44. Pengakuan Luann

15 0 0
                                        

Tiga biang gosip tengah membicarakan perihal manager baru yang pindah, tiba-tiba Aletha masuk ke ruangan mereka.

Ola menyadari kedatangan Aletha. “Ale-ale,” bisiknya sambil menarik tangan Tias yang tengah melambai-lambai alay.

“Selamat pagi, Mba Aletha,” sapa Ola dengan senyuman paksa.

“Biasa saja nyapanya,” sahut Aletha ramah.

“Ada yang perlu dibanting? Eh, dibantu maksudnya,” kata Mira dengan candaan.

“Kursi-kursi,” pinta Aletha sambil meraih kursi di depannya yang tak sampai.

Tias mengambilkan untuknya, kemudian ketiga biang gosip mulai menyimak.

“Jadi gini, kok saya gak tau manager baru itu?” protes  Aletha.

“Ya elah, Mba gimana mau tau, orang Mba sibuk ngopi  di ruangan, kagak pernah nongol-nongol,” sindir Tias yang merasa sudah dekat dan tak akan menjadi bahaya.

“Mba, lagian bisa-bisanya berita sebesar ini kagak tau, herman gue,” timpal Mira.

“Makanya grup kantor itu dibuka, jangan cuma numpukin pesan doang,” geram Ola. “Kan semuanya ada di situ, Mba elah gue mah,” sambungnya sedikit geregetan.

“Hahahah, maaf, ternyata ada di grup ya. Hahah, ketahuan dong saya gak pernah buka grup kantor.” Aletha malu sendiri.

“Ya elah, Mba bisa-bisanya,” tambah Tias menarik sudut bibir ke dalam.

“Eh, Mba udah lihat managernya belum?” tanya Mira.

“Udah sih, barusan.”

“Gimana, ganteng, kan?” tanya Tias.

“Ya-”

“Gantengnya tuh kaya adiknya Pak Luann gak sih?” potong Ola antusias.

“sabi kali, ya?” sahut Tias.

*Sabi=bisa.

“Gimana, Mba ganteng, kan?” tanya Tias pada Aletha.

“Ganteng sih, hahaha.” Aletha malu sampai tertawa dan ditutupi tangannya.

“Ekhem, kayaknya biang gosip nambah personil?” sindir Luann yang ternyata ada di belakang mereka.

Mereka menjadi kaku berjamaah, mata saling melirik satu sama lain dengan alis yang bergerak. Aletha yang memang tak suka pada Luann, hingga menganggap Luann tak ada harga diri di matanya.

"Ekhem, kalau begitu terima kasih infonya, saya lanjut kerja,” ucap Aletha berdiri kemudian berbalik badan.

“Mau ke mana kamu?” tahan Luann yang menahan perutnya.

“Haaaaa?” Pada biang gosip melihat ini sangat jelas, Luann merangkul perut Aletha di hadapan semua staff yang melihat, juga ada beberapa staff yang tak melihat .

“Sudah ngegosipin orang pergi tanpa minta maaf?” Luann berkata lagi.

“Lepasin tangan hinamu,” bisik Aletha penuh penekanan.

“Tapi tangan hina inilah yang berhasil membuatmu meringis kenikmatan,” balas Luann dengan senyuman.

“Diem gak lo, gue gak peduli ini di mana, tapi gue gak bisa nahan tangan gue buat nonjok lo.”

“Silakan kalo kamu bisa,” tantang Luan tak takut.

Aaaargh, Alethaaa tahaaan, lo butuh kerjaan ini buat menyibukkan diri. Jangan  kepancing emosi. Kalo gue dipecat makin susah idup gue,” batin Aletha memejamkan mata dan mengeolkan tangan.

*Menggeolkan = menggoyangkan.

Ia selesai meredakan emosi, Aletha berniat pergi.

“Kamu belum bilang abis ngapain kamu di sini?” tanya Luann menahan perut Aletha lagi.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang