52. Pergi (Tamat)

85 0 0
                                        

Mata Aletha tajam melihat mulut dan tangan Arka yang tengah menikmati camilan kesukaannya, yaitu kulit ayam goreng kriuk-kriuk.

"Tunggu-tunggu, di mana lo ambil ini?" tanya Aletha dengan menunjukkan telapak tangannya pada Arka.

"Di kamar lo," sahutnya enteng.

Aletha menunduk, matanya menyala, ia paling emosi jika camilan kesukaannya dimakan. Ia menatap tajam pada Arka.

"Apa? Lo mau makan gue? Kanibal lo?" goda Arka tanpa takut.

"Lo? Beraninya makan camilan kesukaan gue. Liat aja apa yang bakal lo dapet." Aletha melangkah mendekat.

"Apa? Lo beneran mau nerkam gue? Matanya biasa aja kali?" ujar Arka masih santai, bahkan ia sengaja makan dengan wajah menggoda.

"Sikat aja, Al," hasut Ezra datar.

"Siap, Besteh!" Aletha merampas camilan itu di tangan Arka, alis kanannya naik, kepalan tangan sudah siap di bawah.

Beuak!

Sekuat tenaga Aletha menonjok dagu Arka dari bawah. "Jangan pernah lo makan camilan gue!" ucap Aletha penuh penekanan di setiap katanya.

"Aaaaargh, sakit!" raung Arka menutup mulutnya.

Darah bercucuran dari mulutnya. "Argh, mulut gue, aaaaargh!" raung Arka sambil loncat-loncat kesakitan.

Beuak!

Masih kurang menyiksanya, Aletha menendang selangkangan Arka.

"A!" jeritnya singkat, karena ia terjatuh ke lantai.

"Ra, lo gak mau ambil jatah?" lirik Aletha.

"Boleh, kayanya enak, nih." Ezra mendekat kemudian menginjak selangkangan Arka dan memutar-mutar kakinya.

"Aaaaaaargh, sakiiiiit!" ringisnya sampai keluar air mata.

"Heuh, dua nona ini emang menyeramkan, argh, itu pasti rasanya sakit. Tapi kenapa cewe selalu bersikap seenaknya, padahal mereka bilang sudah tak memiliki harga diri, tapi semakin diperlakukan seperti itu semakin brutal, ya?" batin Luann memperhatikan.

Aletha menoleh pada Luann yang nampak merasakan apa yang Arka rasakan.

"Kenapa liat gue, gue kan gak ngapa-ngapain?" Luann khawatir sekali.

"Pegangin, Ra," titahnya dengan wajah mafia.

Ezra berlari ke belakang Luann dan menahan lehernya dengan bergantung ke belakang sofa.

"A-lepasin gue! Gue gak bisa napas!" Luann meronta-ronta, berusaha melepaskan tangan Ezra tapi jauh kemungkinan ia bisa melepaskan jeratannya.

Beuak!

Aletha menendang selangkanan Luann. "A-sakit!" jerit Luann gantian.

"Le-lepasin gue, gue hampir mati ini!" raungnya pada Ezra.

Wajah Ezra terlihat sumringah melihat kedua lelaki ini meraung kesakitan. "Hahah, makanya jangan berani-berani ama kita berdua," kata Ezra sambil berdiri di tengah mereka.

"Aaaargh, masa depan gueeeee!" teriak Arka masih kesakitan.

Ezra menoleh kemudian mendekatinya dan jongkok di samping Arka. "Kenapa masa depan lo, hm?" goda Ezra merasa menang.

"Kurang sakitnya?" tanya Ezra menawari.

"Gak, lo emang udah gila, kalo masa depan gue rusak, lo gak bakal punya anak," rengek Arka menderita.

"Kenapa gue, lo gak bakal bisa nyentuh gue lagi, kan? Kita udah putus, lo lupa, jadi lo gak ada hak buat sentuh gue lagi."

Plak!

Setelah berucap ia menampar Arka. "Ra, lo gak tau betapa sakitnya gue ketika lo minta putus, dan gue udah kebakar emosi, makanya gue hilang kendali," ungkap Arka sambil memohon di kaki Ezra yang berdiri.

"Heuh, gue udah gak bisa sama laki-laki bajingan kaya lo," tekan Ezra muak.

"Gue mohon, jangan pernah bilang kalo kita putus, gue gak mau, lo cuma punya gue. Di dunia ini yang Namanya Ezra Kaniel cuma milik gue," mohon Arka dengan air mata mengalir.

"Sekalipun lo memohon, luka di hati gue belum tentu bisa terobati," tepis Ezra benci.

"Jangan sentuh gue." Ezra menepis tangan Arka yang memohon di kakinya dan duduk si sofa dengan santai.

"Al, mau diapain dua sampah ini?" tanya Ezra dengan wajah dinginnya, baru kali ini ia menyatakan kebencian dengan wajah serius.

"Gue sih terserah lo, tapi gue gak butuh sampah sih, dan gak suka daur ulang juga," sahut Aletha datar, keduanya nampak sikopat yang tengah muncul ke permukaan.

"Kalo gitu ke rumah gue aja, lo bawa barang-barang penting lo," titah Ezra sambil melangkah ke kamar diekori Aletha.

Koper sudah dibuka, Ezra dan Aletha memasukkan pakaian Aletha, disusul dengan koper lain untuk beberapa barang penting lainnya. Ezra dan Aletha memakai sedikit make up agar terlihat cerah dan tidak kusam.

"Cantik," puji Aletha pada Ezra.

"Lo juga, cantik banget, hahah," puji balik Ezra, keduanya juga telah ganti baju dengan jas agar nampak elegan dan anggun, walau sebenarnya menggunakan pakaian apapun akan terlihat elegan dan anggun, tapi keduanya merasa PD jika mengenakan jas, atau setelah kantor.

Keduanya menggeret koper ke luar kamar. Luann dan Arka sudah berdiri di depan pintu.

"Mau ke mana kalian?" tanya Luann dengan wajah sedikit ngilu, dan Arka bersandar di pintu.

"Mau pergi," sahut Aletha santai.

"Kita udah gak butuh cowo tai kaya kalian, minggir," ujar Ezra kasar.

"Jadi lo beneran gak butuh gue?" tanya Arka terdengar menyedihkan ditambah raut wajah seperti itu.

"Denger ya, lo udah ngancurin hidup gue, kenapa juga gue harus bertahan sama cowo kaya lo?" Ezra melanjutkan langkahnya.

Kedua lelaki ini terdiam dengan kelakuan keduanya dan hanya saling menatap satu sama lain.

Ezra dan Aletha melenggang meninggalkan gedung apartemen, raut wajah keduanya nampak bahagia dan tanpa beban. Ezra dan Aletha sudah melupakan kejadian yang sudah berlalu. Keduanya benar-benar lega bisa meninggalkan masing-masing lelaki yang menyakiti.

TAMAT.

Ending yang sangat membagongkan.

747 words


Riyadh, 3 Agu 2024.



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 03, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang