40. 2 Kali Makan.

15 1 0
                                        

Luann memperhatikannya sangat kesal, bahkan tisu yang dipegangnya menjadi pelampiasan. Aggie memperhatikan Luann yang menatap ke belakangnya.

Ia pun menoleh ke arah yang ditatap Luann. "Oh, jadi dia ngajak gue ke sini buat ngikutin si Ale. Ngapain sih dia ngikutin si Ale? Mana sekarang dia jadi adik tiri gue lagi, hah?" batin Aggie kesal.

Tangannya menyentuh tangan Luann. "Pak, cobain deh makanannya, enak loh." Aggie menyuapinya dengan senyuman.

Luann yang emosi menerima saja suapan dari Aggie, namun tatapannya masih terpaku pada Aletha.
Aggie merapatkan bibir sambil memikirkan strategi, bagaimana caranya agar Aletha menyadari kehadirannya dengan Luann?

Ting!

Ide muncul di benaknya. "Mba!" panggil Aggie keras di saat suasana restoran hening.

Aletha yang tertawa kecil dengan mulut penuh jadi menoleh ke arah suara itu. "Aggie?" batin Aletha yang melihatnya. "Luann juga ada? Hm, emang dua iblis itu cocok bersama," batin Aletha kesal dengan keduanya.

Bukan kesal karena berdua, melainkan pada sifat keduanya, ia tidak perduli akan hubungan mereka.

"Itu kan Luann sama Aggie?"

"Lo tau?"

"Tau dong, tadi aku di kantor tempat kamu kerja ketemu sama mereka," jelas Alga santai.

"Ah, gitu toh. Lanjut makan, ah." Aletha tak sedikitpun terganggu oleh kehadiran keduanya.

Luann semakin kesal tatkala Aletha tidak memandang ke arahnya, mata Aletha bahkan nampak tak perduli padanya. Aletha santai saja dengan Alga dan merasa tidak terganggu, toh Aletha menganggap Luann dan Aggie adalah pasangan.

Aletha selesai makan, ia pergi ke toilet untuk mencuci mulut dan tangan. "Aduuuh, kenyang bat da aaaah," ucapnya bahagia.

Matanya melihat jarum jam tangan. "Aduh, udah jam segini?" Aletha bergegas keluar.

"Al, lo gak cuci tangan?" tanya Aletha setelah kembali.

"Sudah, kamu ke toilet lama banget. Yuk pulang?"

"Masa?"

"Heem, aku bahkan udah bayar."

"Oh, kalo gitu makasih, ya."

"Gak usah makasih, harusnya aku yang makasih karena kamu mau iyain tawaran aku."

"Haha, kalo ada makan-makan gue pasti dateng kok, jangan aku kamu ah, canggung gue," ingat Aletha sedikit malu.

"Aaah, iya." Mata Alga terpancing pada mulut Aletha yang basah. Ia mengelapnya dengan tisu, membuat Aletha kaku, dan Luann emosi di sebelah sana.

"U-makasih," ucap Aletha kaku.

"Hm." Keduanya keluar dari restoran menuju parkiran.

Luann segera pergi setelah membayar, ia tak ingin kehilangan jejak Aletha.

"Al, makasih banyak traktirannya, ya," kata Aletha saat hendak menyalakan motor.

"Udah dong jangan makasih mulu, jadi gak enak gue."

"Iya dah, hahah." Saat tertawa matanya melihat ke pintu restoran yang juga Luann dan Aggie tengah melangkah bersama.

Hingga keduanya mendekat Aletha baru sadar. "Kalian beneran belom balik?" tanya Aletha sedikit heran.

"Emang kenapa?"  tanya Aggie tak suka.

"Gak ngapa-ngapa sih, lagian gue juga gak keganggu." Aletha menyalakan motor.

"Al, gue balik duluan," pamitnya pada Alga kemudian segera pergi.

"Pak Luann, Mba Aggie, saya duluan," pamitnya dengan senyuman kemudian melaju.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang