobil yang sedikit lagi akan meledak.
Hazan di dalam terjepit, ia kehabisan tenaga untuk keluar. Kedua mata bertemu.
“Hazan, lo bisa keluar?” Suara Aletha terdengar bergetar.
“Gue gak ada tenaga,” lirihnya pelan.
Aletha menarik dan berusaha mengeluarkannya. “Tha, sebelum gue mati, gue cuma mau lo tau, kalo gue bener-bener cinta sama lo, gak perduli sebenci apa lo sama gue, tapi gue melakukannya atas dasar cinta.”
“Jangan banyak bacot dulu, yang penting lo keluar dari sini.” Aletha masih menarik sedang Hazan tidak mengeluarkan tenaga dan tak berniat keluar dari himpitan mobil.
“Gak usah, Tha. Gue gak mau liat lo bahagia sama Luann, sedang gue bakal jadi orang gila yang gak bahagia,” ucap Hazan dengan darah mengucur di mulutnya.
“Hazan, lo ngomong apa? Kalo lo gak bahagia sama gue, lo masih bisa dapetin kebahagiaan sama orang lain, kan?”
“Gak, Tha, hidup gue cuma ada di lo, dan gak ada di perempuan lain.”
“Hazan lo jangan gila, cepet keluarin diri lo dari sini.”
Api sudah mulai menyala dengan sendirinya, dan keduanya masih berada dekat dengan mobil.
“Aletha, apinya dikit lagi menyebar, cepet lari!” teriak Luann dari kejauhan yang masih bisa didengar oleh keduanya.
“Masa depan kamu udah manggilin noh, pergi sana.” Hazan mendorongnya kuat agar menjauh darinya.
Bayangan ketika Hazan memberikan kasih sayangnya muncul di mata Aletha, ia menangis, betapa tulusnya Hazan padanya.
“Gak, Hazan, lo harus tetep hidup.” Air matanya tumpah seketika melihat bayangan itu.
Luann menarik Aletha sebelum 5 detik mobil meledak. Luann dan Aletha perpental cukup jauh karena ledakan itu.
Mata Aletha tidak kuat untuk terus terbuka, Luann membawanya ke rumah sakit. Saat matanya terbuka, ia langsung melihat Luann duduk menatapnya.
“Hazan mana?” tanya Aletha parau.
“Dia baik-baik aja? Kenapa kamu nanyain dia? Bukannya dia udah jahat sama aku?” tanya Luann sedikit kecewa, karena bukan ia yang ditanyakan, melainkan lelaki lain.
"Ya, dia emang jahat sama aku, dia kurung aku, tapi dia lebih baik dari pada kamu, kamu sangat buruk!” bentak Aletha muak.
“Loh, aku yang bawa kamu ke sini, Ale bukan dia?” Luann menunjukkan kebenaran.
“Ya, emang kamu yang bawa aku ke sini, tapi dia yang bawa aku ke kebahagiaan, bahkan saat aku hilang ingatan pun, sedikitpun kamu gak penah bikin aku bahagia, ah, jangankan bahagia, tersenyum pun tidak, lalu kamu pengen aku melupakan dia dan sama kamu? Hallo, mikir.” Aletha nampak sekali muak padanya.
“Aletha sadar, dia bahkan naro alat pelacak di lengan lo, lo masih nanyain dia, heuh? Otak lo terbuat dari apa sih?”
“Gak perduli apa yang udah dia lakuin ke gue, tapi dia tulus, jangankan melakukan hubungan intim, mencium gue aja kagak, beda sama cowo mesum kaya lo!”
“Tapi kan itu buat bukti kalau gue gak mau kehilangan lo.”
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomanceSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
