Hei, kenapa ga vote sih? Kan aku kalo di vote jdi seneng. Emng kalian ga suka kalo aku senyum kesenengan gitu?
Ya Allah, please lah, aku mau vote dari kalian. Apa susahnya vote sih?
Please, ini mah, please.
Ya, vote ya please. 😭
ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
Matahari muncul menerangi Sebagian bumi. Aletha sudah rapi dengan setelan kantornya, tapi ada 1 yang kurang, ia belum mengenakan dasi.
Sejenak ia memikirkan dasi yang ditemuinya di bawah Kasur, itu memang bukan miliknya, tapi nampaknya dasi ini mahal dan ia suka warnanya.
Ia mengenakan dasi itu lalu berangkat ke kantor dengan si Hitamnya (motor ninja berwarna hitam)
Sesampainya di sana, banyak sekali karyawan dan karyawati yang memenuhi koridor. Ia merasa sesak jika harus lewat berdesakan, tapi jika dibiarkan, ia akan terlambat, mengingat ia juga harus menyetor ID Card ke sebuah mesin.
Baru saja melangkah ke dalam kerumunan, mereka bersorak menyambut presdir dan anaknya.
"Selamat pagi Pak Presdir," ucap mereka serempak.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar bergemuruh. Mereka semua menghadap ke presdir dan wapresdir, yang keduanya juga hendak pergi ke ruangannya.
Aletha yang tak ingin terlibat, malah terbawa juga untuk menyambut dan mengucap selamat pada wapresdis.
Luann melintas di hadapannya dengan jarak dekat. Kali ini wanginya beda, ia menghirup aroma ini sampai-sampai memejam saking wanginya. Seketika di matanya terlintas wajah lelaki itu, bahkan ia mengingat aroma lelaki ini sama dengannya.
Ia segera membuka mata dan menggeleng kasar.
"Lo kenapa?" tanya salah satu karyawati.
"Kesurupan lo ya, karena liat Pak Luann?" godanya dengan wajah mendiskriminasi.
"Acie-cie, ternyata yang gak peduli kemaren baru sadar kalo dia gantengnya pake banget?" sindir karyawati yang kemarin bertemu di pantry.
"Iya-iya dia ganteng, terus gue harus apa?" Wajah Aletha nampak tak suka disindir.
"Masuk grup gue kali ya?"
"Ogah, makasih," tolaknya lalu berbalik menuju ruangannya.
Menatap layar monitor dan akan bersiap menikmati pekerjaannya. Walau sempat terlintas mimpi itu, ya, mulai saat ini ia akan menganggap kejadian malam usai party itu adalah mimpi.
Mulai membuka file-file yang merumitkan bagi author, ia melupakan sesuatu yang wajib dilakukan. Ya, secangkir kopi di pagi hari akan meningkatkan keindahan bagi penikmatnya.
Aletha pun pergi ke pantry untuk membuat kopi.
"Eheheh, selamat datang Pak Luann, semoga Anda bisa memimpin perusahaan ini dengan baik dan semakin maju." Suara Manager Tara terdengar.
"Hahah, iya, Pak, mohon bantuannya," sahut Luann dengan senyuman indahnya.
Melintaslah Aletha ke koridor yang terdapat mereka.
"Pak Luann saya duluan ke ruangan saya ya?" Manager Tara pun pergi.
"Pak, saya duluan, Pak." Disusul dengan yang lain.
"Aduh anjir, kenapa pada minggat sih pas gue lewat, kan gua gak bisa dengan situasi ini," geturu Aletha dalam hati sambil terus melangkah.
"Selamat pagi, Mba ...?"
"Aletha, Pak, nama saya Aletha, jangan lupa, A-le-tha, A L E T H A," ejanya agar Luann tak lupa. Tapi memang sifat Aletha agak susah ditebak, kadang barbarian kadang pemalu, tapi lebih ke malu-maluin.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomansaSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
