28. Uwuw Di Pesawat

82 0 0
                                        

Pikirannya mengingat sekilas seorang lelaki gagah mengenakannya. Lelaki itu membuka dasi, rompi, kemudian jas. Bayangan itu sekilas-sekilas dan tak begitu jelas.

"Argh," rintihnya menahan sakit di kepala.

Nguuuk, nguuuk, nguuuuk.

Ponsel Aletha sudah bergetar pertanda harus segera berangkat, ia berusaha berjalan ke luar dan tidak mengingat tentang dasi ini.

Sampai di bawah, ia menenangkan diri. 3 menit ia terdiam, kemudian memasang dasi lalu berangkat.

Ngeng, lumayan lama ia sampai di kantor. Berjalan ke dalam gedung dengas tas yang tak begitu besar, isinya hanya ada 1 pasang pajama, beberapa dalaman perempuan, alat mandi, sendal dan 2 pasang pakaian kerja, terdapat juga benda-benda penting lainnya.

Duduk di kursi kemudian memeriksa map mana saja yang akan dibawanya.

9.30 PM.

Tuk, tuk, tuk.

Seseorang masuk ke dalam, itu adalah Hazan dengan paper bag. "Sayang, kamu pasti belum sarapan?"

"Kok tau?"

"Tau dong, aku kan punya indra keenam," sombongnya dengan senyuman.

"Hilih, mana ada, kalo kamu punya indra keenam, kamu akan tau apa yang aku inginkan, aku butuhkan, dan perhatian apa yang harus kamu berikan ke aku, itu baru indra keenam. Satu lagi, harus lebih peka," celoteh Aletha sambil memasukkan berkas ke dalam tas persegi panjang, di dalamnya terdapat laptop dan i-pad juga.

"Kamu udah siap OTW?" alih Hazan, karena ia sudah memastikan akan kalah debat dengan Aletha.

"Yup."

"Jangan lupa makan, mandi, cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, tidur."

"Iya bawel." Aletha mencubit hidungnya.

"Awh, sakit atuh. Kebiasaan nyubit hidung mulu," cicit Hazan manyun.

"Hihi, hidungmu mancung banget, gereget aku," akunya sambil sediki aego.

"Huh." Hazan manyun kemudian.

Aletha menyomot mulutnya.

"Astaga, Sayang," geram Hazan yang tidak bisa berbuat apa-apa, Aletha malah ngengeh saja.

Tuk tuk tuk.

"Aletha, kamu sudah siap?" Luann masuk ke dalam.

"A-sudah, Pak," sahut Aletha yang mendatarkan wajahnya ketika menatap Luann.

"Wajahnya cepet banget berubah, padahal tadi dia senyum indah banget, pas liat Luann dia langsung dingin, apa dia memang tidak ada rasa sama Luann? Itu pasti, kan Aletha cintanya sama aku," batin Hazan yang memperhatikan wajah kekasihnya.

"Ayo berangkat sekarang." Luann jalan terlebih dahulu.

Aletha menolehnya. "Yang aku berangakatnya, kamu jangan godain cewe-cewe kantor, nanti aku nangis batu," peringat Aletha sambil membawa tasnya.

"Hahah, gak bakalan Ayang, apalagi udah diingetin Ayang, aku pasti gak bakalan lupa, dan nurut," sahutnya manis sekali.

Hazan mengambil tas Aletha yang isinya barang pribadi. Sampai di mobil, Aletha masuk di kursi depan. Hazan Kembali mengerjakan pekerjaannya.

Luann duduk bersebelahan dengan Aggie yang jaraknya dekat sekali, nampak seperti pasangan saja, tapi nyatanya keduanya tidak berhubungan sampai sejauh itu, tetapi Aletha yang melihatnya menganggap bahwa keduanya menjalin kasih.

Di perjalanan Aletha tidak sama sekai bertanya, hanya menjawab jika ia ditanya. Sampai di bandara, ia membawa barang bawaannya yang sedikit, berbeda dengan Aggie yang membawa koper besar, Aletha menutup bibir karena ia mentertawakan Aggie yang membawa barang sebanyak itu.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang