45. Leonn Dan Luann

13 0 0
                                        

Sampai di parkiran, Aletha turun dan melangkah ke depan gedung tempat Ezra bekerja.

Nguuuk, nguuuk, nguuuuk.

Ponsel Ezra bergetar. Ia tengah meeting dengan atasan dan terpaksa mengabaikan telpon sahabatnya. Merasa tak ada jawaban, walau sudah 10 kali menelpon, Aletha lanjut pergi ke tempat lain.

Sampai di apartement, ia merasa aman dan nyaman, di sinilah ia seharusnya membiarkan masalah ini terhenti walau sejenak.

Ia ingat sebuah hal yang luar biasa. “Hahahah, gue kan masih ada simpanan? Di mana ya harta karun gue?” Aletha pergi ke dapur. Membuka lemari dan harta karun itu ada.

Berjajar rapi di dalam lemari dapur, Aletha mengambil dan membuka penutup botolnya. Menikmati minuman beralkohol disaat sedih memang terasa menyenangkan. Aletha duduk bersandar pada lemari tersebut.

Minum hingga lupa bahwa ia masih mengenakan pakaian kantor, tidak peduli ia hanya ingin menghilangkan beban pikiran saat ini. Membiarkan jas, rompi, kemeja dan celananya tercecer wine yang diseruputnya.

“Ya, setidaknya gue bisa bertahan hidup dengan ini.”

**

Luann mendapat telpon dari mama, mengharuskannya segera pulang, walau jam kerja masih belum usai. Sampai di rumah ia kaget, karena ada orang asing di dalam.

“Luann anak mama sini, Nak,” titah mama ramah.

Di ruang tamu ini ada papa dan mamanya, Leonn dan dirinya, ada juga sepasang suami istri dan satu anak perempuannya.

“Ada apa, Ma?” tanya Luann sedikit heran.

“Gini, Mama sama Papa mau jodohin kamu sama anak dari sahabat Mama. Nah, Nak Alessa, ini Luann anak kedua tante.” Mama menoleh pada anak gadis itu.

“Wah, kamu bener-bener nawarin anak kamu, ya?” kata mamanya Alessa.

“Iya dong, kamu kan sahabat akyuuu.” Mama Luann memeluknya.

“Alessa kamu pasti bingung mau pilih yang mana? Secara anak Om kan ganteng dan keren lagi, semuanya berwibawa, tapi Om saranin kamu pilih Leonn.” Papa sengaja menawarkan Leonn agar Alessa tak menginginkan Luann, papa sudah melihat mata Alessa tersorot pada Luann sejak pertama Luann masuk.

“Ah, Le-Leonn?” Wajah Alessa nampak tak terima.

“Iya, Leonn juga direktur di perusahaan pusat, dan Luann di cabang,” lanjut papa Luann.

“Kenapa gak Luann aja, Om, dia terlihat lebih santai?” elak Alessa.

“Wah, sayang banget, Luann sudah punya calon,” bela papa santai.

“Oh, begitu ya?” Alessa menunduk dalam beberapa menit di selingi kedua pasangan orang tua mengobrol, tak lama Alessa mendongak menatap papa Luann.

“Kalau Luann sudah punya calon, bagaimana kalau aku sama Leonn saja.” Alessa buka suara.

“bagaimana Leonn, kamu mau?” tanya mama antusias.

Leonn terdiam, ia sebenarnya tidak tertarik pada perempuan yang nampak centil ini, tapi ia tidak mungkin menolak perempuan ini di depan keluarga, akhirnya Leonn hanya mangguk saja.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang