49. Hukum Dan Belajar

21 0 0
                                        

Aletha menjauh dengan mata yang mulai berair. "Kenapa kamu mundur, gak mau nerima hukuman, hm?" Kini Luann sudah berada di atas kasur.

"Gue gak salah, kenapa lo hukum gue?!" Aletha tak terima.

"Heuh, dengan bawa cowo ke sini apa itu bukan pelanggaran?"

"Dia ke sini bawain gue obat, dia cuma khawatir sama gue yang lagi sakit, gak ada hubungannya sama hukuman tai lo itu!"

"Heuh, termasuk dapat perhatian dari laki-laki lain juga adalah pelanggaran. Sekarang lo harus terima hukuman lo." Luann mencengkram lengan Aletha yang sudah terpojok di hulu kasur.

"Gak, lepasin gue!" jerit Aletha geram.

"Berani lo?" Luann tersenyum jahat.

"Sampai kapan pun gue gak bakal maafin lo, inget itu," tekan Aletha menunjuk hidung Luann.

"Oh, Nonaku yang cantik, jangan bilang begitu, nanti aku semakin tertarik pada tubuhmu yang indah." Luann mulai melepas kancing kemeja Aletha.

"Pergi gak lo?!" Aletha menahan tangan Luann.

"Uuuuh, Nona kecilku tak mengerti kesalahanmu rupanya?" Wajah Luann meledeknya.

"Pergi, gue gak mau liat muka lo!"

"Terus aja gitu, gak papa kok." Luann santai saja.

Aletha melihat peluang untuk menendangnya, tanpa sia-sia ia pun memakai kesempatan itu.

Deuak!

Luann terpental hanya beberapa jengkal saja, Aletha masih lemah akan tekanan yang diberikan Luann.

"Oh, lo berani?"

Luann melepas celana panjang dan menyisakan boksernya saja. Nampak di wajahnya ingin segera memangsa Aletha.

Membuatnya terlentang sangat mudah bagi Luann, duduk di atas paha perempuan ini terasa sangat nyaman baginya.

"Lepasin gue!" jerit Aletha yang tangannya sudah merentang dengan Luann di atasnya.

"Gak bisa sayang, aku terlalu sayang jika membiarkanmu melewatkan hukuman," bisik Luann dengan wajah menggoda, ia mulai mencium pipi hingga telinga.

"Bangsat! Lo emang bukan manusia, Luann!" umpat Aletha meronta-ronta.

Ezra melotot di luar mendengar jeritan demi jerita dari mulut Aletha.

"Kamu mau kaya dia?" tawar Arka sedikit kesal, karena ternyata kekasihnya berteman bahkan mabuk bersama dengan lelaki lain.

"Jangan pernah lo sentuh gue," tekan Ezra tegas.

"Heuh, lo pikir gue selemah itu, hah? Setelah apa yang lo lakuin ke gue apa gue bakal diam saja?" Arka mendekati Ezra dengan wajah haus membunuh.

"Lo mau apa?!" Ezra menaikan suaranya sambil mundur.

"Gue cuma mau lo ngerti, betapa sayangnya gue ke lo, tapi lo malah gak jaga batasan. Ya, emang selama ini gue gak pernah ngatur lo, tapi setidaknya otak dipake." Arka membawanya ke kamar lain.

"Gak, lo mau ngapain bangsat!" Ezra meronta-ronta.

Brugh!

Arka melemparnya ke kasur. "Lo udah sia-siain kasih sayang gue selama ini, lo harus dikasih pelajaran," tekan Arka geram.

"Gak butuh, otak gue udah bengkak belajar mulu," sahut Ezra masih bisa santai.

"Pelajaran ini penting buat hidup lo." Arka naik ke atas kasur.

"Mau ngapain lo?" tanya Ezra ketar-ketir sampai mengulurkan kedua tangan membuat jarak antar keduanya.

"Gak bakal sakit kok, gue cuma mau ngasih lo sesuatu yang spesial."

"Gak, pergi lo sekarang," pinta Ezra masih membuat jarak.

"Gak bisa sayang, gue udah terlanjur sayang sama cewe sialan kaya lo."

"Apa? Lo ngatain gue cewe sialan? Bisa-bisanya lo ngomong kek gitu? Udah gak mau jadi pacar gue, hah? Ya udah putus aja, apa susahnya sih?"

"Oh, jadi lo mau putus, apa lo udah nyaman sama dia?" bisik Arka yang berhasil menghilangkan jarak keduanya.

"Dia siapa lagi, Anjing?!"

"Alga, dia udah ngasih apa ke lo?"

"Alga apa sih? Dia kan cuma kebetulan ngasih obat sama Aletha yang katanya sakit kepala. Lo jangan salah paham apa? Otak dipake otak." Ezra terlihat geram sekali.

"Hem, jadi lo beneran mau putus?" bisik Arka tenang.

"Ya, gue mau putus, pergi lo sekarang, lo udah gak ada hak buat deket sama gue," jelas Ezra merasa menang.

"Okay kalo lo mau putus, gue terima," bisik Arka semakin dekat ke telinga.

Bibir tipis itu menyentuh daun telinga Ezra yang pada dasarnya tidak pernah menerima perlakuan ini.

Bulu kuduknya seketika bergidik kaget hingga berdiri sambil gemetar. "Ah, apa-apaan sih lo? Awas!" Ezra mendorongnya.

"Katanya mau putus, gue udah iyain, kan? Tapi lo akan gue kasih pengalaman yang tak akan terlupakan." Arka membuka jas dan resletingnya.

"Mau apa lo?!" Ezra kaget dengan suara resleting.

"Tenang, gak bakalan sakit, kok." Arka melumat bibir Ezra dengan kedua tangan menancap di leher perempuan kecil ini.

"Empppp, lepas mmmmp!" raung Ezra yang terhalang bibir.

Trak!

Dengan lengan kekarnya Arka menarik kemeja Ezra hingga semua kancingnya berhamburan.

"Arka, lo mau ngapain, Goblok!?" Ezra sudah sangat panik.

"Heuh, lo pikir selama ini gue tahan sama tubuh indah lo? Gak, gue gak seculun yang lo pikir. Bahkan gue bisa lebih kasar dari pada Luann," bisik Arka kemudian melumat Ezra lagi.

"Empp, kagak mau gue!" Ezra masih bisa mendorong.

Merasa muak dan bertele-tele Arka merentangkan tangan Ezra dan menindihnya hingga ia bebas menikmati leher dan bagian tubuh lainnya.

"Arka, gue benci sama lo!" teriak Ezra sia-sia saat Arka menciumi leher dan dadanya.

Arka terlihat sangat menikmati jeritan dan dada indah Ezra tanpa merasa terganggu.

"Hiks, gue mohon jangan lakukan ini, gue gak suka, hiks." Terdengar isakan Ezra yang menyedihkan.

Arka saat ini tengah ditinggalkan oleh malaikatnya, kini iblis yang tengah merasuki raganya. Ia benar-benar berbeda dari biasanya.

Arka sama sekali tidak iba bahkan sempat menyeka air mata perempuan yang dicintainya, kemudian kembali menikmati setiap inci bagian tubuh Ezra.

Sudah tak kuat menahan hasrat ingin bercinta, Arka benar-benar melakukannya dengan paksa, jeritan Ezra terdengar menyakitkan.

Perempuan barbar ini semakin menjerit kesakitan, menangis meratapi dirinya yang malang, kekasih yang selama ini dibanggakannya kini telah menjadi manusia yang sangat dibencinya.

Ezra menangis dalam dekapan Arka yang sudah melemah dengan tubuhnya yang tak tegang lagi.

"Hah, hah, hah, jangan nangis, pelajarannya sudah selesai," bisik Arka sambil memeluk Ezra yang menangis.

"Laki-laki biadab lo." Bahkan untuk menjerit pun ia sudah tak memiliki tenaga, hanya bisa menangis dan menerima dirinya yang sudah tak memiliki kehormatan.

7 PM.

Alga terbangun dari tidurnya. "Argh, di mana ini?" Ia mengedarkan pandangan.

"Ah, masih di rumah Ale ternyata. Sudah jam 7 mereka ke mana ya, sepi banget?" Alga kebingungan, ditambah melihat rumah berantakan.

"Argh, kepalaku sakit, besok saja aku temui mereka lagi, heuh, sungguh teman yang asik," ucap Alga tersenyum lucu mengingat tingkah barbar keduanya.

***

Bersembengggg ....

Gereget anjir part ini.

Hatiku menjerit, aaaaaaaakh!!!!!

1006 words.

Riyadh, 30 Jul 2024.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang