13. Menodai Mata

72 2 0
                                        

Hai hai hai, bertemu lagi dengan saya author imut.
Jangan lupa vote, komen, dan follownya.
Sankyu.
Yang mau feedback juga boleh, cuma slow respon.
Hehehe.
Selamat membaca.

ㄷㄷㄷㄷㄷ

Di luar ruangan, beberapa karyawan tengah mendekor kantor sebagus dan seindah mungkin, peresmian wakil presdir harus berjalan dengan mulus.

Semuanya ikut andil dalam acara ini, tapi tidak dengan Aletha yang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan Luann juga membantu mereka berserta asisten cantiknya.

Malam ini Luann merasa butuh energi, ia pergi ke pantry untuk membuat kopi.

"Pak, lagi buat apa?" tanya Aggie yang ternyata mengintilinya.

"Kopi, kamu mau, hm?" tawarnya lembut.

"Gak usah, Pak saya buat sendiri saja." Aggie berdiri di sampingnya, meracik kopi sambil menunggu air mendidih dengan sendirinya.

Di sudut lain, Aletha juga membutuhkan amunisi, ia pergi ke pantry untuk membuat teh tawar saja, hidupnya sudah manis ketika menikmati sentuhan itu.

"Pak, kenapa Bapak mau membantu kami mendekor kantor?" tanya Aggie mendekatkan tubuhnya pada Luann.

"Masa saya hanya menerima enaknya saja, kan gak enak?"

"Tapi tidak apa-apa kok, Pak kami bisa menyelesaikannya."

"Tidak bisa, saya harus tetap membantu kalian, agar kalian lebih akrab dan tidak canggung pada saya."

"Tidak canggung?"

"Iya, terkadang kita membutuhkan sentuhan halus untuk saling mengenal," bisik Luann membuat Aggie semakin mendekatkan tubuhnya.

"Sentuhan seperti apa?"

Tangan Luann meraba kepalanya, turun ke pipi, dan semakain ke bawah hingga menancap di pinggul Aggie. Menatapnya kemudian melumat bibir manis milik Aggie.

Tanpa disadari oleh tukang cuanki manapun, Aletha sudah tiba di pantry, ia manyaksikan dan mendengarkan apa yang Luann dan Aggie bicarakan. Lampu di pantry tak begitu terang, hingga sosok Aletha tidak terlihat jelas adanya.

Matanya tidak kunjung mengedip, cenderung membulat hingga airnya membendung di mata. Aletha cegukan, satu air matanya tumpah, mampu membuat Aletha bergerak dan tersadar, ia mengusap kasar pipi, lalu pergi meninggalkan pantry yang menyakitkan.

Ia bersandar di dinding, menutup wajah dengan kedua tangannya, isaknya mulai bereaksi, tak ingin menangis, tapi sakit ini membuatnya sesak hingga air mata dibutuhkan untuk membasahi pipinya.

"Sakit sekali bestie, padahalkan gue bukan siapa-siapanya, jadi wajar kalau dia berciuman dengan cewe lain. Mungkin memang hidup gue begini. Sedih banget asli, bestiiiiiie, kenapa gue begini. Kenapa juga pas dia cium, gue malah diem ajaaaa, harusnya kan gue nolaaaaak. Murahan banget sih gueee. Sekarang dia lagi adu jigong ama cewe laiiiiin, aaaaaaah," raungnya dalam hati.

"Gak bisa dibiarin, gue pokoknya harus kuat dan jangan tergoda lagi, huh, awas lo, gue bakal balas dendam. Lo goda gue duluan, kan? Jadi liat aja." Aletha menghapus air matanya, melangkah kembali ke pantry dengan smirk.

Tuk, tuk, tuk.

"Sial, ternyata dia masih ngadu jigong, tapi sorry ya, gue butuh teh tawar, nih," batinnya tertawa kecil.

Keduanya menghentikan itu, Luann kaget melihat siapa yang datang, tidak dengan Aggie yang puas, ia berasumsi bahwa Aletha melihat adegannya, tapi memang ia melihatnya.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang