Luan membeli baju, celana, sepatu, beberapa aksesoris dan jajanan kesukaan Aletha. Ia segera pulang, dikhawatirkan Aggie masuk ke kamarnya.
Saat tiba di vila, ia mendapati Aggie tengah mengetuk pintu kamarnya.
"Ohok-ohok!" Luann batuk keras sekali, memancing Aggie agar menoleh padanya.
"Loh, kamu ada di situ? Kok belum ganti baju?" Aggie menghampirinya.
"Gak papa, suka aja pake baju ini."
"Tapi kamu tetep ganteng, sekalipun gak pake apa-apa," bisik Aggie yang mepet ke lengan kekarnya.
"Huaaah, cape banget, aku tidur duluan ya, kamu jangan lupa tidur juga, jangan gadang, besok kita pulang pagi." Luann meninggalkannya.
"Eh, Pak?" Sayang sekali, Luann segera masuk ke kamarnya.
Luann juga mengunci pintu. Matanya langsung menubruk kasur, ia lega ketika melihat Aletha masih ada di kasurnya.
"Sayang, kamu gak bangun, hm?" bisiknya sambil mencium pipi yang lebih dekat ke telinga.
Aletha terbangun, kepalanya pusing sekali, tubuhnya terasa kaku dan berat, mungkin karena kebanyakan tidur, bahkan ia masih setia dengan posisi awal ketika Luann meninggalknannya.
Luann melepaskan pakaian penatnya kemudian berganti dengan kolor dan kaos oblong. "Sayang, makan yuk, kamu pasti belum makan." Luann menyentuh paha Aletha.
Perepmuan ini masih saja tidak bersuara. "Sayang, jangan siksa diri kamu," bisik Luann, kini rebahan di belakang dan memeluknya.
Aletha membulatkan tubuhnya sambil memeluk lutut. Luann tersenyum dengan tingakahnya. "Kamu kenapa sih? Aku ganteng, kaya raya, cerdas, dan aku punya segalanya, kamu gak mau sama aku, tapi aku udah mau sama kamu, loh?"
"Udahlah, tinggalkan Hazan yang memanipulasi semuanya," sambungnya.
Luann kesal karena Aletha tak kunjung bergerak. Ia menggendong dan membawanya ke kamar mandi. Aletha meringkuk terkena air. Luann bahkan sampai memandikannya. Aletha merasa sudah kehilangan jati dirinya.
Luann sudah tahu seluk beluknya, jadi tidak perlu ditutup-tutupi lagi, bahkan mencicipnya, Aletha sudah benar-benar meninggalkan jasadnya.
Usai mandi, Luann kembali menggendong Aletha, memakaikannya baju dan celana kolor miliknya tanpa celana dalam dan bra.
"Makan, nanti kamu sakit." Luann menyuapinya.
"Gak mau," sahutnya lemah.
"Makan," paksanya semakin mendekatkan sendok ke bibirnya.
"Gak, aku mau mati aja."
"Gak bakal mati kalo cuma gak makan dan minum satu hari."
"Bodo amat." Manyun.
"Hahaha, kamu makin manis aja, ya?" godanya.
Aletha semakin manyun. "Mau makan atau dihukum?" tawar Luann dengan smirk.
"Kenapa aku dihukum, harusnya kamu yang dihukum dan dipenjara!" bentaknya penuh emosi.
"Jadi kamu mau dihukum?"
"Silahkan laporkan," tantang Aletha tanpa tahu maksud ucapan Luann.
"Okay, jadi kamu mau kuhukum?" Luann menyimpan makanan dan mendekat padanya.
"Ngapain lagi kamu, awas!"
"Aku akan hukum kamu," bisiknya kemudian melumat bibir Aletha paksa, menggenggam kedua tangan dan mengunci keduanya di tengah pahanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
Lãng mạnSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
