Ke sana yang Rose maksud adalah kediaman keluarga Bimantara. Saat ini, Gio, Gilang, Rose, Raya, Dokter Cakra, Mita, Rama, Andra dan Genta sedang berkumpul di kamar tamu.
Lebih tepatnya, di hadapan seorang wanita tua yang tangan dan kakinya sedang diikat. Dia adalah Tante Ga.
Wanita itu berhasil ditangkap oleh salah satu pasukan yang Om Genta kerahkan. Sekarang, tinggal satu langkah lagi.
"Dimana atasan Anda berada?" Pertanyaan bernada ketus itu meluncur dari bibir Mita. Melihat tampang wanita tua itu yang seolah tak merasa bersalah membuat Mita sungguh muak.
Alih-alih menjawab, Tante Ga malah tertawa sambil menatap Mita remeh. "Kalian semua orang-orang bodoh. Tidak akan mudah menemukan Nyai Beta! Menyerah saja!"
"Oh, jadi namanya Nyai Beta?" Rose mengitrupsi.
Sadar akan kecerobohannya, mata Tante Ga terbelalak. Wanita itu mengumpat dalam hati.
"Tante kenapa lakuin semua ini?"
Mendengar suara orang yang sangat dikenal, Tante Ga menoleh. "Bodoh kamu, Andra. Kamu itu dimanfaatkan sama mereka semua. Mereka udah bikin adik kamu menderita!"
"Afta menderita karena kelakuannya sendiri, Tan!" Andra mulai tersulut emosi. Sejak ia mengetahui bahwa adiknya tidak normal, Andra merasa begitu terpukul. "Dia suka sesama jenis! Tante tau?!"
"YA TERUS KENAPA?!"
Reaksi Tante Ga membuat semua orang di dalam ruangan itu terperangah. Mereka pikir Tante Ga belum tau tentang informasi yang baru Andra sampaikan tadi.
"Sejak kecil kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Andra," lanjut Tante Ga. "Sedangkan Afta? Dia seperti tidak terlihat. Kamu dan orang tuamu yang bodoh mengabaikan Afta! Coba kamu pikir, kenapa Afta bisa sedemikian menyedihkan? Itu semua salah kamu! Terus kenapa kalau Afta sekarang suka sesama jenis? Dia berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri!"
"Tapi itu nggak normal, Tante!"
"PERSETAN!"
Keributan terus terjadi. Semuanya berusaha mengulik informasi dari Tante Ga tentang keberadaan Nyai Beta.
Di sisi lain, Raya yang tenaganya sudah terkuras habis merasa sangat lemas. Kepalanya pening sejak tadi. Raya butuh istirahat. Tapi, semua orang sedang fokus pada Tante Ga.
Dokter Cakra yang sejak tadi merangkul pinggang gadisnya, menoleh ke arah Raya. Dapat ia lihat wajah Raya yang tampak pucat. "Mau istirahat aja?"
Raya menoleh ke arah Dokter Cakra. Belum sempat menjawab, pandangannya seketika berubah gelap.
Raya pingsan.
🥑🥑🥑
Menyandera Afta dan Tante Ga tidak menghasilkan apapun. Kalau sudah begini, satu-satunya cara melawannya adalah dengan menggunakan bahan yang sama dengan yang musuh gunakan.
Ya, dukun.
Sisa malam itu mereka gunakan untuk istirahat. Raya baru siuman selang satu jam sejak gadis itu pingsan. Kemudian, Raya lanjut tidur ditemani Rose.
Keesokan harinya, Mita dan Rama yang memang malam itu menginap di kediaman Bimantara sudah berkumpul kembali bersama Gilang, Rose, dan Andra.
Raya yang masih tertidur ditemani Dokter Cakra. Pintu kamar Raya dibiarkan terbuka atas perintah dari Gilang.
Belum lama sejak Dokter Cakra mengamati wajah gadisnya yang tampak cantik saat tertidur, gadis itu perlahan membuka mata. "Hai, udah bangun?"
Raya yang masih mengumpulkan kesadaran bergerak mengusak matanya. Gadis itu menoleh ke segala arah. Tidak ada siapapun selain dirinya dan Dokter Cakra di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
RALILAC
Horror"Ada yang bisa bikin kamu pergi dari aku nggak?" "Ada." "Apa?" "Kalau bola mataku ketemu." *** Ini kisah 'sederhana' antara Raya dan teman tak kasat matanya, Lilac. Si setan gemoy yang selalu ada di setiap momen dalam hidup Raya, meski Lilac sendiri...
