42. Sudah Pasrah

21 0 0
                                        

Cahaya matahari masuk menghangatkan tubuh Aletha yang tak mengenakan sehelai benang pun hanya tertutup selimut dari dada ke bawah. 

Luann juga masih tertidur dengan dada yang terbuka, tubuhnya memeluk Aletha yang kecil. Matanya silau karena matahari, ia pun bangkit menutup gorden dan kembali tidur di samping perempuannya. 

Matanya menatap lekat wajah yang lembab itu, semalaman Aletha menangis hingga tertidur, dan semalam pula Luann memeluk tanpa melepaskannya. 

"Apa bener Alga gak ke sini?" batin Luann. Ia mulai berpikir jernih, hingga ia sadar bahwa cemburunya mulai menggila.

"Maafkan aku yang telah berbuat kasar padamu, tapi kamu harus tahu bahwa aku sangat tidak rela perempuanku disentuh lelaki manapun," ucap Luaan lembut di samping telinga Aletha.

Tak lama Aletha terbangun, mata terbuka dan mendapati Luann tengah memandangnya dengan senyuman.
Aletha melotot melihat Luann masih memeluknya, ia bangun dengan mata kembali berair. "Lo jahat, lo bukan manusia, kenapa lo giniin gue berkali-kali? Apa lo gak sadar dengan dosa yang lo perbuat, hah?" Suara Aletha serak dan gemetar. 

"Ya, gue emang prenah lakuin ini ke beberapa cewe, tapi tenang saja, lo akan menjadi satu-satunya perempuan yang spesial bagi gue." Senyum Luann terlukis manis di kornea mata Aletha.

Perlahan Luann hendak mengecupnya, namun tertahan oleh ucapan Aletha.

"Jangan sentuh wanita kotor dan hina kaya gue," ucapnya menghina diri sendiri.

"Oh, dear, please dont say that, your are mine. Jangan menghina diri kamu sendiri." 

"Heuh, gue emang pantas digininn, toh lo juga gak ngehargain gue. Sekarang lo pergi sebelum gue bunuh lo," ancam Aletha dengan air mata yang sudah mengalir ke pipi. 

"Aduh sayang, jangan gitu, nanti bayi kita gimana?" Tangan kekarnya menyentuh perut Aletha.

"Kalaupun gue hidup sama bayi ini, gue bakal bunuh dia dan gue gak mau ngandung anak haram dari lo," tekan Aletha tak bisa membiarkan ini terjadi. 

"Sayang, jangan gitu, ini bayi aku, aku sayang sama dia," rengek Luann manja sambil mengelus perut Aletha. 

"Singkirin tangan kotor lo," titah Aletha tegas. 

"Kenapa, di sini kan ada bayi kita." Wajah Luann menjadi manja. 

"Jiji gue lihat lo." Aletha berjalan sambil menyeret selimut bersamanya ke luar, dan Luann ternyata ia mengenakan kolor.
Aletha membuka kamar, ia melangkah dengan hampa, tubuhnya terasa ringan diiringi tangis. 

Ezra baru terbangun dari tidurnya, melihat Aletha keluar seperti itu membuatnya menangis. "Al, lo diapain sama si anak dajal itu?" tanya Ezra khawatir. 

"Gue udah gak punya apa-apa, Ra. Semuanya sudah hilang," lirihnya menunduk. 

"Dia, jadi dia lakuin itu lagi ke lo? Bener-bener si anjing." Ezra tak kuasa menahan emosinya. Ia berjalan ke kamar. 

Diambilnya vas bunga yang ada di atas meja dekat pintu. "Cowo bangsat, sini lo. Kenapa lo sejahat itu sama sahabat gue, anjing?" Ezra menodongkan vas itu ke wajah Luann. 

"Tenang saja, dalam waktu dekat ini gue bakalan nikahin dia," ucapnya enteng. 

"Eh, masalah nikah gak gampang seperti lo ngencrit dia. Lo tuh jahat tau gak?" Ezra geregetan sekali. 

"Hah, suatu saat kalo Arka tau lo dideketin cowo lain, lo juga bakal ngalamin hal yang sama." 

"Hah, kenapa cowo kaya gitu sih, heran gue!" ucapnya frustasi.

Crang! 

Ia melempar vas itu ke wajah Luann yang segera menepisnya hingga jatuh ke lantai, kemudian dengan santai Ezra kembali ke luar memeluk Aletha yang ngalumuk di lantai bagaikan kesedan. 

"Al, lo yang sabar ya, mungkin lo ditakdirkan sama cowo psikopat," ucap Ezra pelan. 

"Ra, kenapa sih gue harus dipertemukan sama dia? Gue gak bisa terima semua yang sudah dia lakuin ke gue. Ra, lo tau gak-" 

"Kagak," sela Ezra cepat. 

"Kan gue belum selesai ngomong, njir" ucap Aletha lemah. 

"Ya sudah ngomong." 

"Kagak jadi ah, gak napsu makan gue." 

"Uwe!" Aletha berlari ke sink di dapur, ia muntah-muntah.

"Uwe! Uwe!"
"Aaaargh, perut gue mual banget, uwe!" 

"Aduh, aduh, makanya lo pake baju dong, masuk angin kan." Ezra khawatir, sambil memijit tengkuk Aletha. 

"Aduh, malem kayanya AC-nya kegedean, deh," kata Aletha yang berhenti muntah. 

"kenapa gak lo matiin atuh?" 

"Gimana gue mau matiin, si Najis meluk gue erat," ujar Aletha kesal.

"Tunggu bentar, gue ambilin baju buat lo." Ezra mengambil baju di kamarnya. 

"Woy, Luann Bangsat, ngapain lo masih di mari. Ale noh muntah-muntah gegara lo, Tolol!" umpatnya sambil mencarikan baju untuk Aletha. 

"Hah, dia muntah-muntah?!" Luann loncat dari kasur dan segera lari ke dapur. 

"Al, kamu kenapa?" Luann terlihat khawatir. 

"Gak usah nanya gue, jijik gue sama lo," cetus Aletha masih berusaha mengeluarkan isi perutnya. 

"Al, gue khawatir." 

"Singkirin tangan lo," titah Aletha dingin, membuat Luann menarik tangannya.  

"Al, pake baju, nih," titah Ezra yang telah kembali membawakan baju. 

Luann membantu memakaikan baju untuknya, seketika Aletha amnesia bahwa ia sudah besar. 

"Al, lo emang masih bayi ya, pake baju aja dibantuin?" ujar Ezra baru sadar. 

"Ha?" Aletha menatap Ezra. 

"Udah, gue udah liat semuanya," kata Ezra santai. 

"Hah, stres gue, Ra." Aletha melangkah ke ruang tengah dan duduk di sana. 

"Lo gak lapar?" tanya Ezra. 

"Lapar, jam berapa sih ini?" tanya balik Aletha. 

Ezra menoleh jam dinding. "Aduh, pantasan lapar, jam 11, gila." Ezra berjalan ke dapur. "Gue masak dulu, lo diem-diem situ," sambungnya. 

Dilihatnya Luann tengah memasak. "Lo ngapain?" tanya Ezra heran. 

"Masak, kalian pasti lapar." 

"Emang lo bisa masak?" 

"Gue chef-nya pas kuliah, bahkan cowo lo doyan masakan gue," sombongnya sambil fokus memasak. 

"Alah, sombong lo. Ya sudah, kalau gitu gue nonton, deh." Ezra balik ke ruang tengah. 

"Kok lo balik lagi?" 

"Si Najis lagi masak." 

"Belom balik juga dia?" Aletha tersadar bahwa si anak dajal itu masih ada di rumah. 

"Emang lo lihat si Luann lewat  di mari, kagak kan?" 

"Iya, sih." Aletha nampak tak perduli. 

"Makanan siaaaap." Luann dengan senangnya membawakan masakannya ke ruang tengah. "Ra ambil piring sama sendok," titahnya. 

"Lah?" Tapi Ezra tetap menurut. 

Ketiganya makan dengan Aletha yang sudah biasa dengan penderitaan hidup, walau ia merasa menyesal akan takdir.

Bersambung ...

Bagaimana part ini? komen ya.

sankyu

935 words

Riyadh (KSA), 11 Jul 2024

Waaah, ternyata hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunku ya, mueheheh.

That Night (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang