Hallo, Prend!
Gimana Hari Minggunya? Aman?
Ada yang nunggu aku update ngga sih? 🥺
Sebelum baca, jangan lupa FOLLOW, VOTE, & KOMEN, ya!
•••
"Kalau ditanya apa yang paling menyenangkan dalam hidup, mungkin jawabannya adalah saat kamu menganggap bahwa jadi dewasa itu enak."
🥑🥑🥑
Tiga hari setelah siuman, Raya diperbolehkan pulang. Ia disambut hangat oleh semua orang, terutama Malika dan ibunya. Berkat bantuan Raya, mereka bisa kembali hidup normal dan jualan di warung seperti biasa. Sejak hari itu, Malika dan Raya resmi menjadi sahabat.
Mengenai cerita Raya di dunia ghaib. Semua orang bereaksi sama: kaget. Terutama Dokter Cakra dan Gio, kedua laki-laki itu menjadi jauh lebih posesif terhadap Raya. Seperti saat akan pulang sekolah ini contohnya.
"Pokoknya Aya harus langsung pulang!" Gio bersikeras seraya menatap tajam ke arah Dokter Cakra.
"Nggak bisa. Saya udah janji mau ngajak dia jalan hari ini. Saya juga udah izin sama Pak Gilang dan Bu Rose." Dokter Cakra pun tak mau kalah.
"Nggak bisa gitu, dong! Aya udah capek karena aktivitas seharian ini, masa mau diajak jalan? Dokter nggak pengertian banget, sih. Pokoknya, Aya harus pulang!"
"Saya nggak mungkin biarin Raya kecapekan. Lagian kami nggak akan jalan kaki, tapi naik mobil! Kalau perlu, saya sewa kursi roda di rumah sakit nanti."
"Tapi tetap aja, nggak bisa!"
"Bisa!"
"Ng---"
"STOP!" Raya melayangkan tatapan tajam ke arah dua lelaki di hadapannya. Gadis itu menatap Nadia dan Aletta sejenak. "Aku mau shopping bareng Nadia dan Aletta."
"Loh, Ay---"
"Nggak bisa gitu---"
"DIAM!" Alis Raya menukik tajam. Tatapannya menusuk secara bergilir ke arah Gio dan Dokter Cakra. Gadis itu mendengkus keras, lalu mengajak Nadia dan Aletta melancarkan rencana shopping mereka yang sempat tertunda.
🥑🥑🥑
Seorang laki-laki dalam balutan hoodie abu-abu muda menatap pria berkemeja hitam di samping kirinya. Mereka saling adu bola mata, lalu sama-sama menghela napas berat. Pandangan keduanya kompak mengarah ke depan, di mana ada penampakan tiga orang perempuan yang tampak heboh. Ya. Kedua laki-laki itu adalah Gio dan Dokter Cakra. Dengan sangat terpaksa, mereka harus ikut ke mal demi menemani ciwi-ciwi berbelanja.
"Bagus yang coklat, cocok dipakai Raya," ucap Aletta.
Nadia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu, tanda berpikir. "Hmmm ... menurut gue lebih cocok yang kuning ini. Warnanya kunyit, cakep kalau dipakai."
"Tapi gue lebih suka warna lilac," kata Raya sambil menatap baju yang ia maksud.
"YA TERUS NGAPAIN LO NANYA KITA?!" kesal Nadia dan Aletta kompak. Kalau memang sudah menentukan pilihan, untuk apa minta pendapat orang lain 'kan?
"Ih! Kan gue cuma nanya!" sungut Raya tak ingin kalah. Gadis itu melangkah ke arah Gio dan Dokter Cakra, membuat kedua laki-laki itu saling melempar tatapan was-was.
"Yo, menurut lo bagus yang warna apa?" Raya menunjukkan tiga buah baju yang memenuhi kedua tangannya.
Gio berdecak pelan. Tiga baju yang dibawa Raya itu bentuknya sama. Hanya beda di warna. Mengapa pula adiknya itu tidak membeli warna lilac seperti kemarin-kemarin saja?
KAMU SEDANG MEMBACA
RALILAC
Horror"Ada yang bisa bikin kamu pergi dari aku nggak?" "Ada." "Apa?" "Kalau bola mataku ketemu." *** Ini kisah 'sederhana' antara Raya dan teman tak kasat matanya, Lilac. Si setan gemoy yang selalu ada di setiap momen dalam hidup Raya, meski Lilac sendiri...
