Di kediaman Luann, tengah ada acara keluarga. Ia menerima telpon dari Arka untuk segera datang ke rumah Aletha.
Luann menggedor pintu apartement Aletha. Ezra yang fokus mengobati Arka menjadi melenceng karena kaget.
"Aduh anjing! Yaaaaah, kan jadi meleset, tolol bat ah. Siapa sih gedor-gedor, gak ada otak banget," geram Ezra sambil berjalan membuka pintu, sedang Arka selalu tersenyum atas semua kelakukan kekasihnya.
Ceklek.
"Bisa gak lo gak gedor-gedor!" bentaknya langsung mendongak.
"Sorry," sahut Luann singkat dan langsung masuk ke kamar memeriksa keadaan Aletha.
"Tha, lo kenapa?" bisiknya sambil menggenggam lengan Aletha.
Arka dari belakang menghampiri. "Dia pingsan karena kesakitan akibat alat yang ditanem Hazan."
"Hazan?"
"Lo gak kenal dia?" tanya Ezra yang baru tiba dari depan.
"Argh," rintih Aletha berusaha membuka matanya.
"Tha?"
"Kamu siapa?" tanya Aletha.
Luann menoleh pada Arka dan Ezra, kemudian menoleh Aletha lagi. "Aku su—"
"Jangan aneh-aneh lo!" serobot Ezra menutup sungut Luann.
*Sungut = mulut.
"Ahahahm lo kenapa?" tanya Luann yang tertawa pada Ezra.
"Lo gak usah ngadi-ngadi ye, kemarin Hazan ngaku pacarnya, sekarang lo mau ngaku suaminya, hah? Bener kan?" sarkas Ezra yang tidak bisa menahan emosi.
Luann menoleh Arka. "Cewe lo pinter juga ya?"
"Ya iyalah, cewe gua mah paling top." Arka memeluk Ezra dari belakang.
"Ga usah peluk-peluk." Ezra menahan tangannya agar tak jadi memeluk dirinya.
Arka hanya menarik sudut bibir kanan ke dalam pipi, sedang Luann tersenyum geli dengan tingkah Ezra.
"Aduh, aduh, udah, kepalaku sakit, Hazan mana?" tanyanya.
"Siapa dia?!" tanya Luann emosi, ia tidak tahu bahwa Aletha hilang ingatan.
Tangan Arka menahan bahu Luann agar ia tidak beridiri dan tetap duduk di samping kasur.
"Kita harus ngomong." Arka menarik Luann ke luar.
"Jadi gini, Nyet. Dia kan sempet ilang, nah gue lupa kejadiannya gimana, tapi intinya dia kecelakaan dan hilang ingatan, terus si cowo yang selametin dia Namanya Hazan bawahan lo, dan si Monyet Hazan ini ngaku pacarnya dia dan namen alat pelacak," terang Arka dengan perlahan.
"Hazan bawahan gue? Berari dia bawahan Aletha juga, apa mungkin ... okay, gue akan selesein masalah ini ke jalur hukum." Luann berdiri.
"Jangan dulu, Bro," tahan Arka.
"Kalo lo langsung bertindak, Hazan juga pasti punya rencana untuk menghindar, jadi menurut gue lo longgarin aja dulu masalah ini, entar kalo udah waktunya, langsung basmi," saran Arka yakin.
"Gimana? Lo nyuruh gue biarin cewe gue deket ama dia?"
"Jadi gini, anjing, susah banget jelasin ke lo!" umpatnya naik pitam.
"Et-et-et, santai dulu lah bos, jangan gampang esmosi, gue emang agak terlalu cerdas aja." Luann menahan dada Arka.
"Huh, besok kan gue balik ke Amerika, terus Ezra, Ale, dan lo, termasuk si kunyuk Hazan, pasti bakalan kerja lagi, kan? Jadi biarin ngumpul dulu, setelah si Hazan dapet, langsung jorogin ke penjara."
"Emangnya ke empang, dijorogin?"
"Et, gue tampol lo ya!" Arka semakin darah tinggi.
"Et-et, sabar bos, gue ngerti. Terus kira-kira si Hazan malem ini bakal ngapain dia?"
"Kayanya dia bakal ke mari, kan dia tau posisi Aletha," tebak Arga yakin.
"Yang?" panggilnya pada Ezra.
"Yang?!"
"Apaan sih lo manggilin gue?!" Ezra meninggikan suaranya.
"Sayang pelang-pelan atuh ngomongnya, kan gak enak sama Luann." Ia meredakan emosi Ezra dengan berbicara manja.
"Bodo amat." Ezra duduk di samping Arka. "Apaan?"
"Kamu besok kerja seperti biasa aja, dan malem ini jangan ada siapapun nemenin Ale."
"Kenapa, Yang? Nanti dia dicolong si Ajan lagi."
"Itu pasti, Yang, kan dia tau posisi Ale berada."
"Berati percuma dong kita bawa kabur Ale."
"Sebenernya iya sih." Arka mengangguk samar.
"Heuuuuh, ngeselin lo, ngapa kita tadi buru-buru, Pinter?" cakap Ezra penuh penekanan.
"Ya maaf, aku baru engeuh soalnya."
"Jadi kita biarin Al deket ama Hazan?" tanya Luann tak ikhlas.
"Ya mau gimana lagi, Nyet?"
"Hah, ya udah deh, tapi sebelum pergi gue boleh temenin dia tidur gak?" tanya Luann pada Ezra.
Ezra langsung berdiri, menyomot kerah baju belakang Luann dan melemparnya ke luar apartement bagaikan kucing, lucunya Luann malah bungkuk saja diperlakukan seperti itu oleh Ezra.
"Pergi lo, jangan harep bisa tidur ama Ale untuk kedua kalinya."
Jebrud!
Ezra menutup pintu keras sekali.
"Yang, aku agak khawatir sama dia," ungkapnya manja.
"Jangan takut, ada Luann." Arka mengelus rambut Ezra yang mendongak padanya.
"Aaaah, aku gak yakin ama dia, Yaaaang," rengeknya semakin manja.
"Kalo kamu di sini, dia bisa bunuh kamu atau peralat kamu, Yang, aku gak mau itu terjadi."
"Huh, ya udah deh, ayo balik."
**
Benar apa yang didugakan Arka, Hazan datang dengan lukanya. Ia masuk dengan pin yang entah dari mana ia bisa tahu hal itu.
Ia meraba wajah Aletha seperti psikopat hendak membunuh mangsanya. Tiba-tiba Aletha ngagebeg kaget.
*Ngagebeg = bergidik.
"Eh, Hazan, kamu ke mana aja, kok baru dateng?" tanya Aletha dengan suara khas bangun tidur, serak-serak jibrug.
"Aku ada urusan, Sayang."
Aletha duduk sambil tangannya menyentuh perban di kepala Hazan dengan tatapan khawatir. "Kamu ini kenapa lagi?"
Melihat itu Hazan semakin mencintainya. "Gak papa, maafin aku ya." Memeluknya erat.
"Maaf kenapa, Sayang?" bisik Aletha.
"Pengen minta maaf aja."
Aletha melepaskan pelukannya. "Besok kita kerja, jadi ayo tidur."
Puk-puk.
Aletha menepuk-nepuk bantal di sampingnya. "A-aku tidur di samping kamu?" tanya Hazan tak percaya.
"Iya, kenapa emang?"
"Ah, gak papa." Hazan naik ke kasur dan rebahan di samping Aletha.
Tanpa disadari oleh tukan cilung manapun, Aletha memeluknya erat, membuat Hazan kaget sekali.
"Badan kamu dingin," bisik Aletha yang mengeratkan pelukannya.
"Ah, i-iya," sahut Hazan membalas pelukannya.
Bersambung ....
889 words.
Part ini dikit kali ya. Maaf, karena lagi kurang sehat.
Yang belum vote, mohon divote dulu ya.
Makasih banyak. Kalo mau komen, komen aja dah, terserah.
See you next part.
Riyadh, 13 Mei 2023.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomanceSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
