51. Bunuh Diri

22 0 0
                                        

Aletha berdiri saat melihat Arka menarik Ezra tanpa rasa iba. "Lo apain sahabat geu, hah?!" tanya Aletha emosi.

"Kok gue? Harusnya lo tanya itu ke sahabat lo, kenapa dia giniin gue?" Arka membalikan fakta.

"Heh, gue gak pernah liat dia sekucel dan seburuk ini ya, jadi lo apain sahabat gue, hah Bajingan sialan?!" Mata Aletha tajam melihat Arka.

"Heuh, coba kamu jawab, kamu ngapain aja sama cowo kemarin, siapa itu namanya, Alga ya?" Arka nampak senyum melihat Ezra tak ceria seperti biasa.

"Gue udah ceritain semuanya ke lo, Anjing, kenapa lo masih gak percaya, hah? Gue harus gimana biar lo percaya?" Suara Ezra tak bertenaga, bahkan tatapannya nampak masih ngantuk.

"Ra, lo makan aja dulu, kasian gue liat lo kurang gizi begini." Aletha menyendokkan makanan ke piring dan memberikannya pada Ezra.

"Lo belum terbiasa ngadepin hidup yang pedih ini. Gue tau perasaan lo, Ra," sambung Aletha dengan mata berkaca-kaca.

Ezra menatap sendu Aletha, di matanya terlihat kata-kata yang sudah disusun rapi untuk diungkapkan, tapi mulut Ezra nampak kelu untuk berbicara. Dari raut wajahnya, Aletha bisa melihat apa yang terjadi padanya, bahkan wajah Arka juga kini terlihat beda dari auranya.

Aletha menggenggam lengan Ezra, memejamkan mata sambil menunduk, seakan-akan berkata "semua akan baik-baik aja, lo sabar ya."

Ezra mengangguk kemudian mulai makan tanpa rasa lapar. "Makan yang banyak, setelah ini mandi, terus ke apartement kamu, nanti kuantar," titah Arka sambil menambah makanan ke piring Ezra.

Ezra asik saja makan tanpa menganggap Arka hadir di sisinya, karena baginya kini Arka telah tiada, ditambah Arka sudah menjelaskan bahkan keduanya sudah putus. Jadi untuk apa menangisi yang sudah pergi.

"Lo kenapa Ra, harusnya lo senengkan, kini Arka cuma milik lo seorang?" sindir Luann, ia sudah tahu betul apa yang dilakukan Arka padanya.

"Diem lo," balas Aletha sinis.

"Aku kan nanya ke Ezra, Nona Kecilku, kenapa kamu yang jawab, hm? Kamu mau ngobrol, ayo di kamar, biar makin intens," goda Luann masih saja menatapnya intim.

"Cih." Aletha memalingkan pandangan.

Ezra telah menghabiskan makanannya, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang hina dina.

Berdiri di bawah kucuran air dari shower yang menggantikan posisi hujan kecil untuk di kamar mandi. Air matanya tak terbendung lelaki yang dibanggakan dan disayangnya telah menjadi iblis berwujud manusia.

"Bisa-bisanya dia gomong, 'ngapain nangis, kan kita udah putus?' 'sekarang lo jomblo' enteng banget lagi anjing ngomongnya, sialan banget ih, keseeeeel, kesel, kesel, kesel," gerutu Ezra sambil memukul dinding berkali-kali.

30 menit Ezra di kamar mandi, ia keluar dengan handuk seperti mantel, ia masuk ke kamar Aletha yang berantakan sekali. Mengambil baju Aletha untuk dipakai. Selesai dengan itu Ezra menjemur handuk itu di balkon, sejenak ia melihat pemandangan di sekitar. "Hem, tenang banget kayanya?" lirihnya kemudian mendekat ke pagar.

Sejenak ia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, memejamkan mata untuk sejenak menghilangkan penat, tapi itu tak berlangsung lama ketika Ezra mendengar suara Arka yang kini terdengar sangat menjijikan baginya.

"Ngapain kamu di sini?"

Ezra menarik napas dan membuangnya perlahan, ia membuka mata untuk melanjutkan menatap alam sekitar.

"Ngapain kamu di sini?"  ulang Arka sambil menarik tangan Ezra agar menjauh dari pagar.

"Emh, kebetulan lo di sini. Lo akan menjadi saksi, di mana gue menghembuskan napas terakhir." Ezra menaiki pagar dan berdiri di atasnya.

"Ezra lo gila, turun!" Arka memeluk kakinya agar tak dapat bergerak.

"Gue gak sekuat yang lo pikir! Gue terlalu lemah untuk ngadepin dunia yang pahit ini! Gue gak mampu menanggung malu! Gue bener-bener lemah, gue gak sekuat Aletha yang bahkan masih bisa tersenyum dan jalanin hidup kaya gak ada masalah! Gue gak bisa, gue gak mampu, gue lemah! Gue gak bisa ngeliat mama gue yang kecewa karena gue yang udah hina ini! Gue udah kehilangan segalanya, dan untuk apa gue masih hidup, lebih baik gue pergi selamanya agar gak nanggung beban ini!" jerit Ezra sekuat tenaga pada angin yang menerpanya.

"Ezra, lo gila, turun!" Aletha berlari sambil berteriak.

Ezra menoleh. "Al, gue yakin lo tau apa yang si Bajingan ini lakuin ke gue, kan? Dan lo tau gue rapuh, kan?" Ezra Kembali menangis.

"Ra, please, gue gak bisa kehilangan lo dengan cara seperti ini!" Arka masih berusaha menariknya.

"Gak, gue benci sama lo! Kalo pun gue jadi arwah gentayangan, lo orang pertama yang akan gue gentayangin sampe lo mati kaya gue!" ancam Ezra penuh kebencian.

"Ra, please, gue sayang sama lo!"

"Sayang lo bilang? Bukannya kita udah putus, kenapa lo masih sayang sama gue, hah? Gue udah gak butuh lo."

"Ra, please jangan kekanak-kanakan," mohon Arka.

"Eh, Anjing, gue kagak salah denger? Bukannya lo yang kekanak-kanakan? Gak usah lo putar balikan fakta, gue muak sama lo anjing, bangsat!"

"Udah dramanya?" tanya Luann sambil menarik kuat tangan Ezra dan Arka langsung menangkapnya dan membawa Ezra ke dalam.

"Lepasin gue, gue mau mati!" Ezra meronta-ronta dalam pelukan Arka.

"Seandainya gue punya jurus totok, udah gue totok lo," ucap Arka geram.

"Lepasin gue bangsat! Gue gak sudi disentuh sama lo!" teriak Ezra di samping telinga Arka.

"Hah, nih cewe terbuat dari apa sih, cempreng banget suaranya, sakit kuping gue," gerutu Arka dengan wajah kesal.

"Lo, kalo gue reinkarnasi nanti, lo orang pertama yang gue ancurin," tekan Ezra yakin.

"Ya, ya, ya, tadi lo bilang, 'kalo gue jadi arwah gentayangan, lo orang pertama yang gue gentayangin ampe lo mati kaya gue,' sekarang lo bilang 'lo orang pertama yang gue ancurin,' terus apa lagi, hah?" tantang Arka masih santai.

"Arka gue benci sama lo!" raung Ezra yang kembali menangis.

"Lepasin dia," titah Aletha santai, Arka pun melepaskan pelukannya.

Aletha yang berdiri kini duduk di samping Ezra kemudian memeluknya. "Kita ada di posisi yang sama, gue harap lo bisa kuat dan sabar ngadepin ini, dan saling menyemangati seperti kita gak ada masalah," bisik Aletha tenang.

"Tapi gue gak bisa hidup tanpa kehormatan gue Ale, gue udah ngerasa kehilangan harga diri, hiks." Ezra nangisnya semakin pecah.

"Terus lo mau apain dia?"

Ezra melepaskan pelukan dan menatap Aletha. "Gue mau bunuh dia, gue bakal bunuh dia," tekad Ezra yang disaksikan oleh calon korbannya sendiri.

Luann dan Arka hanya menonton saja sampai mana kedua betina bar bar  ini membuat rencana.

"Jadi lo mau bunuh gue? silakan kalo lo bisa," tantang Arka santai sambil memakan camilan milik Aletha.

** 

Bersambung ....

wah, bagaimana menurut kalian part ini?

Kata aku mah seru sih. Wak wak wak

972 words.


Riyadh, 1 Agu 2024.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang