Hari-hari dilaluinya dengan penuh penyesalan, ia menginginkan waktu kembali ke masa di mana ia bersama Hazan, lelaki yang telah menunjukkannya cinta. Aletha menginginkan kebersamaan dengannya yang kini telah tenang di sisi-Nya.
Aletha hanya bisa menangis ketika mengingat betapa perhatian dan sayangnya Hazan padanya, perempuan yang telah dinodai atasannya.
Duduk menatap foro berbingkai di atas mejanya, foto tersebut merupakan Hazan dan Aletha yang nampak bahagia sekali. Air matanya jatuh tanpa disadari, sesak dalam dada jika ia sudah menghadirkan rasa sesal dalam dirinya.
“Gak bisa, ini gak bisa dibiarin.” Aletha pergi ke pantri ingin membuat kopi hitam tanpa gula, itu sudah cukup baginya, walau diberi gula hidupnya tetap akan terasa pahit.
Kebetulan ada Luann di jalan menuju pantri. “Hah, dunia ini ssmpit banget, kenapa ada dia di mana-mana sih, geuleuh aing,” batin Aletha terus melangkah.
*Geuleuh aing = jiji gue.
Melintas di sampingnya tanpa menyapa itulah Aletha, kini ia semakin dingin saja pada dunia. Orang yang tengah mengobrol dengannya pun pergi, kini Luann menatapnya dalam.
“Mau ke mana?” tanyanya hangat sambil menahan lengan Aletha.
“Lepasin,” tekan Aletha singkat.
“Jawab dulu, mau ke mana?”
“Pantri ah, gitu aja maksa,” kesalnya sambil menepis dengan kuat.
“Ikut aku.” Luann menariknya paksa.
Kejadian itu terlihat oleh Erhan, ia tersenyum melihat Luann bersama Aletha---karyawati kebanggaannya. “Hah, harus nentuin tanggal pernikahan ini,” batinnya kemudian masuk ke ruangan.
Luann membawa Aletha ke dalam mobil. “Mau ke mana?” tanya Aletha dingin.
“Ke tempat di mana kamu gak bisa merasakan lapar lagi.” Luann tancap gas.
Kali ini Aletha membiarkan kelakuan Luann, ia ingin melihat sampai mana Luann memperlakukan dirinya. Tak butuh waktu lama, mobil sampai di parkiran, Luann keluar dan membuka pintu untuk Aletha.
“Makasih,” ucapnya datar.
Keduanya masuk ke dalam restoran, Aletha mengembangkan senyumnya, ia memang lapar dan sudah lama tak makan enak, biasa di apartement ia makan seadanya atau makanan pesan antar, sekarang ia bisa menikmati makanan walau sebentar.
Luann menarik kursi untuk Aletha duduk. “Gak usah sok manis lo.” Aletha masih belum bisa memaafkan kelakuan Luann beberapa bulan lalu.
“Jangan sewot, santai aja. Kamu akan tau betapa sayangnya aku ke kamu,” bisik Luann semakin tancap gas.
“Gak perlu sok romantis, di dunia ini cowo yang romantis itu Hazan,” tekan Aletha tak ingin Luann manis padanya.
Seorang pelayan datang memberikan menu. “kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Luann dengan senyum manisnya.
“Gak usah panggil sayang.” Suara Aletha masih saja datar.
“Mba, lagi marahan ya? Pasti masnya jemput mba telat, makanya ngedumel kaya gini?” tebak si mba sok asik.
“Telat datang bulan dia, Mba jadi uring-uringan,” timpal Luann tersenyum kecil.
“Lo ngomong dijaga ya, mana ada gue telat bulan.” Mata Aletha hampir copot menatap Luann.
“Aaah, udah nikah toh, lucu banget pasangan ini. Baru nikah ya, Mas?” tanya pelayan pada Luann, karena Aletha nampak tak enak diajak bicara.
“Iya mba, baru nikah, dia manja banget. Kayanya lagi ngidam,” sahut Luann mengada-ngada.
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night (Tamat)
RomanceSeorang perempuan yang kehilangan harta berharganya setelah kehilangan kesadaran. Beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Namun anehnya mimpi itu selalu berkeliaran di benaknya. Entah siapa lelaki yang ada dalam mimpi itu. Tidak ada yang tahu s...
