Heyo, whassup guys?
Jang lupa vote dan komen, ogehh??
Cus langsung ke ceritanya.
ㅂㅂㅂㅂㅂ
Keduanya menoleh, mata Aletha langsung membeku ketika melihat lelaki itu, kemudian Ezra dan Aletha saling menatap.
"Lo undang dia?" tanya Aletha pada Ezra.
"Kagak, gue gak ngundang dia," elaknya menggeleng.
"Martin, lo denger kan, lo gak diundang," jelas Aletha, terlihat ia tak menyukainya.
"Gak papa, kan gue ke sini ngikutin yang lain," balasnya tak mau kalah.
"Idih si Najis, segala ngikut-ngikut, siapa yang ngajak lo?" tanya Ezra kesal.
"Kan kita satu kelas pas SMA, masa gue gak hadirin acara ulang tahun lo." Martin masih dengan muka temboknya.
"Eh, lo tuh gak diajak, pergi sono," usir Aletha sambil memegang piringnya.
Ezra menoleh Aletha. "Ale, maafin gue ya, gue juga baru sadar kalo ada bebenguk dia."
"Gak papa, cuma selera makan gue jadi bertambah kalo ada orang gila kaya dia," sindirnya, lalu pergi mencari tempat duduk.
Para tamu undangan yang tak jauh dari teman kantor dan teman lamanya menikmati acara kecil nan mewah ini. Makanan bagaikan prasmanan, dan banyak sekali jenisnya.
Arka berkenalan dengan teman kantor Ezra, berusaha berbaur dengan mereka. Ezra makan bersama dengan Aletha di tempat yang tak begitu ramai.
10 PM.
Acara semakin meriah ketika alcohol dikeluarkan. Tak sedikit dari mereka yang minum, music dj slow pun disemarakkan, malam ini adalah malam panjang bagi mereka. Aletha yang suka alcohol itu tak menyia-nyiakan moment ini, Ezra juga ikut minum walau dalam pantauan Arka.
Seseorang datang ke meja tempat minum dan berbisik pada Aletha. "Udah, jam berapa ini, ayo pulang."
Aletha langsung menoleh dan diam sejenak. "Hazan, ngapain lo di mari?" tanya Aletha tak suka.
"Aku mau bawa kamu pulang."
"Heh, lo pikir lo siapa, lo cuma penguntit doang, kan?!" Suaranya meninggi.
"Tha, lo udah kebanyakan minum, gak baik buat Kesehatan lo," ingat Hazan lembut.
"Oh, jadi cowo ini yang berhasil bikin mantan gue jadi sedikit anggun?" Suara Martin menyela.
"Siapa lo?" tanya Hazan tak suka, sekaligus ia juga baru tahu bahwa Aletha memiliki mantan kekasih.
Martin menyodorkan tangannya. "Kenalin, gue Martin, mantan tercinta Aletha."
"Idih si Najis, ngaku-ngaku." Ezra bergidik jiji.
"Loh, benar, kan? Dia gak bisa move on dari gue. Padahal waktu itu gue cuma ikut taruhan aja buat jadian ama Aletha," wawar Martin semakin keterlaluan.
"Martin, sekalipun lo cuma menang taruhan, tapi sedikit pun gue gak ada perasaan sama lo, cuma kasihan doang, jadi jangan berharap lo orang special bagi hidup gue." Aletha buka suara.
"Berani lo ngomong gitu?!" Mata Marti memerah.
"Emang lo siapa? Lo cuma babu temen lo, kan? Lo juga dibayar setelah jadian ama gue. Baru aja 1 bulan udah gue putusin, hahahahah." Aletha semakin berani karena terpengaruh alcohol juga.
"Berani lo, cewe sialan!" umpat Martin lalu menamparnya.
Hap!
Tangan Hazan menahan tangan itu. "Jangan pernah sekalipun lo sentuh cewe gue." Suara Hazan terdengar dingin.
"Oh, jadi lo berhasil dapetin Aletha? Taruhan ama siapa?" sindir Martin terkekeh.
"Sekali lagi lo sebut nama cewe gue pake mulut sialan lo, gue pastiin lo gak bakal bisa ngomong lagi," ancam Hazan dengan wajah mulai menyeramkan.
Tangannya menarik Aletha untuk pergi dari tempat ini. "Kami pamit ya," ucapnya sebelum pergi.
"Lepasin gue!" teriak Aletha di dalam mobil.
"Jangan banyak tingkah, kamu lagi mabok," ucap Hazan tenang.
"Gue gak perduli, lepasiiiiiin! Mamaaaaa!" jeritnya semakin menjadi.
Hazan memasang seatbelt kemudian melaju.
"Eh, lo mau bawa gue ke mana, Bangsat?!"
"Ke rumah gue."
"Ngapain? Gue gak mau, gue mau ke rumag gue aja!" Aletha meronta-ronta, tangannya menganggu Hazan yang tengah menyetir.
Mobil menjadi hilang kendali, di depan jalan sana lampu merah menyala, tanpa bisa ngerem, mobil Hazan tertabrak beberapa mobil yang tengah melintar damai.
Jalanan menjadi kacau. Mobil Hazan terpental dan jungkir balik. Terlihat Hazan hampir pingsan, ia menoleh Aletha yang tak sadarkan diri. Ia berusaha tidak terlelap atas rasa sakit yang dialaminya. Hazan keluar dari mobil yang terbalik itu, berusaha mengeluarkan Aletha yang terhimpit mobil.
Beberapa warga membantu, tapi mereka takut mobil akan meledak, hingga tak berhasil menyelamatkan Aletha. Dengan sisa tenaganya, Hazan berhasil membawa Aletha walau setelah itu mobil akhirnya meledak juga.
Tubuhnya terpental dengan Aletha yang masih di pelukannya. Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit.
Luann masih saja bersama Aggie yang menahannya di apartemen milik Aggie. Sebenarnya ia ingin segera pergi tetapi Aggie memaksa.
Nguuuuk, nguuuk, nguuuk, ponselnya bergetar. Ia mendapatan telpon dari Arka, mengabarkan bahwa Aletha kecelakaan. Tanpa memberi tau alasannya pada Aggie, ia langsung pergi.
Jika terjadi apa-apa padanya Luann tidak akan memaafkan dirinya sampai kapanpun. "Kenapa gue sulit banget buat ada waktu berdua sama dia? Kenapa hah!?" Ia memukul setir karena kesal.
"Kenapa lo susah banget dideketin sih, Alethaaa! Frustasi gue!" raungnya di perjalanan.
Sampai di rumah sakit, Luann langsung masuk ke dalam. "Tha, lo gimana keadaannya, Tha?" Luann terlihat khawatir sekali.
Bersambung ....
785 words.
Part ini sedikit, mungkin aku lgi males mikirnya.
Dah, jangan lupa vote yang belum, komennya juga, ogehh?
See you next part.
Riyadh, 9 Mei 2023.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomanceSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
