Baca pelan-pelan ya, Prend!
Biar dapat feel-nya ☺️
❗Jangan lupa VOTE & KOMEN
•••
"Tidak ada yang abadi, kecuali dampak dari sebuah tragedi."
🥑🥑🥑
"AAA!" Teriakan Raya seketika menggema di ruangan sunyi itu. Dengan tatapan yang tak beralih pada wajah pucat di atas brankar itu, Raya melangkah lebih dekat pada Gilang.
"Pa, itu siapa, Pa?" Raya menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Gilang, meminta penjelasan. Sungguh. Raya sangat berharap indra pengelihatannya salah menangkap objek kali ini.
"Papa, jawab!"
Sementara itu, Gio yang sejak tadi bungkam, dengan perlahan melangkahkan kakinya menuju raga seorang balita yang sangat ia kenali tengah terbujur kaku. Manik mata Gio menatap lekat ke arah wajah pucat itu, memastikan bahwa indra pengelihatannya tidak salah---tidak-tidak!---memastikan bahwa kali ini indra pengelihatannya salah menangkap objek. Gio mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi gembul yang kini terasa begitu dingin. Remaja laki-laki itu menggeleng kuat. Gio menoleh cepat ke arah sang ayah.
"Ini nggak bener kan, Pa?" Gio tertawa sumbang di ujung kalimat. "Papa, jawab! Please!" Laki-laki mengerang frustasi.
Embusan nafas berat menguar dari saluran pernapasan Gilang. Pria paruh baya itu menatap nanar putra sulungnya. "Maaf. Papa gagal jaga adik kalian."
Mendengar itu, Raya membungkam mulutnya semakin rapat. Cairan bening mengaliri pipinya bak sumber mata air di pegunungan. Tanpa suara, Raya melangkah mundur, ia berlari keluar sambil terisak hebat.
"AY!" Gio yang menyadari kepergian Raya pun bergegas menyusul kembarannya itu.
🥑🥑🥑
"Ma! Mama harus ikut aku! Tadi Papa nunjukin mayat anak kecil ke aku sama Gio. Papa udah sembarangan, Ma! Mama harus marahin Papa! Ayo, Ma! Ayo ikut Raya sekarang!"
Tiba di ruang UGD, Raya kembali menghampiri Rose. Gadis itu meracau sambil menarik-narik pergelangan tangan mamanya. Raya berucap seakan Gilang telah melakukan kesalahan besar hingga harus mendapat hukuman.
Rose tak sanggup melihat putrinya terpukul seperti ini. Ibu tiga anak itu bergerak memeluk Raya erat.
"Kok malah peluk-pelukan, sih, Ma?" protes Raya. Tatapannya beralih pada pintu masuk, di mana ada Gio dan Gilang datang dari sana. "Tuh, Ma! Itu Papa! Mama harus marahin Papa karena udah sembarangan bikin pernyataan kalau Dara meninggal. Ayo, Ma! Marahin Papa! Ma! Please ... hiks!"
Air mata Rose mengalir semakin deras. Wanita itu beranjak, memeluk putrinya yang tampak begitu terpukul. Keduanya saling mendekap erat untuk waktu yang cukup lama.
Tuhan, kenapa aku harus merasakannya lagi?
Tiga detik setelah menjerit dalam hati, tiba-tiba Raya merasakan semuanya menggelap.
🥑🥑🥑
Hal pertama yang Raya rasakan sebelum membuka mata adalah usapan lembut di punggung tangan kirinya. Aroma vanila yang menyeruak ke indra penciuman membuat Raya tersadar bahwa ia sedang ada di kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RALILAC
Horror"Ada yang bisa bikin kamu pergi dari aku nggak?" "Ada." "Apa?" "Kalau bola mataku ketemu." *** Ini kisah 'sederhana' antara Raya dan teman tak kasat matanya, Lilac. Si setan gemoy yang selalu ada di setiap momen dalam hidup Raya, meski Lilac sendiri...
