Pesawat telah tiba di bandara. Luann juga terbangun, tidak ada hal yang penting baginya selain Aletha, karena ia langsung memeriksa keadaannya dan Aletha masih terlelap.
"Tha, mau bangun apa mau cium?" bisik Luann di bibirnya.
Pikiran Aletha menangkap sosok Hazan. "Hazan, aku takut!" jeritnya sambil memeluk Luann.
"Bangun, dah sampe." Luann dengan tegasnya melepas pelukan dan berlalu.
Aletha bingung. "Ah, itu Luann, kirain Hazan," desisnya kemudian mengambil tas.
Tangannya tak sampai menyentuh tas yang didorong Luann tadi. "Hah, Lelah sekali bestie," lirihnya putus asa.
"Makanya, kalo gak bisa minta tolong." Suara Luann terdengar lagi.
Aletha mendongak, ternyata itu benar Luann, ia kembali lagi untuk membantunya.
"Terima kasih, Pak," ucapnya malu.
Aggie masih memantau pergerakan Aletha. Ketiganya langsung dijemput oleh utusan perusahaan yang mengundangnya.
Membutuhkan cukup banyak waktu,mereka sampai di vila tempat menginap ketiganya. "Silahkan Bapak dan rekan-rekan untuk beristirahat dulu, nanti sekitar jam 8 malam akan saya jemput lagi untuk meeting," ujar lelaki yang menjemput.
"Baiklah, terima kasih," sahut Luann.
Vila ini sangat indah, terdapat juga kolam renang di depan halaman. Sebagian dindingnya terbuat dari kaca, ada beberapa pohon kecil untuk menghias dan semakin indah.
Terdapat beberapa kamar. Luann mengambil kamar paling dekat dengan kolam, Aggie buru-buru masuk ke kamar di sampingnya. Aletha masih mencari kamarnya, posisinya sudah lumayan jauh dari kamar Luann.
Di ujung sana terdapat kamar dengan dinding kaca, Aletha masuk ke dalam kemudian menutup sebagian kaca dengan hordeng.
Ia mandi untuk menyegarkan tubuh. Usai mandi Aletha menelepon Hazan.
Di sisi lain, terlihat Aggie membuka jendela agar Luann dapat melihat dirinya di dalam. Ia mengganti pakaiannya dengan baju renang yang seksoy.
Mulai ia berenang seorang diri. Dari kolam renang, terlihat Luann tengah duduk memainkan laptopnya, ia juga sudah berganti dengan baju santai.
Aggie sengaja membuat bunyi agar Luann meliriknya, tapi saat ini ia tidak ingin bermain dengan perempuan itu. Tetapi yang namanya kucing dikasih paisan/pepes, pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Luann akhirnya melihat keberadaan Aggie yang melambai-lambai.
Gejebur, Luann terjun ke kolam , berenang mendekati Aggie. Keduanya tak banyak bicara, cenderung saling menatap kemudian adu congor.
*Congor = bibir.
Aletha sudah lelah menelepon dengan Hazan, ia mengingat di depan ada kolam renang, ia pergi ke sana dengan berjalan layaknya anak kecil yang bahagia, sesekali menocat-loncat.
Sampai di sana, ia mengkaku melihat kedua insan tengah menikmati senja.
Prank!
Kopi yang dibawanya jatuh tanpa disadari, air mata membendung di matanya. Aletha berbalik badan kemudian melarikan diri ke kamar.
Luann melihat Aletha berlari, ia segera menyusul dan mengabaikan Aggie yang menahannya kuat.
"Aletha!" panggilnya yang terus berlari.
Aletha masuk ke kamar, tetapi Luann berhasil menggapainya. "Aletha, ini tidak seperti yang kamu lihat," kata Luann dengan wajah khawatir.
"Maaf, aku gak sengaja jatuhin gelas dan ganggu kalian." Aletha menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomansSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
