Tujuh tahun kemudian.
Ada pepatah berbahasa Inggris yang mengatakan bahwa people come and go. Itu sepenuhnya benar.
Raya merasakan sendiri buktinya. Setelah ritual penyembuhan Aletta tujuh tahun lalu, dia harus kehilangan sahabatnya.
Nadia.
Iya, Nadia. Kabar terakhir yang Raya dengar, Nadia memutuskan untuk pindah ke luar negeri setelah putus hubungan dengan Akmal. Raya sempat berusaha menemui Nadia dengan datang ke rumahnya, tapi hasilnya nihil.
Hanya selembar surat yang Raya terima, berisi ucapan selamat tinggal, terima kasih, dan permintaan maaf. Tidak ada penjelasan mengapa Nadia pergi begitu saja.
Nadia seperti buih yang tiba-tiba menghilang dari hidup Raya. Tanpa jejak.
Di sisi lain, Raya juga harus kehilangan Lilac. Sebab sosok itu menjadi jaminan atas kesembuhan Aletta.
Begitu Raya lulus sekolah, Dokter Cakra langsung mengatur acara pernikahan mereka. Selang 5 bulan, Raya positif hamil.
Rencana menunda kehamilan sampai Raya benar-benar dewasa ternyata tidak semudah itu. Tapi, jika Raya bisa melihat ke masa depan, tepatnya tujuh tahun mendatang, dia tidak akan menyesal dengan sesuatu tak terduga yang terjadi di masa lalu.
"Mama, semalam Aina ajak aku ke rumahnya!"
Waktu menunjukkan pukul 5.45 saat seorang bocah berambut panjang dengan piyama hello kitty menghampiri Raya yang sedang sibuk memasak di dapur.
Raya menoleh. Mendapati anak sulungnya yang melangkah kemari. "Kamu kok udah bangun, sih, Kak? Weekend, lho, ini. Kesempatan bangun siang."
Dia adalah Clara. Anak sulung Dokter Cakra dan Raya yang kini berusia 6 tahun. Anak yang sebelumnya membuat Raya sedih karena kehadirannya yang dirasa tidak tepat waktu.
Bukan tanpa alasan Raya berujar demikian. Satu tahun terakhir ini, Clara sering susah tidur. Lebih tepatnya, sejak pengelihatan gadis itu semakin jelas.
Iya. Clara mewarisi kelebihan ibunya. Dia bisa melihat dan berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Salah satunya yang kini dia ceritakan kepada Raya. Sosok yang menemani Clara sejak umur 3 tahun.
"Aku nggak bisa tidur lagi, Mama. Lagian, kemarin Papa bilang kita hari ini mau ke rumah Om Gio, kan?"
"Iya, sih. Hari ini ulang tahun Aluna." Aluna, anak sematawayang Gio dan Aletta yang baru genap berumur 2 tahun.
"Hm. Mama masak apa? Sini aku bantu."
"Tolong kupas timun sama potong sayur ini aja, Kak. Makasih ya, Sayang."
"Sama-sama, Mama cantik."
Keduanya tertawa kecil. Kemudian, sisa pagi itu dilanjut dengan cerita Clara tentang perjalanannya bersama Aina semalam.
🥑🥑🥑
Kemeriahan pesta ulang tahun Aluna yang dibalut nuansa pink dan kuning membuat suasana terasa hangat. Bukan hanya Aluna, tapi kebahagiaan juga dirasakan oleh teman-teman, terlebih keluarganya.
Rose yang semula hendak melangkah kembali ke tempat duduknya usai mengambil es buah mendadak mengurungkan niat saat melihat pemandangan yang begitu menarik di hadapannya.
Di sudut kiri, ada Dokter Cakra dan Raya yang tampak berpelukan mesra. Keduanya tampak memperhatikan keseruan acara ulang tahun Aluna.
Di sudut kanan, terlihat Clara dan teman-teman sebaya juga senasib yang sibuk life update tentang dunia ghaib. Teman-teman yang dimaksud di sini adalah anak-anak Mita dan Rama.
KAMU SEDANG MEMBACA
RALILAC
Terror"Ada yang bisa bikin kamu pergi dari aku nggak?" "Ada." "Apa?" "Kalau bola mataku ketemu." *** Ini kisah 'sederhana' antara Raya dan teman tak kasat matanya, Lilac. Si setan gemoy yang selalu ada di setiap momen dalam hidup Raya, meski Lilac sendiri...
